
Pagi itu Rayan bersiap untuk kembali ke Jakarta, Agis mengikuti nya sambil menggendong bayi kecil anak sepupu nya.
Rayan mengulas senyum lalu merengkuh tubuh Agis.
"Abang juga berharap yang seperti ini, cantik !"
ujar Rayan mencubit pelan pipi gemoy bayi perempuan itu.
Agis tak menjawab, nyata nya suami nya itu tak pernah lagi ikut berkonsultasi dengan dokter kandungan.
"Kamu jangan sedih terus ya sayang !"
Agis mengangguk membiarkan Rayan mencium pipi nya.
"Nanti sore atau malam Abang kembali, kamu baik baik ya!" Agis mengangguk lalu mencium tangan Rayan.
Agis menatap kosong ke arah Rayan, feeling nya merasakan kalau Rayan memang menyembunyikan sesuatu.
Agis duduk termenung sendiri, kepala nya terasa pusing karena terlalu banyak menangis, urusan kafe Agis serah kan pada Salma karena ia tidak akan cepat kembali ke Jakarta sampai pengajian selesai.
Saat ini tak ada Ibu yang selalu menguat kan nya, sebelumnya Linda lah yang selalu memberikan nya semangat. Ia tidak pernah lelah mendoakan kebahagiaan nya, dan sekarang jika bukan diri sendiri siapa yang akan mendoakan kebaikan hidup nya.
Agis menyeka air matanya, kehilangan semakin membuat nya rapuh, namun ia harus tetap bangkit dan berdiri sendiri karena siapa yang akan mengasihi nya jika bukan dirinya sendiri.
Rayan sudah berubah dan ia tidak ingin berharap banyak, mungkin setelah ini ia harus lebih menguatkan mental nya menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.
Siang Itu Rayan langsung ke kantor, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, Erika sudah sampai lebih dulu di kantor.
"sayang, kamu sudah datang ?"
tanya Rayan mengecup kening nya singkat.
Erika terdiam tak menjawab, Rayan langsung masuk ke dalam ruangan mengecek berkas pekerjaan yang hendak ia pakai untuk meeting siang ini.
"Bang...!"
Rayan menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Sayang kamu udah siapin untuk meeting Siang ini kan ?"
"Sudah, kamu mau balik lagi ke Bandung ?!"
Rayan kembali mendongak menatap wajah sendu Erika.
"Ya sayang, Kamu mau ikut ?"
Erika menggeleng kan kepalanya, Ia sudah mengucapkan belasungkawa lewat Chat pada Agis, Erika pikir itu cukup.
__ADS_1
"Untuk saat ini Abang harap kamu mengerti, Abang akan pulang weekend saat acara tujuh bulanan calon bayi kita !"
Rayan merangkul pundak Erika dan keduanya duduk di sofa.
"Tapi Apa itu enggak terlalu lama, aku juga butuh kamu bang ?!"
"ya sudah Abang akan kembali malam hari, Apa Andi sudah datang ?!"
"sudah dia cek ke lokasi perumahan yang ada di Bandung !"
Rayan mengangguk lalu kembali beranjak mengurus pekerjaan nya.
"Abang kerja dulu ya, nanti kita makan siang di luar !"
Erika mengangguk lalu kembali ke kursi nya yang berada di luar.
Erika kesal mendengar omongan orang orang kantor perihal hubungan nya dengan Rayan.
Bahkan ada yang mengumpat bahwa ia seorang pelakor dan sahabat tidak tahu diri.
Semua begitu jelas Erika dengar fari mereka yang tengah sarapan sambil membicarakan scandal nya dengan Rayan.
siang nanti Erika akan membicarakan hal itu dengan Rayan agar mereka di pecat dari perusahaan.
Erika tertegun mengingat kembali sikap Devita, Ia tidak bersikap ramah seperti saat bersama Rayan, yang ada sikap nya malah ketus.
Kalau bukan karena hubungan mereka sudah di ketahui, Erika tidak mengharapkan acara apapun, Rayan sudah berada di dekat nya saja sudah lebih dari cukup.
Pantas saja dulu Agis selalu mengeluh kan tentang mertua nya yang jutek, jadi seperti itu sikap Devita.
Erika kembali tertegun mengingat hubungan persahabatan nya dengan Agis, kedua nya memang sudah lama bersahabat.
sang ibu menentang keras hubungan nya dengan Rayan, tapi Ia tidak bisa mundur karena semua terlanjur berjalan.
Saat ini Ia terpaksa bersaing dengan sahabat nya sendiri, mengabaikan nasihat sang ibu dan mengedepankan rgo nya.
Ironis, Ia jahat tapi semua sudah menjadi pilihan.
*
Agis tertegun saat Santoso mengatakan bahwa ada Andi di depan rumah, gegas Agis menghampiri.
"Kak Andi, ayo masuk!"
"di luar saja gis, aku sedang ada urusan di Bandung sekalian lewat saja."
Agis mengangguk.
__ADS_1
"Aku turut berbelasungkawa ya gis.!"
Agis mengangguk sembari menyodorkan segelas kopi pada Andi.
Agis tertegun mungkin ini waktu yang tepat menanyakan keadaan di kantor.
"Ya terimakasih kak."
Agis menarik nafas nya, Ia harus siap dengan segala kemungkinan buruk yang terjadi.
"Aku boleh tanya sesuatu enggak sama kamu kak?"
Andi menoleh ke arah Agis dengan tatapan sayu nya, Andi sudah lama mengenal Agis, dia perempuan yang baik dan sabar.
Andi tidak tahu apa yang merasuki Rayan hingga tega mengkhianati Agis.
Padahal dulu Rayan sangat mencintai Agis, dan tidak mudah untuk meraih Agis, ia bahkan rela bolak balik Jakarta Bandung hanya untuk bisa memenangkan hati Agis, dan Rayan melupakan perjuangan nya itu.
Di kantor saja sudah ramai jadi perbincangan, mereka juga punya penglihatan dan pendengaran bagaimana Erika bersikap manja pada Rayan.
Erika memang tidak kalah cantik dengan Agis, namun Agis berbeda. dia sangat baik, dan ramah. tak ada kepura-puraan dalam sikap nya.
Andi bahkan kagum dengan suara indah nya, dan Rayan tidak berpikir bahwa kelakuan nya itu bisa membuat nya kehilangan Agis, perihal anak semua masih bisa di usahakan, kenapa Rayan tergoda dengan penampilan Erika yang berbanding terbalik dengan Agis yang sopan dan tertutup, siapapun pria akan merasa beruntung mendapatkan perempuan baik seperti Agis, dan Rayan dengan teledor nya menyiakan nya begitu saja.
Di kantor banyak yang bertanya tentang hubungan mereka, Andi tak pernah menjawab apa apa meskipun ia tahu semua nya, Andi memilih untuk tutup mulut dan membiarkan mereka dengan persepsi nya sendiri.
Andi yakin mereka berkomentar miring karena mereka sudah bisa menilai sendiri.
Apa pernah Andi berusaha menasehati sahabatnya itu ? tidak !
Andi yakin Rayan sudah memikirkan semua nya sebelum ia mulai main gila dengan Erika.
Erika tidak akan bisa seperti Agis meskipun ia bisa memberikan Rayan Anak, tidak ada yang tahu kuasa Tuhan. dokter boleh memvonis Agis mandul, tapi Tuhan maha besar, Ia bisa merubah apapun dengan kuasa dan kehendak nya.
"Apa yang terjadi di kantor ?"
Tanya Agis menoleh pada Andi, Ia sudah tahu apa yang ada di pikiran Agis.
"Aku tidak ingin Kamu mendengar atau tahu dari orang lain Gis, aku hanya ingin meyakinkan mu bahwa apa yang kita tanam, itu juga yang kita tuai, tabah dan tawakal Pada tuhan, tentang apa yang terjadi dalam kehidupan semua sudah menjadi garis tangan."
Agis tertegun mendengar nasihat dari Andi, pria itu langsung pergi setelah memberi tahu suatu hal..
*
*
*
__ADS_1
berdamai...
bersambung.