Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
wajah yang tenang.


__ADS_3

Saat ini mereka tengah makan malam bersama, semua berkumpul di meja makan sambil mengobrol.


Ibra sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Brunei.


Lepas makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, Ibra mengajak Alan untuk bermain PS.


sementara Agis tengah bermain dengan si kembar bersama Rosa dan yang lain nya.


"kalau menang apa nih hadiah nya ?"


tanya Ibra pada Alan yang langsung terkekeh kecil.


berbeda dengan Ibra, Rayan tidak pernah mengakrabkan diri dengan Alan.


Setiap bertemu Rayan malahan fokus ingin berduaan dengan nya, sedangkan Ibra berbaur dengan keluarga.


Ia pandai menempatkan diri sebagai kakak untuk adik nya, mungkin karena Rayan tidak punya adik makanya ia tidak seperti Ibra.


beberapa waktu berlalu, keduanya asyik dengan stik PS.


"Mas, aku ke kamar duluan ya. si kembar juga udah duluan masuk sama baby sitter."


"oke sayang, sebentar lagi mas menyusul masuk !"


Jawab Ibra kemudian Agis beranjak dari duduknya.


Agis masuk ke dalam lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian nya, tubuh nya terasa lelah dan sangat mengantuk.


gegas ia naik ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya.


Tak lama Ibra masuk membawa segelas susu ibu hamil rasa coklat.


"Sayang, minum susunya dulu!"


Perintah Ibra lalu Agis beranjak dari ranjang.


"terima kasih ya mas !"


ujar Agis mengulas senyum.


"Ya, setelah minum obat langsung istirahat. kamu pasti lelah ya sayang !"


Ujar Ibra senyum mengingat percintaan mereka tadi siang.


Wajah Agis langsung memerah, ia juga mengingat hal itu.


"Terima kasih ya. sudah menjadi ibu yang baik untuk si kembar. jadi istri yang penurut dan baik."


Ujar Ibra membuat Agis terpaku sejenak.


Ia hanya menjalankan apa yang seharusnya, memberi yang terbaik untuk keluarga nya.


"kamu juga suami yang baik. semoga kedepannya kita tetap seperti ini ya mas !"


Ibra mengangguk lalu memeluk Agis.


"sekarang istirahat ya !"


Agis mengangguk lalu merebahkan tubuh nya di ranjang.


"Mas ganti pakaian dulu ya!"

__ADS_1


Ucap Ibra lalu beranjak setelah menyelimuti tubuh Agis.


gegas ia masuk untuk membersihkan diri sebelum naik ke peraduan.


Ibra naik ke ranjang setelah menggunakan piyama. Ia masuk ke dalam selimut lalu memeluk Agis.


"Kamu sudah tidur !?"


tanya Ibra dan Agis mengangguk kecil.


Ibra memeluk istrinya itu, menatap langit langit kamar sambil mengingat apa yang terjadi kebelakang.


Satu tahun berlalu setelah ia kehilangan Azizah, lalu bertemu dengan Agis.


Ibra bersyukur karena bisa melewati semua itu dengan kesabaran, kini ia memiliki istri yang baik seperti Agis.


bahkan sebentar lagi ia akan memiliki anak lagi.


Ibra menoleh ke arah Agis yang sudah terlelap, Wajah nya kini tenang tidak gusar seperti dulu lagi.


Ibra masih ingat bagaimana istri nya itu selalu menangis saat malam, merasakan luka hati dan tubuh nya karena kecelakaan lalu.


Namun kini semua sudah berlalu, Agis tidur dengan nyenyak tanpa beban apapun.


"Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan mu dek !"


desis Ibra di telinga Agis lalu ikut terlelap.


pagi..


Semua sudah bangun dan melaksanakan shalat subuh berjamaah di rumah Itu, Ibra yang menjadi imam dalam shalat tersebut.


Bukan yang pertama mendengar suara Ibra membaca surat-surat Al-Qur'an.


Usai sholat Ibra menoleh ke belakang dan melihat istri nya yang langsung mengulas senyum.


siang ini mereka akan berangkat ke Brunei.


Ibra berdoa untuk keselamatan mereka, memohon perlindungan terhadap tuhan dari segala marabahaya dan memudahkan segala urusan nya.


"kita siap siap berangkat ya, jangan sampai ada keperluan yang tertinggal !"


Ujar Ibra lalu menghampiri Agis kemudian berjongkok untuk menyentuh perut Agis kemudian berdoa untuk calon bayi mereka.


Hal itu tidak pernah terlewatkan, lepas sholat Ibra selalu mendoakan calon bayi mereka.


"Ayo kita bersiap untuk pergi sayang !"


Agis mengangguk lalu berjalan menuju kamar bersama Ibra.


"Mas, Agis tuh merasa senang tiap kali sholat berjamaah sama kamu. rasa nya tenang !"


Ujar Agis duduk di tepi ranjang.


"Ya, Kita jangan pernah menyepelekan ibadah kepada sang maha pencipta. Karena tujuan hidup kita adalah untuk beribadah pada Nya, dan kita beribadah bersama hingga mencapai ridho nya !"


Ujar Ibra lalu mencium kening Agis.


"Ayo kita siap siap !"


Agis mengangguk lalu membuka lemari lalu mengambil pakaian untuk nya dan Ibra.

__ADS_1


Setelah siap mereka beranjak keluar membawa koper berisi keperluan untuk di sana.


"sudah siap ?"


Tanya Ibra turun dari tangga bersama Agis.


Mereka mengangguk lalu beranjak dari duduknya melangkah menuju mobil.


"Ayo sayang !"


Ajak Ibra menuntun tangan Agis naik ke mobil.


Dua jam berlalu mereka sampai di bandara. Ibra langsung menuntun Agis masuk ke dalam.


Agis tertegun saat melihat Rayan dan Noval, seperti nya mereka baru pulang dari Jerman.


Agis menoleh sekilas lalu melangkah dengan cepat bersama Ibra dan yang lain nya.


Rayan menoleh ke arah Agis beserta keluarga, Entah hendak kemana ? Mereka pergi bersama sama hendak menaiki pesawat.


Operasi mata Noval berjalan lancar, Rayan langsung kembali ke Indonesia setelah Noval pulih, ia juga harus mengurus kafe dan hendak merintis usaha yang baru.


Rayan tidak tahu kalau Ibra hendak mengajak Agis ke Brunei.


ke pulau dimana ia dan Agis pernah terdampar. Ibra akan mengunggah nya nanti di sosial media.


Agar Rayan tahu kalau tempat itulah yang menjadi saksi awal kedekatan mereka.


"Mas, kamu mikirin apa ?"


tanya agis membuyarkan lamunannya.


"enggak sayang, mas Hany ingin kita segera sampai di sana!"


Agis terkekeh kecil lalu memeluk Ibra.


"kamu tuh enggak sabar banget, emang di sana ada apa sih mas ?"


tanya Agis memindai wajah Ibra, pria itu tidak menjawab dan hanya mengulas senyum.


hal itu akan menjadi sesuatu yang mengejutkan Agis, Ibra yakin kalau Agis akan senang melihat villa yang ia bangun untuk nya.


Agis senyum menatap Awan putih yang bergumul, ia kembali terbang setelah kemarin kembali dari Jogja.


Perjalanan selalu menyenangkan jika bersama Ibra.


Seperti sekarang ini selalu saja ada candaan yang membuat nya tertawa lucu.


Perjalanan jadi tidak membosankan karena pria itu selalu menghibur nya agar tersenyum.


"kamu itu selalu saja bercanda mas !"


Ujar Agis terkekeh kecil.


di balik sikap nya religius Ibra juga seorang yang senang bercanda.


sejak awal bertemu pria ini memang hangat dan ramah, pantas saja jia beberapa mantan nya datang saat mengetahui Ibra jadi duda. Dari suci Agis mengetahui hal itu.


*


bersambung..

__ADS_1


terimakasih para reader yang masih setia, terimakasih atas dukungan nya 😍😍😍


jangan lupa like and komentar ya 😍


__ADS_2