Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
saling bukan paling.


__ADS_3

Ibra keluar dari mobil dan berjalan dengan gagah nya menghampiri rumah Agis dan di dalam Bibi sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan keluarga Ibrahim.


Rosa dan Suci menggendong si kembar berjalan di belakang Ibra.


"Assalamualaikum...."


Jantung Agis berdebar kencang saat mendengar suara bariton dari pria tampan yang menggunakan jas berwarna hitam itu.


"walaikumsalam...ayo masuk !"


Jawab Susanto menyuruh mereka masuk lalu bersalaman satu persatu, bibi dan yang lainnya langsung menghidangkan makanan serta minuman.


"Ya ampun repot-repot !"


Ujar Rosa senyum basa basi pada keluarga Agis, Ia memindai perempuan yang duduk di kursi roda.


"Tidak, ayo silahkan minum dulu !"


jawab Susanto sementara Agis hanya melempar senyum.


"Terimakasih pak Susanto !"


Ujar Rosa lalu memberikan si kembar pada baby sitter.


Pembantu ikut serta lalu membawa makanan yang di bawa oleh Ibra dari rumah.


"Bawa oleh-oleh segala !"


Ujar Bibi senyum lalu menerima bawaan tersebut lalu masuk ke dalam.


"Langsung saja ya pak Susanto !"


Ujar Rosa mengulas senyum dan di anggukan oleh Susanto sebagai wali Agis.


"Saya dan keluarga datang untuk mengenal keluarga ini lebih dekat, niat hati ingin berbesan dan menjadi kan Agis sebagai menantu saya !"


Rayan yang ingin tahu ada apa menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Rosa sampaikan.


"Ringkas nya Ibra datang untuk melamar Agis, hanya saya memberitahu sebelumnya kalau Ibra sudah pernah menikah dan punya dua anak perempuan. Saya rasa Agis juga sudah tahu kalau Ibra seorang duda yang di tinggal meninggal oleh istrinya."


Ujar Rosa menjelaskan tentang keadaan Ibra dan berharap kalau Agis bukan hanya menerima Ibra tapi juga kedua anak nya.


"Saya malah lebih minder Bu! sebab seperti yang anda lihat kalau saya duduk di kursi roda, apa mas Ibra yakin mau menjadikan saya istri nya ?"


"Mas yakin dek, mas akan berusaha agar kamu bisa jalan lagi !"

__ADS_1


"Ya, mungkin itu bisa di usahakan tapi seperti yang telah Agis katakan kalau Agis enggak bisa kasih anak !"


Ujar Agis membuat Rayan terpaku dan merasa sesak karena sebenarnya Agis tidak seperti itu hanya saja dia tidak bodoh.


"Kalau masalah anak sudah ada sava dan Marwah !"


jawab Ibra menyakinkan Agis bahwa ia mau menerima ia apa adanya.


"Ya sudah intinya kalian saling menerima kekurangan masing-masing, itu saja paman rasa tidak ada masalah. ya kan Bu Rosa !?"


Ujar Susanto ingin tahu tanggapan Rosa.


"Ya saya gimana mereka aja, yang terpenting kalian saling aja bukan paling.


Paling merasa benar, paling ingin di hargai, tapi saling. saling mengingatkan,saling memaafkan, saling mendukung, saling menerima !"


Ujar Rosa menanggapi baik dengan baik niat putra sulungnya itu.


"Jadi bagaimana kapan acara akad nya ?"


Sambung Rosa membuat Rayan menitik kan air mata nya, belum lama mereka berpisah tapi Agis sudah Ada yang melamar padahal Rayan berharap kedua nya bisa bersama lagi atau rujuk.


"Bagaimana kalau dua Minggu yang akan datang karena kita juga harus mempersiapkan segala sesuatunya !"


Jawab Susanto membuat Agis termangu


"Apa tidak terlalu cepat paman ?"


Tanya Agis menoleh ke arah Ibra.


"Mas rasa tidak !"


jawab Ibra membuat Agis tertegun.


"Mas malah ingin nya Minggu depan !"


jawab Ibra terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Agis tampak terkejut.


Semua ikut tertawa kecil melihat tingkah laku kedua nya, yang satu ingin lebih cepat dan yang satu tampak bingung.


Ibra memakai kan kembali cincin yang sempat Agis berikan setelah mereka pulang dari Dufan, karena hubungan mereka sudah pasti Agis juga tidak menolak cincin tersebut.


Rayan melangkah dengan gontai masuk ke dalam mobil, dan Rasanya hancur mengetahui bahwa Agis akan menikah dengan pria itu, apa sebelumnya Agis memang sudah memiliki rencana itu hingga ia bersikeras ingin bercerai dengan nya.


Rayan masuk ke dalam mobil dan akan menunggu mereka semua pulang, ia akan tetap berbicara dengan Agis perihal pesan terakhir dari sang ibu.

__ADS_1


Dua jam berlalu...


Ibrahim dan keluarganya pamit setelah makan siang bersama keluarga Agis, mereka banyak berbincang dan bercerita tentang keluarga masing-masing, Susanto senang karena keluarga Ibra sangat ramah pada mereka.


Tidak seperti dulu saat bertemu dengan keluarga Rayan rasanya canggung dan tidak bebas bicara seperti sekarang mereka berbincang dengan keluarga Ibra.


"Mas pulang dulu ya!"


Pamit Ibra pada Agis yang langsung mengangguk.


"Hati hati mas !"


Ibra melempar senyum lalu masuk ke dalam mobil.


Rayan langsung menghampiri Agis saat mobil Ibra sudah menjauh pergi dari rumah itu.


"Agis....!"


Seru Rayan membuat Agis membeku mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal.


"Bang Rayan ?"


Ujar Agis menatap pria yang melangkah semakin dekat dengan wajah sembab.


"Agis....!"


"kamu ada perlu apa bang ?"


Tanya Agis memalingkan wajahnya lalu melajukan kursi roda nya.


Dari dalam Susanto mengamati Rayan yang baru tiba, ia tidak menghampiri namun tetap memperhatikan kedua nya.


Untuk apa Rayan menemui Agis ?


"Ada yang ingin Abang sampaikan sama kamu !"


ujar Rayan, sebenarnya Agis sudah tahu kalau Devita sudah meninggal dan Salma yang memberi tahu nya saat mereka hendak pulang dari Dufan. Namun Agis tidak ingin memikirkan seseorang yang sudah bukan siapa-siapa lagi untuk nya, Bukankah Devita begitu senang saat Ia dan Rayan bercerai ? tak ada kenangan manis bersama perempuan itu, lalu untuk apa mengenang nya ?


*


**


***


bersambung..

__ADS_1


terimakasih yang sudah mampir 😍


__ADS_2