
Sore itu kedua nya kembali ke rumah, perjalanan setelah hujan begitu terasa sangat dingin. Agis memeluk tubuh Rayan dengan Erat. "Aku tidak ingin ada siapa pun di antara kita ?"
Gumam Agis menyeka air matanya.
Rayan merasa heran karena sejak tadi Agis diam, Ia tidak seceria dulu, entah apa yang menganggu pikiran nya.
"Kamu harus tahu kalau feeling istri itu kuat, ia bisa merasakan kalau suaminya berbohong !"
ujar Andi saat mengetahui tentang hubungan nya dengan Erika.
Rayan menepikan motornya ke sebuah kedai yang menjual macam macam soto, keduanya selalu mampir jika pulang dari situ Patenggang.
"Kita makan dulu ya sayang !"
Agis mengangguk, ucapan sayang itu tak lagi tulus, Agis bisa merasakan Aura yang berbeda pada suaminya itu.
Ia terlihat gelisah saat seseorang terus mencoba mengusik kebersamaan mereka berdua.
"Apa yang akan Kamu lakukan kalau aku selingkuh bang ?"
Rayan tertegun mendengar pertanyaan dari Agis yang tiba tiba.
"aku akan bertanya alasan nya ? aku yakin semua ada penyebab nya ?"
"kalau aku selingkuh karena ingin punya anak, apa yang akan kamu lakukan ?"
"Mungkin bercerai....!"
Itulah jawaban yang Agis dapatkan dari Rayan, kemungkinan hal itu juga akan menjadi jalan keluar yang ia ambil jika Rayan terbukti selingkuh.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Gis? apa kamu bosan sama Abang ?"
"Tidak, tapi kemungkinan ya!"
Rayan tertegun tidak mengerti maksud Agis, Ia semakin heran dengan sikap Agis.
"Kamu tahu bang, semenjak ibu pergi aku jadi over thinking dan sensitif.
Aku sering menangis mengingat perjuangan kita yang tidak membuahkan hasil, takdir seperti tengah mengajak ku bercanda...!"
Rayan mendekati Agis kemudian memeluk nya erat.
"jangan bicara seperti itu Agis, Abang sangat menyayangi kamu !"
benar kah seperti itu ? tapi apa yang terjadi berbalik, mana ada sayang, tapi tega menyakiti.
"Agis..!"
Rayan menatap wajah Agis sedikit pucat, tatapan nya sayu tampak pilu.
"Hanya cinta karena Allah yang akan menerima kekurangan pasangan masing masing.tidak ada tuntutan apapun dan fokus beribadah hingga janah !"
Rayan semakin terpaku.
Akhir akhir ini Ia memang sering meniggalkan kewajiban nya sebagai seorang hamba, hanya Agis yang tidak pernah bosan mengingatkan nya untuk beribadah.
"Aku percaya bahwa tuhan tidak pernah tidur, dia akan mengungkapkan apa yang tersembunyi yang tidak aku ketahui !" batin Agis kemudian melahap soto setelah menuangkan beberapa Sendok sambal.
__ADS_1
Keduanya menikmati waktu sore melewati hamparan kebun teh yang hijau, Jalanan berkelok serta tanjakan turunan yang membuat perjalanan begitu menyenangkan.
Seperti halnya kehidupan, ada kalanya kita melewati fase naik dan turun, namun kesetiaan akan tetap terpatri pada jiwa yang memiliki iman dan takut akan Tuhan.
"Aku beli rujak buah jambu kristal bang...!"
Rayan menghentikan laju motor nya di depan tukang buah jambu kristal.
"jangan terlalu banyak makan sambel dek, tadi juga kamu muntah muntah !"
Agis tak menggubris, ia langsung melahap buah itu.
"Manis, tapi asem kayak cinta kamu bang !"
Rayan tertegun mendengar hal itu, pedagang yang mendengar malah terkekeh geli.
"Ayo pulang, waktu sudah senja....!"
Agis naik ke motor
"melukis senja...."
Rayan terdiam melihat Agis mengukir namanya dan Agis pada langit yang bersemu merah.
Agis langsung menangis memeluk Rayan yang membeku.
"Aku cinta sama kamu bang, Kamu bisa bayangkan seperti apa aku saat kamu tak lagi memegang janji kita !"
Rayan semakin terpaku lalu memeluk Agis, jingga bersemu merah itu menjadi saksi air mata yang mengalir dalam dekapan.
**
"baru pulang gis...?"
tanya Paman menghampiri kedua nya.
Agis mengangguk sambil memberikan beberapa makanan yang ia beli dari tempat wisata itu.
malam ini adalah malam kelima pengajian sang ibu, tapi Rayan besok akan kembali.
*
Rayan termenung mengingat percakapan mereka siang hingga senja tadi, apa Agis mulai curiga kalau Ia sudah tidak setia.
Agis duduk di dalam rumah bersama sang bibi, Sejak tadi Rayan melihat Agis menitikkan air mata nya.
kepergian sang bunda membuat nya benar-benar kehilangan dan menyisakan luka, Rayan merasa begitu bersalah dengan apa yang sudah terjadi, tak seharusnya tapi.
Rayan menunduk kepalanya karena pening, sejak tadi Erika terus menghubungi nya namun saat ini Rayan Ingin fokus pada Agis.
Rayan tertegun melihat Agis yang berlari ke kamar mandi, terdengar Agis kembali muntah muntah.
"gis kamu dari kemarin muntah terus, kayak orang hamil."
"enggak kok, kemarin Agis datang bulan."
sergah Agis menyandar tubuh nya di sofa, Rayan masuk dan menghampiri Agis yang bersandar sendiri.
__ADS_1
"Kamu sakit lagi ? mau pergi berobat ?!"
Agis menggeleng membiarkan Rayan merengkuh tubuh lemah nya.
"Sudah mens ?"
Agis mengangguk, hanya ia sedikit heran karena mens kali ini tidak lancar, bahkan sudah sejak dua bulan terakhir ini ia mengalami hal itu.
"HM, nanti kita pergi berlibur ya ke Lombok ?"
Agis terdiam menatap wajah Rayan, jiwa nya meronta-ronta dan merintih berharap tak ada perempuan lain dalam rumah tangga mereka.
Agis berharap semua hanya kecurigaan nya saja, Ia memeluk Rayan dengan erat sambil terisak.
Rayan memegang kedua pundak Agis menatap wajah sendu nya.
"Abang sayang sekali sama kamu, jangan sedih terus ya !"
Ucap Rayan memangku wajah Agis lalu menciumi seluruh wajah nya.
"jangan menangis lagi !"
Titah Rayan memeluk Agis erat.
"dulu kamu adalah Alasan aku tersenyum bahagia, tapi Saat ini kamu adalah alasan ku menangis pilu...aku tidak tahu apa aku sanggup menerima kemungkinan terburuk kelakuan mu di luar sana bang !"
batin Agis meracau sendiri kemudian terlelap dalam dekapan hangat Rayan.
**
pagi....
Rayan menyodorkan teh hangat pada Agis yang duduk di depan rumah, kedua nya baru kembali dari makam sang ibu.
"siang ini Abang balik dulu ke Jakarta ya?"
"Padahal ini weekend bang !"
Rayan terdiam tak menjawab ungkapan Agis.
"ya sayang, cuma sehari kok nanti sore atau besok pagi Abang balik lagi !"
Agis tak menjawab, Ia juga akan kembali dan melihat apa yang akan suaminya lakukan.
Ia tidak akan diam lagi, apapun keadaan nya semua harus ada penyelesaian, Agis membiarkan Rayan memeluk nya sebelum ia kembali ke Jakarta.
Agis merasa kan pusing dan kembali mual, gegas Agis beranjak dari duduknya meninggal kan Rayan yang mematung sendiri.
"Mungkin enggak kalau aku hamil bang ?"
Agis kembali dengan pertanyaan yang membuat Rayan membeku seketika, tapi dokter bilang kalau Agis mandul dan tidak bisa punya anak jadi mana mungkin Agis hamil.
"kamu mau periksa dek ?"
Agis menggeleng kan kepalanya lalu kembali duduk di samping Rayan yang masih termenung sendiri.
bersambung...
__ADS_1
terima kasih sudah mampir 😍😍
untuk episode ke depan author harus menguat kan hati 😂😂😂😍💪