
Rayan termenung mengingat ucapan dokter spesialis bedah mengatakan bahwa Ia harus menunggu enam bulan baru Noval bisa melakukan operasi.
Sementara Sang ibu memiliki harapan kecil karena kanker nya sudah stadium lanjut, Rayan tidak tahu harus berbuat apa karena Erika ingin kalau Noval segera operasi.
"Ya, tapi kamu harus tahu kalau resiko nya besar Erika, Dokter bilang kita harus menunggu Noval enam bulan...!"
Ujar Rayan memberikan pemahaman pada Erika yang tidak mau mengerti.
"kalau kamu enggak mau merawat Noval aku akan cari kan baby sitter...!"
tambah Rayan pergi meninggalkan Erika yang terdiam sendiri.
Bukan hanya tentang Noval yang membuat Rayan pilu, tapi juga Erika seperti tidak mau merawat putra mereka karena keadaan Noval seperti itu, Ia juga selalu marah marah sendiri.
Rayan memijat keningnya sendiri karena pening dengan semua permasalahan yang ada.
Ia teringat sosok yang dulu selalu memberikan nya support dan tidak pernah mengeluh dalam keadaan apapun.
Rayan merindukan sosok Agis yang saat ini telah menghilang dari kehidupan nya.
"Bukan perempuan baik baik jika ia mau melayani suami orang, apa lagi suami sahabat nya sendiri !"
Ujar Agis kala itu.
"Dari kamu aku tahu seperti apa sahabat ku yang sebenarnya, dan dari Erika aku tahu seperti apa suami yang selalu aku banggakan di depan mereka !"
Rayan benar benar menyesali kebodohannya mengapa ia harus tergoda dengan Erika ?
Tak seharusnya Ia melepaskan berlian yang menjadi cahaya dalam hidup nya dan sekarang semua terasa redup.
"Ray, bagaimana rencana selanjutnya ?"
Tanya Ramlan membuyar kan lamunan nya.
"Rayan akan kembali ke jakarta yah, kita juga kan harus mengurus perusahaan !"
Ramlan mengangguk.
__ADS_1
"Ayah temani saja ibu, aku dan Erika akan kembali ke Jakarta sebab Noval juga tidak bisa melakukan operasi sekarang !"
"ya sudah Rayan kamu sabar ya!"
Rayan mengangguk, Ia memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena itu sudah menjadi pilihan nya sendiri.
Gegas Rayan kembali ke hotel di mana Erika berada, besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta.
**
Sore itu Ibra kembali ke Jakarta setelah mengantar Agis ke rumah sakit, Dokter mengatakan kalau Alan mengalami gejala meningitis dan hal itu membuat Agis sedih.
Baru kemarin ia kehilangan sang ibu dan sekarang Alan sakit, Agis benar benar takut jika sesuatu terjadi pada adiknya.
"Kamu sabar ya gis, nanti mas datang lagi ke Bandung !"
Agis mengangguk kecil.
Entah kenapa Ibra begitu perhatian sedangkan ia tidak ingin Ibra berharap lain karena Agis tidak berpikir untuk kembali memulai berumah tangga, Namun Agis berpikir belum tentu kan Ibra seperti itu, mana mau Ibra pada nya sedangkan Ia tidak memiliki apapun selain kekurangan.
Agis menghela nafas berat memandangi wajah Alan yang terlelap dalam tidur nya.
Seru Agis menunduk kan kepala nya di tepi ranjang.
"Ya tuhan kenapa ujian ini tak henti hentinya datang menerpa ku, biarkan sebentar saja aku bernafas lega !"
Gumam Agis menyeka air matanya, Ia harus sabar dan bertahan dalam keadaan apapun, Ia juga harus yakin bahwa semua akan berlalu dan ia pasti bisa melewatinya.
"Agis..!"
sapa bibi duduk di samping Agis, ia langsung beranjak dan menyeka air matanya.
"Kamu sabar ya!"
Agis mengangguk lalu memeluk sang bibi, beruntung nya karena Adik ibu nya begitu baik dan mau mengurus mereka berdua.
"Maaf ya Bi, Agis dan Alan selalu merepotkan bibi dan paman !"
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu kita kan keluarga jadi susah senang di jalani bersama !"
Jawab bibi membuat Agis terharu.
"Ya terimakasih bi !"
Ujar Agis kembali memeluk bibi nya.
...----------------...
Waktu terus bergulir,, keadaan Alan sudah jauh lebih baik setelah melakukan pengobatan rutin di rumah sakit.
Tiga bulan berlalu setelah masa idah itu berakhir Agis juga mulai terbiasa hidup tanpa Rayan di samping nya, bukan hal mudah tapi waktu demi waktu membuat nya mampu bertahan dalam keadaan sepi, sunyi bahkan rindu.
Sesekali Ibra datang menemui nya sebagai seorang teman yang selalu memberikan support dan dukungan.
Sementara Rayan semakin tersiksa karena semakin lama bukan nya ia lupa dengan Agis, Ia malah menginginkan kehidupan dulu bersama Mantan istri nya itu, sebab Erika semakin susah di atur dan ia juga tidak peduli pada Noval.
Rayan selalu menuruti keinginan nya dan berharap Erika berubah lebih baik, tapi Ia malah senang keluyuran dengan teman teman nya.
Rayan sudah membeli rumah baru untuk mereka tinggal, dan rumah bersama Agis sudah di sewakan.
Tiga bulan ini Rayan tidak bertemu dengan Agis, Salma memberi tahu nya kalau sekarang kafe ia yang mengelola sebab Agis tidak pernah kembali ke Jakarta, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja.
Rayan berharap bisa bertemu dengan Agis saat ia datang ke kafe, tapi ternyata perempuan itu langsung pulang setelah sidang perceraiannya selesai.
Dan kemarin Ramlan mengatakan bahwa kondisi Devita semakin drop bahkan sekarang Ibu nya itu mengalami koma.
Segala pengobatan telah di coba, namun tidak ada hasil nya dan yang ada malah menguras keuangan mereka.
Rayan hanya bisa pasrah dengan kondisi sang ibu, Ia sudah berusaha keras tapi kenyataannya beliau malah drop.
Ramlan mengatakan bahwa ia hendak membawa Devita pulang ke Indonesia, Sebelumnya Devita mengatakan bahwa jika nanti meninggal ia ingin di makam kan di Indonesia.
*
**
__ADS_1
***
bersambung......