
Pagi pertama di Bandung dengan udara sejuk mengawali status nya sebagai seorang janda.
Ironis, Ia kembali dalam keadaan yang tidak normal dan bukan hanya status nya, tapi juga Keadaan raga nya.
"Tapi kamu membutuhkan aku ?"
Kata kata itu terngiang membuat relung hati perih, Agis memang membutuhkan Rayan tapi tidak dengan keadaan yang seperti sekarang ini.
Bayangan saat bersama Rayan memutar dalam memori nya, Agis memejamkan mata nya ingin melupakan hangat tubuh yang kini berpaling dari nya, membiarkan rasa cinta pada Rayan menghilang seperti embun yang menguap saat tersengat sinar matahari.
Agis menghela nafas berat mengingat Erika, Seseorang yang begitu ia percaya tak menyangka bisa berbuat khianat.
Dan dengan mudah nya ia mengatakan bahwa ia akan pergi, kenapa bukan di saat Rayan merayunya ?dan bukan di saat keadaan sudah hancur dan tidak akan bisa di perbaiki lagi.
Agis bukan seorang wanita yang paham agama, mengerti tentang poligami meskipun ia tahu bahwa jika ia ikhlas jaminan nya adalah surga, Namun ia terlalu naif jika bertahan.
Agis bukan tipe perempuan yang bisa menutupi segala kesedihan nya, atau bersembunyi di balik bantal saat suami nya tengah merengkuh wanita lain.
Perpisahan adalah pilihan tepat selain terus bertahan dalam susahhati.
Agis menoleh ke arah Alan yang hendak berangkat ke sekolah, satu satu nya harta yang paling berharga untuk nya.
"Alan kamu sudah sehat ?"
Alan mengangguk lalu mencium tangan Agis.
"Semangat ya kak ?!"
Agis melempar senyum lalu mengangguk.
Alan sudah besar dan ia tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga kakak nya.
Alan masih ingat saat sebelum Agis pergi ke Jakarta, tiba tiba ia menyenggol gelas hingga pecah dan hal itu seperti pertanda kehancuran rumah tangga nya.
"Alan kalau kamu butuh sesuatu bilang saja pada kakak, jangan sungkan ya!"
"baik kak...!"
__ADS_1
jawab Alan kemudian pergi meninggalkan Agis sendiri.
Rumah tak lagi hangat seperti saat masih ada sang ibu, namun Agis berusaha untuk ikhlas menerima ketentuan Nya.
Bukan hanya mereka yang telah pergi karena pada dasarnya kita juga akan pulang, dan entah kapan waktunya hanya Sang pencipta yang tahu.
**
Rayan menggenggam tangan Devita yang dingin, Perempuan itu sudah sadar namun ia tidak bisa berkata apa apa dan hanya air mata yang menjadi saksi kesakitan nya.
"ibu sabar ya ! kita akan pergi ke Jerman untuk pengobatan sekaligus Rayan juga mau bawa Noval !"
Devita menggeleng lalu kembali menitikkan air mata nya.
"Bu, Noval itu anak Rayan apapun keadaannya !"
Tukas Rayan kecewa dengan Devita karena ia tidak mau menerima Noval yang tidak sempurna.
Namun Rayan mencoba untuk mengalah karena saat ini Devita juga tengah tidak berdaya dengan penyakit kanker otak nya.
"Sudah lah Ray, minta Andi untuk mengurus keberangkatan kita ke Jerman !"
"hum suruh Wiro saja sebab Andi sudah keluar dari perusahaan !"
*
"Lo cerai sama Agis, Ray ?"
tanya Andi saat mengetahui perceraian keduanya.
"Agis yang menginginkan hal itu, gue enggak menceraikan Agis tapi dia yang menggugat cerai gue !"
"kalau Lo bisa bersabar sedikit saja gue yakin Lo enggak akan pernah kehilangan Agis, enggak akan ada yang seperti Agis dan Erika enggak ada apa apa nya di bandingkan dengan Agis !"
Ujar Andi menyesalkan keputusan Rayan lalu detik itu juga ia mengundurkan diri dari perusahaan.
Rayan bingung dan tidak tahu harus bagaimana, Ia juga merasa kehilangan dan terluka karena perpisahan ini, tapi ia tidak bisa terus memaksa Agis untuk tetap menjadi istri nya dan bahkan Agis lebih memilih untuk mengakhiri hidup nya di banding kan hidup dengan nya, lalu apa yang harus ia lakukan ?
__ADS_1
*
"ya sudah kalau begitu biar ayah bicara dengan Wiro !"
Rayan mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Rayan melajukan mobilnya menuju rumah Erika, istri nya itu bilang kalau Noval demam dan ia akan membawa nya untuk berobat.
Satu jam kemudian Rayan sampai di rumah dan dari luar terdengar suara tangisan Noval yang tak henti hentinya, gegas Rayan masuk ke dalam rumah.
"Agis.....!"
Seru Rayan tertegun sendiri mengapa ia menyerukan nama Agis dan hal itu membuat Erika membeku sembari menggendong bayi mereka yang masih menangis.
"Maaf Erika...!"
Erika tidak menjawab perkataan Rayan dan hanya rasa sakit yang menggerogoti hati nya, Erika tahu kalau posisi Agis lebih besar di hati Rayan di banding kan diri nya dan hal itu membuat Erika sesak.
"Ayo kita bawa Noval ke rumah sakit...!"
ajak Rayan lalu melangkah meraih tangan Erika.
Dalam benak nya tidak henti memikirkan Agis, Rayan juga tidak tahu harus bagaimana sementara rasa rindu itu kian mendesak jiwa nya.
"Erika, maafkan Abang !"
Erika hanya mengangguk saja lalu menoleh ke arah Seseorang yang ia kenal, Amir.
pria itu bersama istrinya yang tengah hamil besar dan waktu itu dokter bilang Amir mandul, tapi kenyataannya istri nya hamil dan hal itu menambah kepedihan Erika karena susah payahnya ia meraih Amir, tapi saat masalah itu datang Erika tidak segan memutuskan untuk berpisah dan Amir menerima dengan lapang dada tanpa serta merta ia bahkan memberikan rumah itu untuk nya, dan sekarang Amir membuktikan bahwa keajaiban itu nyata, tidak ada doa yang sia sia.
*
**
****
bersambung...
__ADS_1
happy reading..