
"Sarapan dulu Sayang, ini aku sudah siapin roti buat kamu." Suara Laras menyambut Joddy yang sudah bersiap berangkat ke kantor. Joddy hanya melirik sekilas pada sekerat roti yang terhidang di atas meja makan tanpa minat untuk memakanny sama sekali.
"Bu, Yah. Joddy berangkat. " Joddy sengaja mengabaikan Laras yang berdiri tak jauh darinya.
"Makan dulu, itu Laras sudah bikinin kamu sarapan." Jihan memperingatkan. Mereka memang sengaja menginap di apartemen Joddy karena memang sudah sangat malam untuk mereka pulang.
"Buru-buru, Bu." Joddy memutuskan untuk segera keluar dari apartemen. Dia benar-benar tidak mau jika orangtuanya mengajak Joddy melanjutkan obrolan tentang semalam, pikirannya sedang kacau dia tidak mau mood untuk bekerjanya harus terganggu.
"Joddy, tunggu!" Laras menghadang Joddy di depan pintu.
"Minggir, gue mau lewat!" Joddy menatap kesal ke arah wanita cantik di depannya. Laras tak bergeming.
"Jod, bisa enggak sih kamu terima saja keadaan ini, kamu terima kalau anak ini memang anak kamu?"
Joddy menatap lurus ke arah Laras. "Gak bisa, karena gue gak pernah nyentuh lo, jadi itu bukan anak gue. "
Tangan Laras mengepal saat mendengar apa yang Joddy katakan. "Kamu bisa bilang gitu karena kamu mabuk dan tidak ingat apa-apa!"
Joddy tersenyum sinis. "Gue gak tahu apa tujuan lo melakukan ini, tapi ingat, jangan pernah bermimpi gue akan nikahin lo!"
Laras menatap Joddy tajam." Kamu akan tetap menikahiku Joddy, ini anak kamu dan orangtua kita percaya itu."
"Tenang saja, gue akan buktikan, kalau gue gak pernah melakukan apapun ke lo dan itu bukan anak gue." Joddy berkata dengan tenang walaupun sebenarnya dia menahan untuk tidak emosi.
"Bukti?Kamu tidak lupa kan seminggu lagi kita akan menikah?Tidak akan ada bukti yang bisa kamu dapatkan dalam waktu seminggu, Joddy. " Laras tersenyum meremehkan. Dia yakin tidak akan pernah ada bukti untuk membatalkan pernikahan mereka.
Joddy tersenyum sinis lalu menatap Laras dengan tatapan elangnya. "Asal lo tahu, waktu seminggu itu terlalu banyak untuk mendapatkan bukti. Persiapin diri lo aja buat ngasih jawaban ketika ditanya anak siapa yang ada di perut lo!"
Laras mengeratkan rahangnya dia tak menyangka Joddy akan berubah menjadi sosok yang dingin padanya. "Kenapa sih Joddy apa hebatnya perempuan itu? Dia janda Joddy. Kamu tahu kan stigma buruk seorang janda di mata semua orang?"
"Masa bodoh dengan pandangan orang! Buat gue Kana adalah wanita terhormat dia bisa menjaga dirinya."
__ADS_1
"Kalau dia bisa menjaga diri kenapa dia bisa hamil di luar nikah?" Laras tersenyum sinis lalu bersedekap.
"Kita tahu kenapa itu terjadi. Jadi, minggir! Gue mau berjuang buat wanita yang harus gue nikahin!" Joddy mendorong tubuh Laras ke samping agar tidak menghalangi jalannya.
"Aku akan beri pelajaran perempuan sialan itu Joddy!" teriak Laras penuh amarah, sampai kedua orangtua Joddy yang sedang berada di ruang makan itu menghampiri mereka. Joddy yang sudah meraih handle pintu itu terdiam lalu membalikkan badan ke arah Laras.
"Sekali lo sentuh Kana, gue bakal bales dua kali lebih menyakitkan dari apa yang sudah lo lakuin ke dia, karena buat gue dia lebih berharga dari diri gue sendiri." Selesai bicara Joddy kemudian pergi begitu saja meninggalkan Laras yang terpaku di tempatnya.
Seberharga itu kah, Kana untukmu Joddy? Tapi jangan panggil Laras kalau tidak bisa membuat perempuan sialan itu pergi darimu!
**
Waktu kecil Kana bermimpi menjadi pegawai bank karena menurut Kana pegawai bank itu keren. Bajunya rapi, dandan cantik, bekerja di balik kursi dan yang penting gajinya besar. Tapi ternyata Kana tidak sepenuhnya benar. Setelah menjalaninya ternyata menjadi pegawai bank itu tidak mudah. Kepentingan nasabah dia atas segala-galanya. Harus diproritaskan. Dia harus tetap tersenyum walaupun sebenarnya dirinya lelah, dia harus tetap terlihat sehat walaupun sebenarnya dia sedang tak enak badan. Dan inilah yang sedang dirasakan Kana siang ini.
Kepalanya terasa pusing dia juga sejak tadi menahan mual dan nasabah yang di depannya sekarang ini adalah tipe nasabah yang 'rewel' seorang ibu yang sejak tadi mengeluh karena kartu kreditnya mendapat tagihan yang sangat besar.
"Maaf, Ibu. Memang di datanya seperti itu. Tagihan Ibu memang sebesar itu jumlahnya ." Kana masih mencoba bersabar.
Kana menghela napas. Yah, itu bukan urusan Kana dia mau sibuk dengan bisnis kah atau sibuk liburan .
"Coba Mbak dicek sekali lagi bisa jadi Mbaknya salah."
Kana hanya mengangguk dan tersenyum ramah lalu mulai sibuk dengan komputernya. "Maaf Ibu, hasilnya sama."
"Masa sih Mbak. Bulan ini kartu kredit saya dibawa Suami say-" Si Ibu tiba-tiba terdiam, dan seperti diingatkan sesuatu wajahnya berubah tegang. "Ini jangan-jangan Si Papa yang make buat belanjain gedikannya. Bentar Mbak saya telepon suami dulu." Si Ibu beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar.
"Itu pasti lakinya punya pelakor. Amit-amit!" bisik Key yang sudah ada di belakang Kana untuk mengambil cap.
"Huss, biarin aja bukan urusan kita itu!" balas Kana sambil memperhatikan Si Ibu dari balik kaca. Terlihat Si Ibu yang emosional ketika bicara di telepon. "Taruhan deh habis ini pasti pada berantem, suaminya bakalan disuruh tidur di luar." Key terkikik geli lalu kembali di kursinya.
Kana hanya menggelengkan kepala lalu kembali sibuk dengan komputernya sambil menunggu Si Ibu yang masih sibuk menelepon suaminya.
__ADS_1
"Hei!"
Kana tersentak kaget saat tiba-tiba meja kerjanya digebrak, lebih kaget lagi saat dia menemukan Laras yang tiba-tiba ada di depannya dengan wajah garang dan tatapan tajam penuh emosi.
"Maaf, silahkan antri dulu." Kana secepat mungkin menguasai diri agar tetap tenang. Dia tersenyum seramah mungkin.
"P*rs*tan sama antrian!" seru Laras membuat seisi ruangan terkejut mendengar suara yang nyaris membentak.
"Aku mau memperingatkan kamu ya, Kana. Jangan goda suamiku lagi! Tega kamu Kana kamu sudah menggoda suamiku" bentak Laras lagi-lagi semua yang ada di ruangan itu mendesah kaget tatapan mereka mengarah pada Kana yang duduk dengan wajah pucat karena tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Maaf, Ibu, silahkan anda ambil antrian dulu." Hasan, satpam bank mencoba menenangkan Laras."
"Diam kamu! Kamu mau belain janda ini? Udah dikasih apa kamu sama dia?" Laras berkata pada Hasan tapi jari telunjuknya mengarah pada Kana. "Kamu sudah tidur sama dia? Iya?"
Kana menutup mulutnya dengan kedua tangan terlalu shock mendengar kata-kata Laras.
Hasan gelagapan dia menatap Kana tak enak hati. Kana itu wanita baik-baik, bahkan pada OB sekalipun Kana selalu bersikap ramah. Dia juga tak jarang mentraktir makan OB dan satpam di kantor. Jadi, rasanya tidak pantas sekali kalau dia diperlakukan seperti ini di muka umum.
"Maaf, Bu. Silahkan keluar kalau anda tidak ada kepentingan di sini." Hasan masih bersikap baik dengan membimbing Laras ke arah pintu. Sayangnya, itu malah membuat Laras makin terpancing emosi.
"Dengar kalian semua! Terutama para wanita di sini." Laras menatap Kana sekilas lalu menunjuknya. "Kalian harus berhati-hati, dia bukan wanita baik-baik. Karena dia sudah merebut dan tidur dengan suami saya. Dia P-E-L-A-K-O-R."
Kana terhenyak. Matanya mulai panas, apalagi semua mata mengarah padanya. Seperti menghakimi.
"Kalian semua harus berhati-hati, bisa saja suami kalian digoda olehnya."
Key yang melihat itu bergegas menarik Kana lalu membawanya keruangan lain, karena keadaan tidak kondusif.
"Kana, jangan ganggu Suamiku lagi!!"
Kana mengigit bibir dalamnya kuat-kuat lalu menangis di pelukan Key.
__ADS_1
****