Married To My Boss

Married To My Boss
MWMBS3#32


__ADS_3

Setelah semalaman berperang dengan batinnya Oriel memutuskan untuk meminta maaf pada Aurora karena perlakuannya kemaren sore terhadap gadis itu.


Oriel mengambil tas nya diatas kasur lalu keluar dari kamarnya.


"Pagi Oriel"sapa Aurora dengan senyum ceria.


Oriel kaget tentu saja ia mengira Aurora tidak akan datang keapartemennya apalagi membawa sarapan karena kejadian sore kemaren.


Oriel menangkap ada yang berbeda dari diri Aurora sesuatu yang amat jelas dapat ditangkap oleh mata Oriel.


"Potong poni?"tanya Oriel menghampiri Aurora yang sedang menyiapkan Oriel sarapan.


Aurora hanya mengangguk senang sambil mengolesi roti tawar dengan selai stroberi.


"Gue ga tau lo suka selai apa,karna di kulkas banyak susu rasa stroberi jadi gue pikir lo bakal suka sama selai stroberi"jelas Aurora dan senyum nya tak hilang dari bibirnya.


"Jelek"ujar Oriel menyambar roti tawar yang sudah diolesi oleh selai oleh Aurora.


"Iya gue juga tau kalo jelek,cuma mau kek mana lagi.lo liat ada benjolan besar di jidat gue"jawab Aurora menunjukan jidat nya yang ditumbuhi oleh jerawat.


"Lihat. B aja tu"jawab Oriel sambil mengunyah.


Aurora menatap Oriel tidak percaya laki-laki dihadapannya mengatakan biasa saja,tidak taukan Oriel bahwa Aurora sebegitu cemas nya tadi pagi sehingga membuat kehebohan.


Pagi tadi sebelum Aurora keapartemen Oriel dikediaman marshwan.


Aurora berteriak histeris membuat seisi rumah dengan panik berlarian menuju kamar Aurora,termasuk manh danang yang berada dibelakang ikut serta berlari kekamar Aurora.


"Kamu kenapa?"tanya bryan ayah Aurora cemas sambil memegangi kedua lengan putrinya.


"Jidat aku dad"rengek Aurora dramantis.


"jidat kamu kenapa sayang?sakit?atau gimana?"tanya ibunya ikut cemas disamping bryan.


"Ada ini"jawab Aurora panik menghadap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bryan,ariella,bik ina,botak dan mang danang menghela nafas lega.mereka pikir terjadi apa-apa pada Aurora.setelah mengetahui bahwa nona mereka baik-baik saja,mereka kembali ketempat mereka masing-masing.


"Itu wajar sayang,kamu kan udah gede"ujar ariella sabar memberi pengertian pada Aurora.


"Tapi mom ini jerawatnya gede banget.Aurora kan malu,nanti Oriel ilfeel lagi liatnya"ujar Aurora cemberut.


"it's oke sweety,sini biar daddy ilangin jerawatnya"ujar bryan membuat Aurora tersenyum senang lalu mendekati ayahnya.


Cup


Bryan mencium jidat putrinya dimana jerawat Aurora sedang mekar.


"DADDY"teriak Aurora kesal membuat bryan tersenyum senang karena membuat putrinya berteriak kesla padanya.


"Mom,daddy nipu Aurora"adu nya pada ariella.


"Kamu sih percaya aja"jawab ariella ikut menjahili putrinya


"terus gimana dong sama ini"ujar Aurora pelan sambil berkaca menatap jerawatnya.


"Kalau poni nya dipotong mau?"usul ariella membuat secercik harapan Aurora bangkit.


Jika bukan karena jerawat yang super besar di jidat nya Aurora tidak akan memotong poni.dan juga kalau bukan karena memotong poninya sarapan untuk Oriel pastinya bukan hanya roti tawar dan selai.


"Lo mau diam aja disitu apa ikut gue ke sekolah?"kata Oriel membuat Aurora segera tersadar dari lamunannya.


"Ikut elo lah"ujar Aurora reflek langsung berdiri dan berlari menuju Oriel tanpa sadar tali sepatu kanannya terlepas dan tidak sengaja terpijak oleh Aurora sehingga si empu nya terjatuh tersungkur dilantai membuat Oriel berbalik dan menghampiri Aurora dengan panik.


"capek gue ngomong sama lo,udah dibilang berkali-kali.sekali aja gue mohon sama lo jangan ceroboh,bisa?"pinta Oriel sambil membantu Aurora berdiri sedangkan Aurora hanya mengangguk saja karena ini murni karena kecerobohannya sendiri.


"Masih sakit?"tanya Oriel sambil mengamati lutut Aurora yang memar membiru Aurora hanya mengangguk pelan.


"mangkanya hati-hati"kata Oriel menoel lutut Aurora pelan membuat Aurora menjerit tertahan lalu bangkit dan mendahului Aurora.


"Oriel tungguin,suka banget sih ninggalin orang" teriak Aurora menyusul Oriel yang telah hilang dibalik pintu.

__ADS_1


___


"Gimana keadaan nyokap lo?"tanya Aurora ketika ia dan Oriel berpas-pasan dengan Rere


"udah baik-baik aja tadi udah boleh pulang mala"jawab Rere tersenyum namun Aurora sangat-sangat tidak suka melihat senyum Rere.


"bagus deh.bar gue duluan lo masih mau ngomong kan sama Rere"kata Aurora pergi begitu saja,ia muak melihat Rere Aurora juga tidak mau Oriel melihat nya meluapkan emosinya didepan Rere.


Setelah Aurora pergi Oriel membuka percakapan.


"Ibu pulang sama siapa?"tanya Oriel


"Sama bik ina,makasih ya kemaren aku ga sempet bilang itu kekamu"jawab Rere terdengar tulus ditelinga Oriel.


"ORIEL" panggil Nico kencang sehingga membuat Oriel langsung menoleh kearah nico.


"Kelas kuy"ajak nico menghampiri Oriel dan merangkul sobat nya itu.


"Aku duluan re"ujar Oriel lalu mengikuti nico.


Rere menatap kesal kearah nico.selalu saja menganggu pikir Rere marah.


Aurora langsung masuk kedalam kelasnya ia sengaja meninggalkan Rere dan juga Oriel.


"Nyontek pr dong"ujar Aurora pada sandra setelah duduk dikursinya.


"Ambil di tas"jawab sandra tanpa memalingkan matanya dari ponsel.


Aurora langsung membuka tas sandra mengambil pr sobat nya.dengan secepat kilat Aurora menyalin pr sandra ke buku pr nya.


Ini la alasan mengapa Aurora meninggalkan Oriel dan juga Rere pr nya belum kelar tepatnya belum ia kerjakan sama sekali.


"Tumben lo pake beginian?"tanya sandra menunjuk bibir Aurora.


"Biar kece,masa Aurora pacarnya Oriel tampilannya jelek"jawab Aurora masih fokus pada salinan pr.

__ADS_1


"Lo ga papa kan ces? Atau jangan-jangan ada yang elo sembunyiin dari gue.kalau lo sakit gue bisa anter lo pulang" kata sandra cemas,ini la sandra orang yang paling irit bicara namun terhadap keadaan Aurora ia yang paling banyak bicara.


"Gue ga papa sand,ini murni biar gue tambah kece aja"jawab Aurora tersenyum sejenak kemudian melanjutkan prnya ia tidak ingin dimarahi oleh pak Broto karena tidak mengerjakan pr.


__ADS_2