Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
tanggung jawab mas!


__ADS_3

Erika menangis sendirian di depan ruang ICU, seandainya saja bisa memutar waktu maka ia tidak akan pernah meninggalkan Amir hanya karena tes sialan itu.


"Erika, semoga Abang bisa selalu membuat kamu tersenyum senang !"


Ucapan Amir kala itu ia adalah pria yang benar benar tulus pada nya.


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi untuk berpisah dengan Amir, dia itu sangat baik Erika !"


Agis juga pernah memberikan nya nasehat untuk tetap bertahan dalam badai yang menerpa rumah tangga nya, Namun justru ia menjadi badai dalam rumah tangga sahabat nya sendiri.


Agis sangat baik dan banyak membantu nya, Tak ada yang seperti Agis.


Pantas saja jika ia mendapatkan sesuatu yang lebih saat ia kehilangan, sebab yang tulus akan mendapatkan yang terbaik.


"Erika....!"


Seru Amir tertegun melihat Erika yang tampak kacau, Amir hendak menjemput ibu mertua nya yang akan pulang setelah seminggu di rawat di rumah sakit itu.


"Kamu kenapa !?"


Tanya Amir memindai wajah mantan istri nya yang sendu.


Dulu Amir sangat mencintai Erika, tapi Erika meminta berpisah hanya karena mereka belum mendapatkan anak, kata nya Amir mandul tapi saat menikah dengan Alifa, perempuan itu langsung hamil tanpa menunggu waktu lama.


Entah salah nya dimana ? mungkin kurang nya rasa syukur dan sabar.


"Enggak apa-apa bang !"


Jawab Erika lalu masuk ke ruang ICU.


Amir menghela nafas panjang lalu pergi meninggalkan tempat itu, Amir mendengar kabar kalau Erika ada affair dengan Rayan suami sahabat nya sendiri, kasihan Agis ? padahal Agis sangat baik pada Erika.


Amir tidak tahu mengapa Erika menjadi serigala berbulu domba, Sebelum nya ia begitu polos dan tidak pernah neko neko, tapi sekarang justru ia tega menikam teman nya sendiri.


Erika membeku melihat alat pendeteksi jantung berhenti, Gegas ia mendekati sang ibu yang sudah terbujur kaku.


"Ibu ......!"


Teriak Erika memeluk Amina sambil menangis, perempuan yang sudah melahirkan nya itu pergi untuk selamanya.


Dokter sudah menduga apa yang terjadi, Kondisi Amina memang sangat lemah.


"Sabar ya Bu !"


Ujar dokter melepaskan alat alat yang berada di tubuh Amina.


Rayan mengehentikan langkah nya saat melihat Erika dan Yuna menangis di depan ruang ICU, gegas ia menghampiri Erika.


"Erika....!"


Erika tetap menangis memeluk adiknya.


Rayan menghela nafas panjang lalu menyuruh asisten nya untuk mengurus kepulangan Amina dari rumah sakit.


Sebagai sahabat yang baik harus nya saat Ibu Agis meninggal ia datang dan bukan hanya mengirim kan pesan berbela sungkawa, Ia seakan tidak perduli dengan penderitaan Agis, dan saat ini ia merasakan bagaimana perasaan Agis. Dulu bukan nya ikut berduka dan memberi support, Erika justru terus mengungkung Rayan.


Tapi sekarang Rayan seakan ingin lepas dari nya, Sedangkan ia sangat mencintai Rayan.


"Tolong dong kamu ngerti perasaan Agis, Erika!"


Ujar Rayan dulu masih terngiang dan ia tidak mau tahu.

__ADS_1


Erika semakin terisak mengingat bagaimana ia bersikap tega pada sosok yang selalu membantu nya, dan sekarang Rayan bersikap acuh karena ulahnya juga.


"Aku akan bersikap bagaimana kamu bersikap, jangan hanya ingin di perlakukan baik kalau kamu tidak bersikap baik !"


Ucap Rayan semakin membuat nyeri, tidak ada pelukan hangat dan Rayan sibuk mengurus pemakaman ibu nya. padahal Erika berharap Rayan datang memeluk nya.


...----------------...


Di belahan dunia lain...


Agis senyum melihat Ibra yang tengah mencicipi resep masakan dari nya, Namun tetap Ibra yang memasak makanan tersebut.


"Enak sayang...."


Ujar Ibra menyuapi makanan tersebut.


"Ya, nanti agis masak untuk kamu ya mas!"


Jawab Agis, ia berharap cepat pulih dan berjalan agar bisa membalas semua kebaikan Ibra.


"Ya, mas udah enggak sabar !"


Jawab Ibra duduk di hadapan Agis lalu mengecup pipi nya.


"Tadi waktu kamu ke supermarket Salma telpon dan kasih tahu Agis kalau bulan depan ia mau menikah dengan kak Andi !"


Ujar Agis dan di anggukan oleh Ibra.


"Ya, sempatkan untuk pulang dan mas berharap kamu udah bisa jalan dek !"


Agis mengangguk.


Selain memberi kabar bahagia itu, Salma juga melaporkan tentang keuangan kafe. Alhamdulillah kafe tidak pernah sepi pengunjung dan penghasilan nya juga lumayan.


Ujar Agis membuat Ibra menoleh, ia tengah menuang kan nasi dan daging sayur yang tadi ia masak untuk mereka makan berdua.


"Memang kalau pakai uang mas kenapa ?"


Tanya Ibra duduk di hadapan Agis.


"Agis tahu kalau biaya kita di sini dan rumah sakit itu tidak sedikit, Salma sudah transfer uang kafe kok mas !"


jawab Agis lalu menerima suapan pertama dari Ibra.


"Oh gitu !"


Jawab Ibra Singkat membuat Agis tertegun menatap wajah Ibra.


"Kamu kenapa mas !?"


Tanya Agis merasa kalau Ibra seperti tidak menerima penuturannya.


"Dengar kan mas ya dek..!"


Agis mengangguk sambil mengunyah makanan dari Ibra.


"Setelah akad terucap mulai saat itu juga kamu menjadi tanggung jawab mas, tidak menjadi beban untuk mas dan semua usaha mas untuk kamu dan si kembar jadi jangan pernah merasa menjadi beban, kamu tahu enggak dek ?"


Agis menggeleng kan kepala nya.


"Uang yang mas keluar kan untuk kamu sudah Tuhan ganti berkali lipat, Perusahaan mas semakin maju dan kita banyak tawaran kerja sama, Mas yakin itu juga karena doa dari kamu !"

__ADS_1


Agis mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


Dulu juga ada yang berkata manis, dan pada akhirnya....


"Agis minta sama kamu mas, jangan pernah berubah !


Aku tidak mau berbagi dan biar hanya ada kita saja mas ?!"


Cakap Agis dengan bulir bening yang menetes di pipi nya.


Ibrahim menyeka air matanya lalu memeluk Agis erat, ia pahami maksud Agis berbicara seperti itu.


"Mas tidak akan berjanji, tapi mas akan berusaha untuk selalu membuat kamu bahagia, mas tidak akan membiarkan semua kembali terulang !"


Jawab Ibra lalu mengusap punggung Agis.


"Sudah sayang, kita kan lagi makan ! kamu jangan sedih lagi ya !"


Agis mengangguk sambil tersenyum.


kedua nya melanjutkan makan, Ibra terus menyuapi Agis hingga makanan itu tandas.


"Setelah selesai kita bersiap untuk pergi ke rumah sakit ya!"


Ujar Ibra dan di anggukan oleh Agis lalu keduanya masuk ke dalam kamar.


"Abang ke kamar mandi dulu...!"


Agis mengangguk.


Agis sekuat tenaga mencoba berdiri, Ia hendak membuka lemari untuk mengambil switer nya, sedikit demi sedikit Agis mencoba untuk melangkah karena rasanya sakit sudah berkurang dan ia harus berusaha keras untuk sembuh.


"Sayang...!"


Ujar Ibra bergegas menghampiri Agis yang hendak terjatuh.


"kamu bukan nya tunggu mas !"


cetus Ibra menopang tubuh Agis yang langsung membeku.


"Agis bisa kok mas !"


jawab Agis lalu berpegangan pada tubuh Ibra.


"Udah enggak sakit ?"


Tanya Ibra membuat Agis tertegun melihat bibir Ibra menyunggingkan senyum.


"Udah enggak mas !"


Jawab Agis mendekap erat tubuh Ibra dengan wajah memerah.


"Terima kasih tuhan...!"


*


**


***


bersambung.

__ADS_1


happy reading 😍😍😍


__ADS_2