
Erika termenung sendiri dalam jeruji besi, tentu saat ini yang terpikir kan bagaimana keadaan adik nya, Yuna.
jika ia di penjara bagaimana masa depan adik nya itu?
Sementara ia tidak memiliki kerabat lain di jakarta, lantas ia harus menghubungi siapa jika keadaan nya seperti sekarang?
Erika memeluk lutut nya sendiri, kedinginan dan merasa pengap berada di tempat itu.
Seharusnya ia berpikir ulang untuk melakukan hal itu, tapi apa daya semua sudah terjadi.
Tangan nya penuh noda dan dosa, ia kini mendekam dalam penjara sebagai seorang pembunuh.
Kalau saja dapat memutar kembali waktu, ia tidak akan berpisah dari Amir.
Seseorang yang begitu tulus pada nya, Ia tidak perlu iri dengan kebahagiaan Agis hingga mengambil suami nya.
Karena ambisi nya ia kehilangan segalanya, dan karena ulahnya juga ia harus kehilangan kebebasan.
Pantas jika ia mendapatkan hukuman sebab selama ini ia sudah jahat dan tega terhadap orang orang yang menyayangi nya.
Tak seharusnya ia membalas semua kebaikan mereka dengan kesakitan dan air mata, Kini ia lah yang menangis sendiri.
Erika teringat pada Rayan dan putra mereka, Noval.
Kalau saja ia bersikap baik pada Rayan mungkin keadaan nya akan lain, Ramlan bahkan tidak menyukai nya.
Ia terus membandingkan Ia dan Agis yang memang baik.
Ia malahan bermain gila dengan arsen, dan pria itu kini telah mati karena ulahnya.
Erika benar benar kalut hingga mengambil pilihan itu, sekarang bukan hanya jadi tahanan tapi juga menjadi bulan bulanan Kedua istri Arsen.
"Lo benar-benar gila ya! kenapa Lo bunuh Bapak nya anak gue !"
Salah satu istri Arsen datang memakai dan mencaci nya.
"Awas gue akan balas setelah Lo keluar dari penjara !"
Ancam istri Arsen penuh kebencian.
"Ya tuhan apakah masih ada kesempatan untuk ku bertobat, aku benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Aku akan terima segala hukuman dan pasrah jika harus berada di penjara kalau itu menjadi jalan ku untuk kembali pada mu !"
Batin Erika menangis.
"Bang Amir, Agis... maafkan aku !"
gumam Erika menangis dalam hati.
__ADS_1
*
Sedangkan Rayan hanya bisa berpangku tangan mendengar kabar tentang mantan istrinya itu, Ia tidak tahu harus bagaimana ? Ia sendiri tidak bisa menolong Erika apalagi dengan kondisi keuangan nya yang tidak seperti dulu.
Ia bertahan hidup pun dari kafe yang ia kelola pemberian Agis, sementara uang hasil penjualan rumah Rayan simpan untuk pengobatan Mata Noval nanti.
Ia ingin Noval bisa normal seperti anak yang lain nya meskipun Ibunya seorang napi, Semua begitu memilukan dan menyakitkan.
Meskipun mungkin itu akan berdampak pada masa depan Noval, namun Rayan sudah berencana untuk tidak mengakui Erika sebagai ibunya.
kelak Akan ada seseorang yang menggantikan posisi Erika sebagai ibu nya Noval.
"Erika di tangkap polisi ?"
Tanya Ramlan, keadaan nya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"ya, tapi Rayan sudah tidak peduli yah biarkan saja ia dengan jalan hidup nya sendiri. selama ini Rayan sudah baik dan beberapa kali memberikan kesempatan tapi dia tidak pernah mau berubah, semoga kehidupan di jeruji besi membuat nya belajar dari kesalahan.
Rayan juga bukan orang yang benar, Rayan juga banyak salah dan Rayan ingin memperbaiki semua nya !"
Cakap Rayan bersungguh sungguh ingin memperbaiki kesalahannya.
"Ayah akan dukung, Agis juga sudah bahagia kan. ikhlaskan dan relakan semua yang sudah terjadi. jangan pernah lelah untuk tetap berjuang demi kebahagiaan mu dan Noval !"
Sergah Ramlan menepuk pundak Rayan.
Sementara Yuna kini bersama Amir, pria itu kasihan pada Yuna yang kini tiada tempat untuk pulang.
Amir bersyukur karena memiliki istri yang baik dan pengertian, ia bahkan yang menyuruh Amir untuk meraih Yuna.
"Bang Amir, Yuna enggak apa apa pulang saja ke Bandung. Ada nenek di sana !"
Ujar Yuna, memang hanya perempuan tua yang tersisa.
Yuna tak enak karena Amir dan istri nya bukan siapa-siapa, ia tidak mau merepotkan dan berpikir untuk pulang saja ke Bandung.
Nanti ia akan pindah sekolah, kalau tidak ia akan cari pekerjaan, kalau di jakarta ia tidak ada kerabat sama sekali jadi lebih baik pulang saja.
"Tidak apa-apa Yuna, kamu di sini saja dengan Bang Amir !"
Jawab Amir tidak tega pada anak gadis yang kini sekolah tiga SMP.
"Enggak bang, Yuna tidak mau merepotkan !"
Jawab Yuna menundukkan kepalanya, Ia benar benar malu pada Amir sementara kakak nya sendiri tidak segan menyakiti Amir.
"Begini saja Yuna, kamu di sini bersama kami sampai lulus SMP setelah itu kamu boleh pulang ke Bandung !"
__ADS_1
Saran Amir karena memang sekolah nya tinggal beberapa bulan lagi.
"Ya benar Yuna, jangan sungkan kita di sini sayang sama kamu !"
Jawab istri Amir begitu memilukan, kenapa bukan kakak nya yang mengatakan seperti itu.
"terima kasih kak... Yuna harap Tuhan membalas semua kebaikan kalian !"
Jawab Yuna menyeka air matanya.
Uang tabungan ibu nya juga habis di pake oleh Erika sehari hari, Yuna malu jika harus minta uang pada mereka. lalu bagaimana caranya ia mendapatkan uang sendiri?
Yuna berpikir akan menemui ibu kantin dan membantu nya agar ia punya uang jajan sendiri.
...----------------...
...----------------...
Agis sendiri baru tiba di jakarta siang ini, Agis menatap Awan yang bergumul dengan indah.
Sebentar lagi pesawat akang landing, Agis berpikir akan mencari Yuna nanti.
Yuna dan Alan seumur hanya mereka tidak tumbuh besar bersama karena alan di bandung dan Yuna di jakarta.
Tapi mereka saling mengenal karena sebelumnya Yuna selalu pulang ke Bandung jika hari raya, mereka selalu bertemu jika Agis dan Erika bertemu.
"Paman langsung pulang ke Bandung saja gis, enggak apa-apa kan ? nanti Rahma jemput !"
Ujar bibi.
"ya sudah tidak apa-apa Bi, tapi biarkan Alan di rumah mas Ibra dulu. besok Agis antar pulang, sekolah nya juga masih libur kan ?!"
Ujar Agis dan bibi mengangguk setuju.
Tak ada percakapan berarti dengan Reni, Agis bersikap sewajarnya meskipun terkadang ia bersikap tidak ramah.
Yang terpenting adalah sikap Ibra, karena Reni bukan siapa siapa dalam rumah tangga nya. Ia membantu merawat si kembar sebisanya sebab sudah ada dua baby sitter yang bertugas merawat mereka.
"Alhamdulillah... akhir nya sampai di tanah air, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi."
harap Agis lalu keluar dari pesawat bersama Ibra dan yang lainnya.
Arul sudah menunggu untuk menjemput mereka pulang, Beberapa mobil berjejer siap membawa mereka ke kediaman masing masing.
bersambung...
terimakasih sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1