
Oriel uring-uringan didalam kamarnya sudah pagi tapi Aurora belum menghubungi dan mengirimnya pesan.
"Kalem bar,biasa aja napa"ujar nico yang sudah mulai geram atas sikap Oriel yang dari tadi uring-uringan.
"Gimana gue bisa biasa aja.setidaknya kasih tau kek pulang nya kapan?biar gue ga kek gini"jawab Oriel kesal lalu duduk kembali diatas ranjangnya.
"Sabtu Aurora emang ga pernah berangkat sekolah sedangkan minggunya dia liburan "ujar sean yang memancing Oriel menoleh kearah sean.
"Dua minggu sekali"lanjut sean lagi
"Telpon Aurora ah.minta oleh-oleh sapa tau dibeliin Aurora kan Princess yang baik hati"ujar nico mengambil ponselnya .
"Percuma"ujar Oriel menghentikan gerakan nico
"Kenapa ?"jawab nico mengabaikan Oriel dan menghubungi Aurora.
Satu kali,dua kali,tiga kali dan nomor Aurora sedang berada diluar angkasa ak.tidak bisa dihubungi.
"Nomornya Aurora lagi diluar angkasa"ujar nico nampak kecewa.
"Udah gue bilang,kalau nomor nya bisa dihubungi gue ga akan gini"kata Oriel lalu masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap kesekolah.
"Bar,gue mandi duluan elah"ujar nico mengetok-ngetok pintu kamar mandi tapi tak dipedulikan oleh Oriel.
"Lo mau kemana yan?" tanya nico pada sean yang sudah bersiap akan pulang.
"Pulang mau mandi"jawab sean lalu bersiap keluar dari apartemen milik Oriel.
"Bar gue pulang"ujar sean sebelum ia keluar dari apartemen.
Tak ada sahutan namun sean dadri dalam,sehingga sean memutuskan untuk langsung pergi.
"Gak asik lo yan"ujar nico setelah sean sudah benar-benar keluar.
Mau tak mau nico kembali menidurkan dirinya sambil menunggu Oriel yang sedang membersihkan diri.
____
"Nico mana?"tanya sean ketika Oriel sudah duduk di kursinya.
"berantem sama alea diparkiran"jawab Oriel menempelkan kepalanya diatas meja sesekali mengecek ponsel nya.
Sean hanya mengangguk tidak heran mendengar nico sedang bertengkar dengan alea.nico dari dulu menyukai alea hanya saja tidak bisa menunjukananya.
"selamat pagi Oriel"sapa Rere hangat.
"Pagi re"jawab Oriel tanpa mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Aku bawain sarapan pagi buat kamu"ujar Rere lagi tersenyum sambil menyerahkan bekal untuk Oriel.
"Makasih re"ujar Oriel menerima bekal yang diberikan oleh Rere.
"Sama-sama Oriel"jawab Rere sambil tersenyum manis namun dicibir oleh sean.
"Radit kemana sampe lo lari keOriel?"tanya sean sinis.
"Radit lagi di Karantina buat olimpiade fisika"jawab Rere mempertahankan senyum nya yang akan pudar karena ucapan dari sean.
"Pacar lo pinter ya tapi sayang cewenya pinter-pinter"ujar sean lagi
"pinter-pinter?maksudnya?"tanya Rere bingung
"Kata Aurora pinter-pinter sama aja kek belut,licin"bukan sean yang menjawab namun nico yang baru saja datang.
"Oh.aku kira apa,Oriel aku ke kelas dulu ya bekalnya jangan lupa dimakan"pamit Rere pada Oriel yang dijawab anggukan oleh Oriel.
"Sekali lagi makasih"ujar Oriel sebelum Rere pergi.
"Buat lo"ujar Oriel menyerahkan kotak bekal pada nico .
"Kagak mau gue.jangan-jangan ada racun lagi di dalem nya"jawab nico menolak.
"Lo kenapa sih nic,biasanya juga lo mau"tanya Oriel bingung.
"Buat lo"ujar nico
"Makasih nic"ujar ucup girang.
"Tamatama ucuppp"jawab nico mengikuti gaya Aurora.
Oriel hanya diam tidak berbicara,seharusnya ia marah karena nico memberikan bekal yang dibuatkan Rere untuk nya pada ucup.namun ia tidak ia membiarkan nya saja.apa sekarang ia mulai mencintai Aurora dan melupan Rere atau mungkin perasaan cinta untuk Rere tidak pernah ada.hanya batas perasaan terhadap sahabat.
___
Istirahat Rere masuk ke kelas Oriel dan kelas Oriel sudah sepi hanya beberapa orang yang tinggal.
"Cup kamu liat Oriel ga?"tanya Rere pada ucup.
"Kantin mungkin ga tau gue"jawab ucup sambil mengeluarkan bekal yanh diberikan nico.
Mata Rere membelak ketika ucup memakan bekal yang ia buatkan untuk Oriel.
"Kamu buat sendiri bekalnya?"tanya Rere memancing ucup.
"Engga la.nico yang kasih,ga tau gue tumben tu anak baik"jawab ucup terkekeh.
__ADS_1
Rere langsung berbalik meninggalkan kelas Oriel.marah itu la yang ia rasakan sekarang.bisa-bisa nya nico memberikan bekal Oriel pada ucup yang membuat Rere merasa lebih marah adalah Oriel sama sekali tidak melarang.itu kesimpulan yang Rere simpulkan.
Rere berjalan ke kelas nya
'awas aja lo nico'
Sementara dikantin Oriel dan kedua temannya sedang menikmati makanan mereka
"Ko gue kangen ya sama Aurora"celetuk nico membuat Oriel langsung melototi nico
"Maap bos,maksud gue kangen aja kagak ada yang berisik.biasanya kan Aurora yang paling berisik"ujar nico menyengir.
'Gue juga kangen' batin Oriel menekan makanannya.
"Lo kangen juga kan sama Aurora?"tanya nico pada Oriel namun Oriel tidak menjawab.
"Ya kangen la nic,siapa orang yang buat temen kita uring-uringan dua hari ini?"kata sean sambil melirik Oriel
"Aurora"jawab nico pelan.
"Nah itu,Oriel sebenarnya kangen sama Aurora cuma ga mau nunjukin aja"ujar sean lagi.
Nico hanya mengangguk benar apa yang dikatakan oleh sean.
"Sandra sekolah ga yan?"tanya nico pada sean
"Sekolah"
"Kok ga kelihatan"
"Emang gitu kalo ga ada Aurora,sandra ga akan ke kantin"jawab sean.
"Lo kok tau banget sih.jangan-jangan lo cenayang lagi"ujar nico menyelidik
"Aurora sepupu kesayangan gue.apa yang ga gue tau"jawab sean pelan
"Dan Aurora dilahirkan untuk disayang bukan untuk disakiti.siapa pun orang yang menyakiti Aurora gue pastikan hidup orang itu ga akan tenang.ga peduli dia temen atau pun sahabat gue sendiri"kata sean pelan namun membuat dua orang yang mendengarkan merinding.apa lagi nico ia sampai meneguk air ludahnya.
Oriel menatap sean semua yang dikatakan sean adalah kebenaran seperti hari itu dimana sean memperingati dirinya untuk tidak menyakiti Aurora.
"tegang amat kek beha baru aja"ujar nico menyengir
"Otak lo perlu dirukyah''ujar alea tiba-tiba di samping nico lalu pergi begitu saja setelah mengatakan isi kepala cewek itu.
"Woi alea.maksud lo apa"teriak nico mengejar alea yang sudah lari duluan sebelum nico mengejarnya
Sedangkan Oriel dan sean hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka .
__ADS_1