
Sebelum pulang ke jakarta, Agis dan Ibra menyempatkan duduk di tepi pantai sambil melihat adik adik mereka bermain voli. keduanya sudah kembali berlayar dan kini kembali bergabung dengan keluarga, bermain bersama di tepi pantai.
Agis menyandar kan tubuh nya pada Ibra, terlihat si kembar berlarian bersama Baby sitter dan bibi.
"Rasanya nyaman dan tenang tinggal di sini mas. dulu juga kalau tahu akan seperti itu kejadiannya mungkin aku lebih lama tinggal di pulau sama Kamu."
Ujar Agis membuat Ibra terkekeh sendiri.
"Aku sih enggak mau! mending nyulik kamu dari pada tinggal di sini dengan keadaan seperti dulu, terlalu bahaya sayang. kamu ini macam macam saja, kenapa harus berpikir seperti ini ? sementara kamu bisa melewati semua nya."
Jawab Ibra lalu menarik Agis untuk duduk di hadapannya lalu menciumi pipi nya berulang kali hingga Agis menghela nafas panjang.
"Mas, kamu tuh ini di luar !"
Ujar Agis manyun dan hal itu membuat ibra semakin gemas pada istri nya itu.
"Biarin ajalah !"
jawab Ibra terkekeh kecil lalu mengajak Agis untuk berjalan jalan di sekitar pantai.
Ibra meminta seorang memvideokan kebersamaan nya dengan Agis agar mereka bisa melihat nya nanti sebagai kenangan yang indah.
Ibra memeluk Agis dari belakang sambil menatap laut yang tenang.
"Abang sayang sekali sama kamu."
Desis Ibra di telinga Agis.
Perempuan itu tersenyum bahagia lalu membalikkan tubuhnya kemudian memeluk Ibra.
Agis benar benar tidak menduga dengan jalan tuhan. Secepat itu ia membuat keadaan berubah dan kini Ia merasa hidup nya berarti dengan Ibra di samping nya.
"Terimakasih tuhan..."
***
**
*
Beberapa hari berlalu....
Ibra dan Agis sudah kembali ke Jakarta, begitu juga dengan Alan dan keluarga sudah kembali ke Bandung.
Weekend ini Agis berencana untuk mengantarkan adik nya pesantren ke daerah Jawa Tengah.
Dan siang ini mereka berdua berencana untuk datang ke studio musik milik Jimi.
"Sayang, nanti mas jemput kamu ya!"
Ujar Ibra sambil memakai kemeja nya, Agis masih meringkuk di ranjang karena masih mengantuk.
Biasalah kalau pagi pagi minta jatah yang ada bawaan nya ingin kembali tidur, tapi tidak dengan Ibra justru hal itu membuat ia bersemangat.
Hehehe.
"Sayang, kok kamu diam aja !"
Ibra menoleh lalu duduk di tepi ranjang membelai rambut istri nya.
"ngantuk mas !"
__ADS_1
Jawab Agis mengulas senyum.
"kamu lelah ya? maaf yah !"
Jawab Ibra memangku pipi Agis yang memerah.
"Enggak apa apa. Agis cuma ngantuk !"
Jawab Agis lalu duduk bersandar pada ranjang.
"Ya sudah Mas bawain susu sama sarapan ke atas ya !"
Agis mengangguk sambil tersenyum.
Sebenarnya malu tinggal bersama mertua jika seperti itu, tapi Rosa tidak pernah berkomentar apa-apa hanya saja Agis memang tidak enakan.
Saat ini Rosa Tengah dekat dengan seorang pria, katanya teman lama.
dan pria itu seorang duda yang di tinggal meninggal oleh istri nya.
Ibra tidak mempermasalahkan kedekatan mereka karena ibu nya juga berhak bahagia. Bagi Ibra yang terpenting pria itu baik.
Rosa mengatakan kalau pria itu sebenarnya teman lama ayah nya.
Beberapa waktu datang untuk berbelasungkawa atas kepergian Arifin, namun ujung ujungnya malah lain.
Tidak apa-apa yang penting sama sama singel tidak terikat dengan orang lain.
"Agis mana ?"
Tanya Rosa saat Ibra turun dari tangga.
Rosa mengangguk.
"Ya sudah bawakan sarapan ke kamar !"
"ya, Ibra mau buatkan susu dulu !"
Rosa mengangguk lalu menyiapkan makanan yang hendak Ibra bawa ke atas.
"Bu, gimana kalau Ibra beli rumah untuk Ibra dan Agis ?"
Tanya Ibra memindai wajah cantik ibunya.
"silahkan saja ! kalau kalian mau mandiri. ibu tidak akan melarang !
kalian mau tinggal sama ibu enggak apa-apa, kalian berpikir untuk hidup mandiri juga tidak apa-apa. selagi itu baik ibu akan mendukung !"
Ibra mengangguk lalu merangkul pundak ibu nya.
"boleh juga yang kemarin datang, Ibra juga ingin ibu bahagia !"
Ujar Ibra membuat Rosa terkekeh kecil dengan wajah merona.
"Sudah sana antar kan susunya untuk Agis!"
"Siap !"
Jawab Ibra lalu pergi membawa nampan yang berisi susu dan sarapan untuk mereka berdua.
"Sayang !"
__ADS_1
seru Ibra lalu menyimpan nampan di meja dekat sofa. Agis menyembul keluar dari jam mandi untuk membasuh wajahnya.
"Makasih ya mas !"
Ibra mengangguk lalu menyuruh Agis duduk di pangkuan nya.
"kamu kenapa mas ?"
tanya Agis saat Ibra menatapnya tanpa berkedip.
"Nanti kita buat syukuran empat bulanan calon anak kita ya !"
Agis mengangguk sambil senyum.
"Ya sudah ayo sarapan, mas mau berangkat kerja. nanti siang kita ketemu Jimi, tapi sebelumnya kamu istirahat dulu ya!"
Agis mengangguk lalu mulai menyantap sarapan nya sebelum kembali ke ranjang.
Usai itu Ibra pamit berangkat kerja dan membiarkan ibu hamil itu kembali beristirahat.
Saat keluar dari rumah Ibra melihat seorang pria tengah berbicara dengan Rosa di halaman rumah.
"Bu, Ibra berangkat kerja dulu !"
Rosa menoleh lalu menyuruh Ibra untuk mendekat.
"Ini Om Dava !"
Ibra senyum lalu mencium tangan sebagai penghormatan.
"Om dengar perusahaan kamu sedang berkembang pesat ?"
Ibra mengangguk. ia tahu kalau pria yang berada di hadapan nya juga seorang pebisnis hebat yang memiliki perusahaan automotif di negara ini.
"Begitu lah om, Alhamdulillah sekarang Ibra juga pegang kendali perusahaan ayah !"
Dava mengangguk dan bersyukur karena kekayaan Arifin jatuh pada kedua anak nya.
"Ya sudah Om lanjut saja ngobrol nya dengan ibu, Ibra berangkat kerja dulu !"
"sebentar Ibra !"
Seru Dava lalu mengutarakan maksud hati nya untuk mempersunting sang ibu.
"Ibra serah kan pada ibu jika memang niat Om baik. Ibra rasa Om tahu seperti apa perjalanan kami saat bersama ayah, dan Ibra tidak ingin ibu kembali mengalami hal yang sama. ibu harus bahagia seperti Agis !"
Jawab Ibra meminta pria itu untuk sungguh sungguh menyayangi ibu nya seperti ia menyayangi ibu nya dan Ibra ingin ibu nya bahagia.
*
*
bersambung...
terimakasih sudah mampir 😍😍😍
masih promo nih, hehehe.
mampir ya ke Novel author yang baru 🤭🤭
__ADS_1