Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
extra part 3.


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semakin mendekati hari perkiraan lahir. Agis menghela nafas panjang saat merasa perut nya sedikit mules. Bolak balik ke kamar mandi tapi tidak ada hasil nya.


"sayang !"


Seru Ibra masuk ke kamar setelah kembali dari masjid menunaikan shalat subuh berjamaah.


"Mas....!"


Jawab Agis sedikit meringis merasa sensasi yang berbeda pada perut nya.


"Sayang, kamu kenapa ?"


Tanya Ibra mendekati Agis lalu menyentuh perut buncit istri nya itu.


"Kayaknya kontraksi mas, mules!"


jawab Agis mengigit bibirnya.


Dokter memang menyarankan kepada mereka agar sering berhubungan agar cepat mengalami kontraksi.


Agis menatap wajah tampan suami nya dengan wajah merona.


Seperti nya semua terjadi karena percintaan mereka berdua.


"Ya sudah kamu tenang ya sayang. Mas telpon ibu dulu !"


Ujar Ibra lalu mengambil ponsel kemudian menghubungi Rosa dan memberi tahu keadaan Agis.


"Kemari sayang !"


Ujar Ibra meraih tangan Agis untuk duduk di pangkuan nya.


"Jangan panik ya. Ibu kata kita harus tenang!"


Agis mengangguk sambil menatap wajah Ibra yang tenang sambil mengusap perut nya.


"Jagoan Daddy harus bisa kerja sama Mommy ya !"


Bisik Ibra pada perut Agis dan langsung di respon pergerakan oleh calon bayi mereka.


Agis yang tengah menahan mules langsung terkekeh kecil.


"Semua keperluan bayi sudah ada di dalam tas kan ?"

__ADS_1


Agis mengangguk lalu memeluk leher Ibra.


"Ya sudah kita turun ke bawah. Sebaiknya kamu sarapan dulu sayang. Biar ada tenaga ya!"


Ajak Ibra lalu beranjak dari duduknya.


Ini adalah hal pertama untuk mereka berdua, sebab saat Azizah melahirkan Ibra tengah mengurus pekerjaan nya hingga saat itu ia sudah mendapati istrinya di ruang persalinan.


"Yun, tolong kamu bawa tas perlengkapan untuk melahirkan di kamar ya !"


Titah Ibra pada baby sitter sava.


"Baik pak !"


jawab nya lekas lalu pergi mengambil tas. Kedua buah hati nya masih tertidur.


Agis terdiam merasa kan sensasi itu datang lebih cepat dari biasanya.


"Hm... mas!"


Ujar Agis meringis memegang tangan Ibra.


"sabar ya sayang !"


cakap Ibra lalu mendekati Agis kemudian menyuapi nya makan.


Ibra langsung menyuapi Agis nasi goreng spesial.


Tak lama Rosa dan Dava datang ke rumah itu. Keduanya langsung masuk dan menghampiri Agis dan Ibra di ruang makan.


"Sudah mulai kontraksi gis ?"


tanya Rosa mendekati nya.


"Ya Bu. Kita ke rumah sakit sekarang ?"


tanya Ibra.


"Ya udah sekarang saja !"


Jawab Rosa lalu membantu Agis beranjak dari duduknya.


"Tas nya sudah di mobil pak !"

__ADS_1


Ujar Yuni saat Ibra mengangkat tubuh Agis dan membawa nya ke mobil.


"Ya sudah kamu Jaga si kembar ya !"


Pesan Rosa lalu masuk ke mobil dan Dava yang mengemudikan mobilnya.


"Sabar ya sayang !"


Agis mengangguk memeluk Ibra, Ia hanya menghela nafas panjang saat rasa itu kembali datang.


"kamu yakin enggak mau ambil jalan Cesar ?" tanya Rosa menoleh ke arah Agis dan Ibra.


"enggak Bu. Agis mau lahiran secara normal saja !"


Rosa mengangguk lalu kembali fokus pada jalan.


"Ya kalau memang bisa normal tidak apa apa. Tidak ada masalah kan ?"


Ujar Dava dan di anggukan oleh Rosa. Ia hanya khawatir dengan kondisi Agis mengingat Azizah dulu. memang berbeda sebab kehamilan Azizah memang lemah. Seharusnya dulu ia mengambil jalan secar. Namun kembali pada ketepatan tuhan yang memang mengharuskan Azizah berpulang dengan cara melahirkan kedua putri nya. Insyaallah Sahid sebab Azizah juga merupakan istri yang Solehah.


Rosa bersyukur karena Ibra mendapatkan pengganti yang sama baiknya seperti Azizah.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Gegas Ibra mengangkat tubuh Agis dan meletakan nya pelan di brankar.


Gegas suster membawa nya ke ruang persalinan.


Dan Ibra terus mendampingi istri nya itu.


"Sudah kontraksi ?"


Tanya dokter kandungan mengulas senyum lalu memeriksa keadaan Agis.


"hm, baru pembukaan lima. Tunggu satu jam lagi sampai ketubannya pecah ya !"


Ujar dokter lalu mengusap perut Agis.


"Saya boleh tetap mendampingi kan dokter ?!"


"Tentu saja boleh pak Ibra. Itu memang seharusnya seorang suami mendampingi istri nya yang hendak melahirkan !"


Jawab dokter lalu meminta suster untuk mempersiapkan segala keperluan nya.


****

__ADS_1


Bersambung...


Terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2