Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
bukan kita yang dulu.


__ADS_3

Agis melajukan mobilnya menuju tol, Ia harus segera pergi ke Bandung dan beberapa kali menyeka air matanya yang mengalir tak terkendali.


Rasa perih itu terus menggerogoti dinding hatinya, rasanya ingin berontak dan mengatakan bahwa ia tidak suka keadaan dimana Rayan mengabaikan nya begitu saja.


Agis harus mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, selama ini ia terlalu diam dan berharap keadaan membaik, namun yang terjadi Rayan semakin jauh dengan nya.


Saat ini Ia harus mengurus keluarganya terlebih dahulu setelah itu Ia akan mencari tahu tentang Rayan dan Erika, feeling nya begitu kuat merasakan ada sesuatu di antara keduanya. meskipun Agis berharap bahwa semua itu hanya ketakutan nya saja.


benarkah Erika setega itu padanya ?


sepanjang perjalanan benak nya tak lepas dari Rayan dan Erika, Agis teringat dengan Andi mungkin saja Andi tahu hubungan keduanya.


Agis akan hubungi Andi nanti, saat ini Ia harus fokus pada kesehatan ibu nya.


Dua jam berlalu Agis sampai di Bandung, gegas ia melajukan mobil nya ke rumah sakit dimana ibu nya di rawat.


Agis berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah gontai, wajah nya sembab karena sejak tadi menangis karena Rayan.


"paman....!"


seru Agis menghampiri Santoso yang duduk di kursi tunggu bersama adik laki laki nya.


"Kakak...!"


Ujar Alan memeluk Agis yang baru sampai di rumah sakit. Alan berusia empat belas tahun dan baru kelas dua SMP.


"Kamu sabar ya Alan, ada kakak...!"


Santoso menjelaskan tentang kondisi Linda yang drop karena serangan jantung, saat ini beliau di rawat di ICU.


"Kita doa kan saja agar ibu mu kuat Agis...!"


Ujar Santoso memberikan semangat untuk kedua keponakan nya.


Agis mengangguk lalu masuk ke ruangan ICU sendiri karena dokter melarang berdua.


Agis menarik nafas nya agar ia tidak menangis, kondisi sang ibu begitu memprihatinkan. beberapa pasang alat menempel pada tubuh nya.


"Ibu Agis datang...!"


Agis duduk di samping Linda, seketika itu tangis nya pecah tak tertahan kan. Bukan hanya tentang kondisi sang ibu, tapi juga Agis sedih karena di saat seperti ini ia sendiri tanpa Rayan.


"Agis ingin kuat seperti ayah dan sabar seperti ibu...!"


Agis menyeka airmata nya sendiri, dulu saat seperti ini ada Rayan yang menghapus air mata nya tapi saat ini ia benar benar sendiri.


**


Hingga malam larut Rayan belum juga menampakkan hidung nya, Agis tengah makan bersama Alan.


"kak kemana kak Rayan ?"


tanya Alan membuat Agis menghentikan gerakan nya yang hendak menyuap makanan.


"entah lah katanya sibuk mungkin sebentar lagi datang !"


Agis juga tidak tahu, ia berbicara seperti itu hanya untuk menyenangkan diri nya sendiri.


meskipun sebenarnya ia begitu menderita tanpa Rayan.


Agis melahap makanan nya dengan paksa, rasanya tak berselera, tapi ia harus tetap makan dan siapa yang akan peduli pada nya jika bukan dirinya sendiri.


Agis tersenyum getir mengingat pria itu, Ironis nya Ia masih mengharapkan Rayan berada di hadapannya.

__ADS_1


memeluk serta mengusap punggung nya memberikan ketenangan, Agis mengigit bibirnya sendiri menahan air mata.


Tak ingin menangis lagi, tapi bulir bening itu terjun dengan bebas nya membuat pilu.


**


Pukul sebelas malam Rayan melaju kan mobil nya menuju Bandung, susah payahnya Ia meminta izin pada Erika untuk pergi karena saat ini Agis sangat membutuhkan nya.


"ya sudah, tapi besok pagi kamu harus udah balik ke Jakarta ya bang....!"


"ya sayang besok ibu mau ajak kamu pergi membeli keperluan untuk syukuran tujuh bulanan kandungan bayi kita."


"makanya kamu cepat pulang bang!?"


jawab Erika dan di anggukan oleh Rayan.


Tiga jam berlalu Rayan sampai di rumah sakit, ia langsung menghampiri Agis yang tengah duduk di kursi tunggu dan terlihat Alan sudah tertidur pulas di sofa.


"Agis.....!"


Agis langsung menoleh dengan ekspresi wajah biasa, tidak kaget atau senang melihat kedatangan Rayan. kemana saja ia beberapa jam ini?


Agis terdiam saat Rayan menyodorkan beberapa bungkusan makanan.


"maaf tadi ada kerjaan mendadak."


Agis tak menjawab selalu itu yang menjadi alasan Rayan berkilah dari permainan nya.


"gimana keadaan ibu dek ?"


Tanya Rayan duduk di samping Agis. dek bukan sayang yang selalu Rayan utarakan seperti dulu.


"Ibu koma....!"


jawab Agis singkat menatap ke depan dengan pandangan kosong, rasa nya seperti mati rasa dan hampa meskipun ada Rayan di samping nya.


"Untuk apa ? karena apa ?"


Rayan tertegun mendengar pertanyaan Agis lalu ia menangis.


Rayan tahu akan kesalahan nya, tapi ia juga takut kalau Erika pergi meninggalkan nya.


Suami takut istri....!


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kita ? Aku merasa kita bukan kita seperti yang dulu"


ucap Agis membuat Rayan terpaku. "aku tidak bisa menuduh karena aku tidak punya bukti apa apa !"


gumam Agis menoleh ke arah Rayan dengan derai air mata.


"Abang minta maaf karena selalu sibuk Agis !"


Agis menyandar kan tubuh nya pada kursi, rasa nya tak sanggup menatap wajah Rayan.


"aku ngantuk bang ! biarkan aku tidur !" jawab Agis mengalihkan pembicaraan, Agis malas membahas sesuatu yang tidak ada jawaban nya.


Rayan langsung merengkuh tubuh Agis dan membeku saat mendengar Istri nya menangis pilu.


"dulu juga kamu sibuk, tapi kamu tidak pernah melupakan aku...!"


ujar Agis sambil terisak membuat Rayan semakin membeku.


"maafkan Abang Agis !"

__ADS_1


Ujar Rayan memeluk erat tubuh Agis yang masih bergetar karena menangis.


"ya tuhan ampuni aku...!"


*


pagi...


Rayan mematikan ponsel nya saat Erika tidak henti menghubungi nya, ia tidak bisa meninggalkan Agis karena kondisi sang ibu tengah kritis. Rayan sudah memberikan pemahaman pada Erika namun ia tidak mau tahu.


"kenapa bang ?"


Tanya Agis melihat Rayan seperti gelisah.


"enggak apa apa dek ! gimana keadaan ibu !?"


Rayan tak mungkin meninggalkan Agis dalam keadaan seperti ini ia juga masih punya hati. semalam saja Agis menangis karena ia datang larut.


"Abang mau balik ke Jakarta ?"


Tanya Agis memindai wajah Rayan.


"Enggaklah, mana mungkin Abang biarkan kamu sendirian dek !"


Agis terdiam, tapi Rayan terlihat gelisah.


"ya sudah...!"


ujar Agis duduk di samping Rayan.


***


Erika memanyunkan bibirnya saat Rayan mengatakan kalau ia tidak bisa pulang karena kondisi Linda semakin kritis.


Devita menghubungi nya untuk pergi membeli keperluan bayi nya kemudian Erika langsung turun ke bawah.


Erika tertegun saat melihat sang ibu tiba-tiba datang ke apartemen nya.


"Ibu, ada apa ?"


sampai saat ini Erika belum memberi tahu tentang hubungan nya dengan Rayan.


"Ibu ingin bertemu dengan kamu nak, kamu mau pergi kemana ?"


"hm, Erika mau pergi kekantor?!"


Erika tertegun saat menyadari kalau ini weekend.


"hm, Erika harus lembur Bu, nanti Erika ke rumah. ayo Erika antar ibu cari taksi.!"


Ujar Erika, ia sudah ada janji dengan Devita di mall, terpaksa menyuruh ibu nya pulang.


Erika memberikan beberapa lembar uang seratus ribu pada Ibunya sebelum naik taksi.


"Nanti Erika ke rumah ya!?"


Sang ibu tertegun memperhatikan postur tubuh Erika seperti wanita hamil ? tapi masa iya ?


**


***


****

__ADS_1


bersambung...


terimakasih para reader yang sudah mendukung author 😍😍😍


__ADS_2