
Beberapa hari berlalu..
Rayan dan Erika kembali ke tanah air setelah dua pekan di Jerman, Setelah hari itu Rayan tidak pernah menampakkan diri di hadapan Agis. Ia hanya bisa melihat nya dari kejauhan sebab Rayan sadar kehadiran nya di hadapan Agis hanya akan membuat Agis mengingat kesakitan itu.
Erika sendiri mengacuhkan sikap Rayan yang dingin dan cenderung menjauhi nya, keduanya satu kamar hotel namun Rayan tidak pernah menyentuh nya seperti dulu lagi, Keinginan itu seakan hilang dan Rayan malas melakukan hal itu, gairah nya seakan lenyap seiring permasalahan yang membuat sebah di dada.
Rayan termenung sendiri mengingat semua rekayasa almarhum sang ibu, rayan masih tidak percaya jika sang ibu tega melakukan hal itu hanya karena ingin memisahkan nya dengan Agis, Rayan tahu hubungan mereka memang sejak awal tidak berjalan lancar, namun Rayan terlanjur mencintai perempuan yang memiliki suara merdu itu, hati nya telah tertawan oleh Agis dan ia tidak menggubris perkataan Devita yang menentang hubungan kedua nya.
Dan apa yang terjadi saat ini karena kecerobohan nya dalam bertindak, tak seharusnya ia tergoda dengan Erika sebab yang Agis miliki jauh lebih indah.
Perempuan yang selalu menjaga kehormatan nya, hartanya dan tidak pernah sedikitpun Agis menampakkan keindahan nya pada pria lain, lalu kenapa ia harus tergiur sesuatu yang terpajang bebas di luar.
dan saat ini apa yang terjadi ? menyesali waktu kenapa dahulu ia begitu bodoh ?
"Bang, aku sangat mencintaimu... jangan pernah menghadirkan orang lain di antara kita, karena jika itu terjadi aku tidak akan segan-segan untuk pergi !"
Perkataan itu masih Rayan ingat dan Agis benar benar pergi dan saat ia berusaha untuk terus menggenggam Agis memilih untuk berakhir.
Hancur seketika harapan, mungkin itu maksud Tuhan mengambil kedua putri nya sebab Agis tidak mau bersama nya lagi setelah ada Erika, dengan hal itu Agis tak menanggung beban berat apalagi ia sekarang duduk di kursi roda.
***
Sore itu mereka sampai di jakarta dan langsung menuju rumah, saat sampai mereka berpapasan dengan adik Erika yang hendak pergi.
"Yuna... kamu mau kemana ?"
Tanya Erika memindai Yuna membawa tas.
"Kak, Ibu masuk rumah sakit. kemarin pingsan dan sampai ini ibu belum sadarkan diri !" Jawab Yuna membuat Erika tertegun.
"pergilah ke rumah sakit temani Yuna, aku akan menyusul nanti dan saat ini aku ingin beristirahat dulu !"
__ADS_1
Cetus Rayan membuat Erika termangu mengingat keadaan dulu saat Agis datang mengatakan bahwa ibunya masuk rumah sakit, dan kini Erika merasakan bagaimana Rayan acuh dan menyuruh nya untuk pergi sendirian.
Erika mematung sendiri sementara Rayan masuk ke dalam rumah sambil menggendong Noval, bibir nya sudah tidak sumbing lagi Namun penglihatan nya yang sedikit terganggu, tak henti tuhan menunjukkan pada nya bahwa tak seharusnya ia buta melihat sahabatnya sendiri menangis tersakiti dan itu karena ulahnya.
"Noval, Ini adalah masa terberat mu nak, namun ayah tidak akan membiarkan mu menanggung beban karena kesalahan ayah dan ibu mu !"
Ujar Rayan memeluk Noval kemudian tertidur sementara Erika pergi ke rumah sakit bersama Yuna.
Yuna menjelaskan tentang keadaan Amina yang mengalami komplikasi karena beberapa penyakit yang di deritanya.
Erika tahu kalau sang ibu selalu mengeluh kan pusing dan sesak di dadanya.
"Erika, kapan kamu berpikir untuk merubah diri ke arah yang lebih baik ? sampai kapan terus seperti itu hingga semua berimbas pada keluarga sendiri.?"
Amina terus memikirkan keadaan rumah tangga Erika dan Rayan, sedangkan Erika selalu bersikap semaunya.
"Sudah cukup kelakuan gila mu, bahkan kamu sudah membuat Agis menderita !"
Erika menghampiri Amina yang tidak sadar kan diri, Bulir bening nya jatuh membasahi wajah sang ibu.
Keadaan ini pernah terjadi dulu saat hubungan nya dengan Agis masih baik-baik saja, dan Agis selalu menemani nya di rumah sakit.
Sahabat baik yang lenyap karena buruk nya hati, sekarang teman mana yang mau menemani nya seperti Agis, Rayan pun bersikap seakan ingin ia merasakan apa yang dulu Agis rasakan saat ibu nya masuk rumah sakit.
"Maafkan Erika bu? Erika benar-benar menyesal dan tidak tahu harus bagaimana menebus kesalahan Erika pada Agis ?"
Batin Erika sadar bahwa selama ini ia sudah salah mengartikan ambisi gila nya.
"Erika memang salah dan tidak waras Bu !"
Gumam Erika terisak sendiri.
__ADS_1
Hingga malam larut Rayan tidak juga datang ke rumah sakit, ia beralasan tidak bisa meninggalkan Noval yang sejak tadi rewel, Erika semakin sadar bahwa Rayan hanya menginginkan anak nya saja sedangkan kehadiran nya tak pernah berarti, lagi lagi ia salah mengartikan sikap Rayan, selama ini bukan cinta tapi hanya Obsesi dan gairah semata, sedangkan ia terlanjur bermain hati dan tidak segan-segan menjatuhkan hati pada Rayan.
Kenyataan nya Rayan hanya mencintai Agis, Erika tahu kalau Rayan diam diam selalu memperhatikan Agis yang tengah bersama Ibra, melihat Agis terapi dari kejauhan dan satu hal yang meyakinkan bahwa Rayan masih sangat mencintai Agis adalah Ia selalu menyebut Nama Agis dalam setiap doa nya.
Erika pernah mendengar Rayan berdoa untuk kesembuhan Agis dan Noval, Namun Namanya tak pernah terlontar dalam doa.
Keadaan itu semakin menegaskan bahwa Ia tidak berarti sama sekali untuk Rayan, Namun Erika tidak mau kehilangan meskipun ia lelah berjuang sendiri sebab cinta itu terlanjur menawan hati dan Ia tidak ingin berpisah dengan Rayan.
Mungkin mulut bisa mengatakan tentang perpisahan Namun hati meronta meringis perih tak ingin Rayan pergi.
Seperti saat ini Erika begitu mengharapkan Rayan berada di samping nya, dulu Rayan begitu memohon untuk pergi ke Bandung karena khawatir dengan keadaan Agis, tapi sekarang gantian ia yang memohon namun Rayan tak mengindahkan nya.
Ironis nya Ia masih menginginkan Rayan, berharap Rayan bersikap seperti pertama mereka bersama, namun sesuatu yang milik orang maka akan kembali pada pemilik nya, dan Cinta itu bukan untuk nya ?
Penyesalan sudah tak berarti dan berandai-andai pun hanya akan membuat nya semakin sakit, lalu apa yang hendak ia lakukan selanjutnya ? sementara seseorang yang seharusnya menjadi rumah singgah kini suram dan dingin seperti tak layak untuk ia pulang apa lagi bersandar.
Semua terlanjur pahit, keadaan bertambah masam saat sang ibu kini tak sadar kan diri.
"bertahan lah untuk Erika Bu, tak ada yang menguatkan Erika selain ibu, Erika masih butuh bimbingan ibu ? kuat dan bangkit lah untuk putri mu hina ini ?"
Batin Erika meraung nyeri dengan air mata yang membasahi pipinya.
*
**
***
Senin menjemput harapan.😍😍
terimakasih yang sudah mampir 😍😍💪
__ADS_1