
Agis terisak tak henti mengingat buah hati nya yang pergi sebelum ia ketahui kehadiran nya, semua hancur karena rencana busuk Devita.
Jiwa nya meringis perih mengingat semua perlakuan buruk Devita pada nya, tidak dendam tapi apakah salah jika ia benci ?
Kenapa perempuan itu begitu tega pada nya?
Malam itu begitu dingin pasca hujan deras yang mengguyur kota Bandung, dan Rayan juga sudah kembali setelah Susanto memintanya untuk pulang.
Agis tidak bisa melupakan apa yang Rayan katakan kalau calon bayi mereka berjenis perempuan, mimpi itu ternyata sebuah firasat tentang kejadian yang menimpa nya.
"biarkan mereka bersama ibu, nak!"
mengingat ucapan sang ibu membuat Agis semakin sesak hingga sulit bernafas.
Ibra mencoba menghubungi Agis namun beberapa kali tidak ada jawaban, hingga ia trus mencoba nya hingga beberapa panggilan terlewati.
Agis menoleh ke arah ponsel yang berdering lalu merogoh nya dengan gemetar, saat ini ia butuh seseorang yang bisa membuat nya tenang karena rasa sakit itu kian merajam.
"Halo mas....!"
jawab Agis dengan terisak membuat Ibra terpaku sejenak.
"Agis kamu kenapa ?"
Tanya Ibra dengan cemas.
"Agis sesak mas dan rasanya lelah sekali !"
Jawab Agis sambil menangis membuat Ibra khawatir.
"tunggu mas akan datang !"
Jawab Ibra lalu berjalan cepat keluar dari rumah kemudian menghampiri mobi.
Waktu menunjukkan sepuluh malam dan Ibra mengajak Revan untuk ikut dengan nya ke Bandung.
"Ada apa bra ? kita kan baru pulang tadi siang dari Bandung dan Sekarang balik lagi ke Bandung !"
Ibra tidak menjawab ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Bra jangan gila ya! gue masih mau hidup !"
ucap Revan berpegangan karena takut.
"Tenang aja! Lo enggak tahu ya gue pernah jadi pembalap !"
Jawab Ibra terkekeh kecil padahal ia sangat khawatir dengan keadaan Agis.
"pembalap apa Lo ?"
__ADS_1
jawab Revan menggeleng kan kepala nya.
Karena sudah malam jalanan cukup lenggang hingga Ibra cepat sampai di bandung dalam waktu dua jam kurang.
Ibra bergegas keluar dari mobil saat sampai di rumah Agis lalu dengan cepat Ibra membuka pintu.
"Ibra kebetulan kamu datang !"
Ucap Susanto dengan wajah cemas.
"Ada apa paman !"
tanya Ibra semakin khawatir.
"Agis pingsan !"
Ibra melebarkan matanya lalu masuk ke dalam kamar dan melihat Agis tidak sadarkan diri dengan wajah sembab dan mata yang bengkak.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang !"
Ucap Ibra lalu mengangkat tubuh Agis dan membawa nya ke mobil.
Entah apa yang terjadi dengan Agis hingga ia sampai tidak sadarkan diri. Gegas Ibra membawa Agis ke ruang pemeriksaan dan meminta dokter memberikan selang oksigen membantu pernafasan Agis yang seperti nya sesak.
"Agis sadar lah !"
"Agis....!"
tambah Ibra mulai panik dengan kondisi calon istrinya itu.
Keadaan menyakitkan itu menghantam keras mental nya hingga berimbas pada kondisi tubuh nya yang melemah.
"Paman....!"
Seru Ibra tidak tahu harus berbuat apa.
"Tenang Ibra dokter sedang memberikan penanganan !"
Terlihat sang bibi menangis memeluk Alan yang tidak bergeming.
Waktu sudah sangat larut dan keadaan rumah sakit pun sudah sangat sepi.
Tak lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Ibra dan Susanto langsung menghampiri.
"Bagaimana keadaan nya dokter ?"
Tanya keduanya bersama.
"Sudah lebih baik dan mulai tenang, maaf seperti nya jiwa sedikit terguncang. apa sedang ada masalah ?"
__ADS_1
Susanto tertegun mendengar penuturan Dokter, agis sendiri tidak bercerita apa apa setelah bertemu dengan Rayan.
Bibi juga tidak memaksa karena saat itu Agis seakan bungkam dan hanya air mata yang menghiasi wajah nya yang sendu.
"Ada apa Paman ?"
Tanya Ibra membuat Susanto menghela nafas berat.
"Tadi ada Rayan datang dan paman tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena saat itu Agis juga bungkam dan tadi tiba tiba Bibi berteriak saat melihat Agis sudah pingsan !"
Jawab Susanto lalu Ibra menceritakan kedatangan nya yang tiba tiba juga karena agis menangis saat di telepon.
"Kita akan memindahkan nona Agis ke ruang perawatan, sebaiknya di rawat satu dua tiga hari ini !"
"Lakukan yang terbaik dokter !"
jawab Paman sedang kan Ibra hanya diam saat mendengar Rayan kembali menemui calon istrinya itu.
Apa waktu dua minggu tidak terlalu lama jika menilik keadaan Agis seperti sekarang ini ?
"Ibra ayo kita ke ruang perawatan !"
Ajak Susanto mengikuti suster membawa Agis dalam brankar.
"Ibra apa kamu akan kembali ke jakarta ?"
tanya Susanto waktu menunjukkan pukul dua pagi.
"tidak paman dan Ibra saja yang tunggu Agis di rumah sakit. paman kembali saja ke rumah dengan Alan sebab Alan juga kan baru sembuh !"
"ya, sudah kalau begitu Ibra !" jawab Susanto.
"ya, Paman nanti Revan yang antar kalian sekaligus Revan istirahat di rumah saja !"
Mereka mengangguk lalu pamit dan meminta tolong Ibra untuk menjaga Agis.
Ibra masuk ke dalam ruang perawatan setelah mereka pergi meninggalkan rumah sakit, Ibra melangkah menghampiri Agis yang sudah terlelap setelah dokter memberikan obat penenang.
Ibra menatap Agis penuh iba !
tergambar kesedihan yang mendalam pada raut wajah nya, Ibra tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Agis drop seperti ini.
"Agis, mas ingin menjaga mu dengan sungguh sungguh. Tak ingin melihat raut kesedihan pada wajah mu!"
batin Ibra duduk di samping ranjang lalu melipat kedua tangannya menatap wajah yang sudah mulai tenang.
bersambung...
Terimakasih sudah berkunjung ke novel otor ini 😍😍😍😍
__ADS_1