
Sepulang dari rumah sakit Ibra mengajak Agis ke Tiergarten untuk bersantai di taman yang luas kota Berlin.
Tiergarten merupakan ruang publik dan ikon kota Berlin yang indah. Air mancur, danau buatan, pepohonan yang rindang, serta suasana asri.
Ibra menghentikan laju kursi roda nya dekat
pohon rindang menghadap air yang tenang, Agis tertegun mengingat kebersamaan nya dengan Rayan di situ Patenggang, Agis menghela nafas panjang lalu memejamkan mata nya, menghirup udara segar dan mencoba untuk melepaskan kenangan itu.
Semua sudah berlalu dan hanya patut untuk di kenang bukan untuk di ratapi.
"Kangen Alan mas..."
Ujar Agis menoleh ke arah Ibra yang sejak tadi memperhatikan nya.
"Mau telpon?"
Agis menilik jam yang melingkar di tangan nya, Mungkin di Indonesia saat ini tengah malam dan seperti nya Alan juga tidur.
"Nanti saja mas sore..!"
Jawab Agis membiarkan Ibra menggenggam tangan nya.
Setiap pulang terapi Ibra selalu mengajak nya pergi jalan jalan ke pusat kota, alun-alun kota Berlin dan tempat menarik lainnya.
Ibra mendapatkan kabar baik dari Jimi yang mengatakan kalau perusahaannya berkembang pesat dan mendapatkan banyak tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan lain, Ibra memang berada di Jerman namun setiap hari ia selalu mengirim kan rancangan pekerjaan nya melalui email.
Tuhan memberikan nya rezeki yang berlimpah dan tidak akan habis hanya untuk biaya pengobatan Agis, Ibra malah berpikir bahwa itu rezeki Agis yang tuhan berikan melalui tangan nya.
"Sayang, nanti kita pergi diving bersama ya ! lombok bagus !"
Ujar Ibra sudah tidak sabar ingin Agis segera sembuh.
"Ya, Mas ! enggak nyangka ya kita sama-sama suka diving ! Agis suka sekali sama ikan !"
Cakap Agis dan di anggukan oleh Ibra, kalau seperti itu Ibra berpikir untuk membuat kolam ikan yang besar di halaman rumah, Atau aquarium Juga ide yang bagus.
Agis memperhatikan Ibra yang seperti tengah berpikir, Suaminya ini seorang arsitek yang cukup handal dan pintar.
Beberapa bangunan tinggi di ibu kota juga sebagian adalah hasil karya nya, Hebat kan Ibra.
Agis semakin heran saat melihat Ibra tersenyum sendiri, entah apa yang sedang suami nya itu pikirkan.
"Mas, kamu lagi mikirin apa sih? senyum senyum sendiri gitu !"
Tanya Agis terkekeh kecil sendiri.
"Mikirin kamu sayang !"
jawab Ibra lalu mencubit pipi Agis yang merona.
__ADS_1
"Ya Tuhan terima kasih sudah mempertemukan aku dengan Ibra...!"
gumam Agis mengulas senyum.
"Apa sih yang lagi kamu pikirkan ?"
Tanya Agis penasaran dengan khayalan pria itu.
"Ada deh !"
Jawab Ibra terkekeh sendiri lalu mendorong kursi roda Agis keluar dari taman itu.
"Kita pulang yuk, sebelum nya kita pergi makan siang dulu deh !"
Cakap Ibra dan di angguk kan oleh Agis.
Ibra berencana ingin membuat sebuah villa di pulau terpencil dimana mereka pernah terdampar, sebenarnya pulau itu cukup indah hanya belum terjamah oleh wisatawan saja, Ibra akan bekerja sama dengan teman nya di Brunei untuk membuat destinasi wisata di pulau itu tanpa merusak alam dan lingkungan sekitar, Ibra justru berpikir untuk melindungi hewan hewan yang berada di pulau tersebut.
Agis pasti senang jika ia mengajak nya ke pulau itu lagi apalagi dengan keadaan yang berubah, Anggap lah semua kedekatan nya berawal di pulau itu.
*
Setelah makan siang ke-dua nya kembali ke apartemen, Ibra langsung mengajak Agis untuk sholat Dzuhur bersama kemudian tidur siang.
Ibra mengangkat tubuh Agis ke ranjang, Padahal Agis menolak karena sedikit sedikit ia sudah bisa bergerak sendiri.
Ujar Ibra lalu memeluk tubuh Agis dari belakang.
Agis menatap kaca yang menampakkan keindahan kota Berlin, apartemen milik renan itu berada di lantai paling atas hingga hampir seluruh kota Berlin dapat terlihat dari jendela.
Agis menoleh ke arah Ibra yang langsung terlelap, pria itu seperti nya lelah karena kesana kemari mengurus nya.
"Semoga lelah mu menjadi berkah untuk mu, Mas !"
gumam Agis membalikkan tubuhnya lalu mendekap erat tubuh Ibra.
"Terkadang aku berpikir kalau aku ini egois, Tak seharusnya aku membawa mu dalam kesusahan mas ! tapi sungguh aku sangat membutuhkan mu.!"
Gumam Agis sendiri lalu menghirup aroma tubuh Ibra yang begitu menenangkan dan membuat nya cepat terlelap.
Satu jam berlalu Ibra membuka mata nya dan Melihat Agis yang terlelap sembari menelusup pada dada bidang nya, hal yang selalu perempuan itu lakukan.
Ibra mengecup kening nya perlahan lalu beranjak dari ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.
Ibra harus segera membicarakan rencana tentang destinasi wisata di Brunei Darussalam dengan teman nya, berharap semua sudah rampung saat Agis sudah bisa berjalan.
Ibra juga video call dengan Revan dan Arul membicarakan tentang pekerjaan nya di kantor.
***
__ADS_1
Di lain tempat Erika tertegun saat dokter mengatakan kalau kondisi kesehatan sang ibu semakin menurun, tadi pagi Rayan datang dan itu juga hanya sebentar karena ia bilang ada urusan penting di kantor dan Noval bersama baby sitter di rumah, beruntung Rayan memilih baby sitter yang sudah dewasa, Ia cukup sabar dan tenang menghadapi Noval yang selalu rewel.
"Jadi apa langkah yang tepat untuk ibu saya dokter ?"
Tanya Erika bingung harus bagaimana, sementara tak ada teman yang bisa ia ajak untuk runding.
Rayan juga tidak bisa ia hubungi, mungkin Rayan sedang meeting.
"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan saat ini harapan nya tipis, jadi sebaiknya ada banyak berdoa saja !"
jawab dokter membuat Erika membekuk seketika.
Harapan nya tipis ? apa itu artinya sang ibu akan pergi meninggalkan nya ?
Erika menyeka air matanya yang mengalir di pipi, Hidup nya sendiri tanpa teman dan suami pun sibuk dengan pekerjaan nya.
Erika bersandar pada dinding lalu menyeka air matanya.
"Aku sekarang sendiri Agis !"
Gumam Erika teringat dengan seseorang yang dulu selalu ada di saat susah dan senang.
*
Rayan menatap ponsel nya dan menilik beberapa panggilan tak terjawab dari Erika, Erika terus menghubungi nya dan ia baru selesai meeting dengan klien bisnis nya.
"Ada apa Erika ?"
Ujar Rayan menghubungi Erika yang tengah terisak.
"bang keadaan ibu tuh kritis !"
Jawab Erika sedih.
"Aku ingin kamu ada di sini bersama ku, seperti dulu kamu temani Agis. kenapa sih bang kamu bersikap seperti ini sama aku? Apa kamu tidak peduli pada ku bang, Aku sangat membutuhkan kamu !"
Ujar Erika menangis pilu.
"kalau kamu enggak cinta sama aku, seenggaknya sedikit saja kamu bersimpati sama aku bang !"
sambung nya lalu mematikan panggilan tersebut, Saat ini keadaan nya seperti seorang yang terbuang tidak berharga.
*
**
***
bersambung...
__ADS_1