
Ariella hanya menatap jalanan ketika bryan berkendara menuju rumah sakit,pikirannya berkelana kamana-mana otak cantiknya tidak bisa berpikir jernih lagi berbagai pertanyaan menumpuk dikepalanya.benarkah tania hamil?siapa ayahnya?Dan kenapa bryan sangat cemas?.
"Ariel ayo turun" ujar bryan lalu keluar dari mobil tanpa menunggu areilla terlebih dahulu.
Ariella terdiam sejenak lalu mengikuti langkah panjang bryan.
****
Bryan masuk kedalam ruang rawat tania dengan perasaan cemas.
"Kenapa bisa pendarahan?bagaimana keadaannya?" tanya bryan dengan nada cemas.
"Kata dokter aku hanya kelelahan.dia baik-baik saja" jawab tania tersenyum lembut
"Bagus lah kalau begitu,son jadilag anak yang kuat like your mom" ujar bryan mengelus perut datar tania.
"Heh dasar sok tahu baby nya perempuan bukan laki-laki"ucap tania garang
__ADS_1
"Baby boy jangan dengar kan ibumu ya,kau pasti laki-laki" kata bryan mengelus perut tania dan perkataan bryan membuat tania terkekeh
"Mana ariella bukannya kalian kesini bersama?" tanya tania ketika tidak mendapati ariella.
Bryan menolehkan kepalanya mencari ariella didalam ruangan.
Nihil!
Dengan langkah cepat bryan keluar dari ruangan rawat yang ditempati oleh tania.setelah berpamitan pada tania bryan langsung mencari ariella.sepanjang lorong rumah sakit bryan mengutuk dirinya sendiri bagaimana ia bisa lupa akan keberadaan ariella disampingnya.ia meresa bersalah karena telah meninggalkan ariella tadi.
Bryan ikut duduk disamping ariella lalu memeluknya dari samping.
"Sudah selesai?bagaimana keadaan tania?" tanya ariella menampakan senyum nya.
"Maaf karna telah meninggalkan mu" ujar bryan pelan namun ariella tahu jika diperkataan bryan ada rasa bersalah yang besar.
"Tak apa,bagaimana keadaan bayi tania?" tanya ariella lagi
__ADS_1
"Baik-baik saja dia bayi yang kuat" jawab bryan yang hanya diangguki oleh ariella.
"Tania,dia sebatang kara ayah dan ibunya meninggal dunia ketika usianya baru tujuh tahun"
Ariella diam mulai menyimak cerita tania dari bryan
"Tania tidak mempunyai saudara satu-satu nya orang yang ia punya hanya aku.aku sudah menganggapnya adik begitu juga mommu dan daddy mereka sudah menganggap tania sebagai anak kandung bahkan mommy lebih menyayangi tania dibanding anak kandungnya sendiri"
"Tania kemudian berpacaran dengan ben partner nya sesama model awalnya kami tidak ada yang setuju jika tania berpacaran dengan ben tapi memang dasar anak nakal dia tidak bisa dinasehati dan ya sekarang ben meninggalkan tania dalam kondisi sedang mengandung,ingin rasa aku membunuh ben dengan tangan ku sediri namun jika aku melakukannya bayi tania akan kehilangan sosok ayah"
Ariella mengangguk paham kenapa bryan begitu cemas mendengar tania pendarahan dan semua telah terjawab oleh cerita bryan barusan.
"Mau melihat tania?" tawar bryan setelah bercerita panjang lebar mengapa ia begitu cemas pada tania.
Ariella mengangguk setuju beban dikepalanya seakan melayang dibawa oleh angin.
****
__ADS_1