Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
Patuh.


__ADS_3

Agis tertegun melihat Erika yang begitu kurus, penjaga lapas mengatakan bahwa Erika mengalami demam tinggi satu Minggu ini.


Mereka sengaja menghubungi Yuna karena khawatir terjadi sesuatu dengan Erika.


"Gis, aku minta maaf sama kamu !"


Ujar Erika. sebenarnya ia tidak tahu sakit apa, sedangkan demam tinggi terus menyerang tubuh nya hingga lemah.


"ya, Erika !"


Jawab Agis singkat.


Ibra langsung menghampiri Agis yang tengah berbicara dengan Seseorang.


"Aku benar benar menyesali semua kesalahanku, aku benar-benar minta maaf. aku juga titip Yuna kalau sampai aku nanti tidak bisa bertahan !"


Ibra langsung merangkul pundak Agis, istri nya itu pun menangis melihat kondisi Erika.


Dalam keadaan seperti itu penjaga lapas tidak bisa menanggung biaya pengobatan Erika terkecuali keluarga mau membiayai dan pihak kepolisian akan tetap berjaga.


"Ya sudah pak bawa saja untuk pemeriksaan lebih lanjut, nanti assisten saya yang akan mengurus biaya nya !"


Ujar Ibra membuat Agis terpaku.


"Tidak usah Agis, rasanya aku tidak pantas mendapatkan kebaikan mu lagi. sudah cukup uang mu untuk kebutuhan Yuna saja !"


Agis tak menjawab ia hanya menangis mendekap Ibra.


"Tidak apa-apa Erika, nanti Arul yang urus ! Yuna kamu temani kakak mu dulu ya !"


"Terima kasih kak.."


Ibra mengangguk lalu mengajak Agis untuk pergi karena mereka juga harus mengurusi pemakaman Arifin.


"Sudah sayang, berdoa saja untuk kebaikan Erika. Kita membantu semampu nya saja !"


Ucap Ibra lalu menyeka air mata istri nya.


Mereka pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengurus pemakaman terlebih dahulu sementara Arul kembali ke rumah sakit untuk mengurus biaya rumah sakit Erika.


"Mas...!"


Agis mendongak menatap wajah Ibra.


"Apa sayang ?"


tanya Ibra memeluk Agis.


"enggak apa apa uang kamu pakai berobat Erika ?"


Tanya Agis merasa tidak enak karena ia sekarang tidak punya uang sendiri.


"Enggak apa apa, uang mas malahan akan bertambah banyak kalau ikhlas membantu seseorang, kita enggak usah lihat Erika seperti apa ? semoga dengan kita membalasnya kebaikan membuat dia semakin sadar kalau selama ini ia salah !"


Ujar Ibra yang sebenarnya ingin memberikan Erika pelajaran.


Rayan sendiri saat ini tengah berada di Jerman mengurus operasi Noval, dan seperti nya ia sudah tidak peduli dengan Erika.


"Kita akan urus dulu ayah, nanti kita tanya Arul kondisi Erika. Cuma mas enggak mau kamu ke rumah sakit lagi sayang, mas tuh khawatir karena di rumah sakit kan banyak virus maka nya mas kemarin menyuruh kamu untuk pulang saja menemani si kembar di rumah. dan perihal Erika biarkan arul yang memantau keadaan nya."

__ADS_1


cakap Ibra menyampaikan apa yang berada dalam benak nya.


"Ya mas terimakasih !"


Ibra mengangguk.


"Oh ya mas, bibi bilang mau datang ke Jakarta. tadi Agis kasih tahu kalau ayah mas Ibra meninggal!"


Ibra mengangguk.


"ya sudah kita tinggal bicara kan saja tentang kelanjutan sekolah Alan dan yuna!"


Agis mengangguk.


Tak lama mereka sampai di rumah, pembantu rumah sudah menyiapkan semua keperluan pemakaman Arifin.


"sayang, Kamu mandi dulu ya! kita kan baru pulang dari rumah sakit, kamu enggak boleh capek ke sana-kemari, biar yang lain mengurus. kamu bersama si kembar saja ya !"


Agis mengangguk.


Ibra benar benar perhatian pada nya, saat seperti ini ia tetap memprioritaskan nya.


Sesuai perintah Ibra ia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak karena memang ia sangat lelah.


Ibra masuk ke dalam kamar membawa susu dan beberapa makanan untuk sarapan karena tadi mereka tidak sempat sarapan.


"Sarapan dulu ! mas mau mandi dulu, sebaiknya kamu tetap dikamar dan tidak usah ikut ke pemakaman ya!"


"kenapa mas ? Agis mau ikut !"


Ucap Agis menatap wajah Ibra.


Agis mengangguk lalu mulai menyantap makanan yang Ibra bawa untuk nya.


"Mas, kamu sedih enggak pak Arifin meninggal ?"


Tanya Agis saat Ibra keluar dari kamar mandi, agis memindai wajah Ibra yang biasa saja.


"Ya mau bagaimana lagi? sedih tapi kita harus ikhlas. mas sudah memaafkan dan berharap kalau Ayah tenang di alam sana. jarak yang selama ini memisahkan membuat mas terbiasa tanpa dia, jadi ada atau enggak sama saja. yang terpenting saat ini adalah kita urus apa yang menjadi hak nya!"


Cakap Ibra dan di anggukan oleh Agis.


Suami nya ini benar benar bijaksana dan begitu baik. Agis bersyukur karena memiliki suami seperti Ibra.


"Ya sudah, sekarang kamu habis kan makan nya ! nanti tunggu paman dan bibi datang !"


Agis mengangguk menuruti perintah Ibra.


"Nanti Abang suruh baby sitter kemari bawa si kembar !"


Agis mengangguk lalu Ibra beranjak dari duduknya.


Sesibuk apapun Ibra tetap memperhatikan nya, ia tidak pernah sekali pun lupa membuatkan Agis susu ibu hamil.


Dan tidak ada alasan untuk tidak patuh selama itu untuk kebaikan nya.


Tak lama si kembar dan baby sitter masuk ke dalam kamar nya, Agis senyum lalu beranjak menangkap kedua anak perempuan cantik itu.


"Aduh putri mommy cantik cantik sekali !"

__ADS_1


Seru Agis lalu mengajak mereka bermain.


sementara di bawah tengah sibuk mempersiapkan Arifin yang hendak di kain kafan i.


"Agis dimana kak ?" tanya Salma yang baru datang bersama Andi, ia lepas menemui Rosa dan suci untuk berbelasungkawa.


"Hai Kalian baru datang ?"


Tanya Ibra lalu berpelukan dengan Andi.


"Agis ada di atas dengan si kembar, Aku larang Agis bantu bantu karena khawatir ia kelelahan. Alhamdulillah Agis sedang hamil !"


Salma melebar kan netra nya dengan senang saat mendengar kabar itu. sebab ia sendiri juga tengah hamil.


Gegas Salma menghampiri Agis naik ke atas.


"Assalamualaikum mbak !"


Sapa Salma melangkah lalu memeluk agis, sementara Andi berada di bawah membantu Ibra.


"walaikumsalam..., ibu hamil !"


Agis tahu dari postingan Salma yang menggunggah hasil USG nya.


"Ya Mbak Alhamdulillah kita sama-sama hamil !"


Jawab Agis tersenyum senang memeluk Salma kemudian mereka bercerita banyak hal tentang kehamilan nya.


Salma mendengar kan cerita Agis yang bertemu dengan Erika tadi pagi di rumah sakit.


"kasihan ya Mbak, tapi semua sudah menjadi ketentuan Tuhan.


Karena apa yang kita dapatkan adalah hasil dari perbuatan sendiri.


Salma kagum sama Mbak Agis dan mas Ibra. kalian tetap peduli dan mau membantu mereka !"


cakap Salma kagum dengan kebaikan hati mereka.


"Ya, gimana sal ? kalau sudah seperti itu aku enggak tega. meskipun dia tega sama aku, kalau aku balas dendam apa bedanya aku dengan dia, mas Ibra bilang biarkan saja. Mungkin dengan hal itu bisa membuat Erika benar benar sadar dan mau belajar dari kesalahannya."


Salma mengangguk lalu memeluk Agis.


perjalanan mendaki dan menurun sudah terlewati. kini Agis tinggal menikmati hasil dari kesabaran nya.


*


*


***


terima kasih yang sudah bergabung dengan novel ini.


Ayo para reader yang baik hati author mohon dukungan nya di novel author yang baru.


ramai kan ya,😍😍😍



Terima kasih 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2