Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
camping Dieng.


__ADS_3

Agis memperhatikan Ibra yang tengah memasang tenda untuk mereka, tak menyangka kalau suami nya itu sudah mempersiapkan segala keperluan mereka untuk pergi camping.


"Agis bantu ya mas !"


Ujar Agis menghampiri Ibra, pria itu senyum lalu mencium pipi istri nya.


"His, malu mas banyak orang !"


Sergah Agis manyun membuat Ibra terkekeh kecil.


"biarkan saja dek, tidak ada yang memperhatikan kita kok."


Jawab Ibra lalu merengkuh tubuh Agis.


"Sudah terpasang tenda nya, Ayo masuk !"


Ajak Ibra masuk ke dalam tenda.


"Hm, Kamu sengaja bawa semua ini !?"


Ujar Agis menilik tenda dan kasur empuk yang mereka duduki.


"ya lah dek, enggak enak lah tidur di alas tipis. yang ada badan pada sakit !"


Jawab Ibra mendekati Agis lalu kembali mencium pipi nya.


Waktu sudah hampir senja dan udara semakin dingin.


Ibra sendiri sudah memberi tahu tentang status kedua nya sebagai suami istri, tentu saja mereka melarang dua orang wanita dan pria berada dalam satu tenda jika bukan pasutri.


"Dingin !"


Seru Ibra memeluk Agis.


"Ya, tadi si bapak yang mengantar Kita kemari mengatakan bahwa mereka akan membuat api unggun."


"Oh gitu !"


Agis mengangguk.


Agis tersenyum mengingat saat mereka terdampar di pulau terpencil.


Apa semesta memang sengaja mempertemukan mereka di pulau itu ?


"Mas, Agis tuh ingat waktu kita terdampar di pulau ! nanti kita pergi diving ya mas !"


Ibra mengangguk lalu memeluk Agis dari belakang.


Villa dan Resort yang ia bangun di pulau itu sudah selesai, kemungkinan bulan depan Ibra akan mengajak Agis ke Brunei Darussalam.


Arul mengatakan bahwa sudah ada beberapa turis asing yang tertarik ingin datang ke pulau itu.


Ibra senang karena usahanya tidak sia sia, bukan hanya untuk menyenangkan Agis tapi juga menambah saldo rekening nya.


Hehehe.


"kamu enggak mual lagi sayang ?"


tanya Ibra yang menoleh ke arah Agis yang tampak berpikir.


Entah apa yang tengah istri nya pikiran.


"Enggak mas, sekarang Agis lapar ! mau makan ikan bakar!"


Ucap Agis membuat Ibra tertegun.

__ADS_1


ikan bakar ?


"Sayang ? nanti ya kalau kita udah pulang ?"


Karena di tempat itu tidak ada yang menjual makanan seperti yang Agis mau tapi mungkin di kota ada.


"Ya sudah tidak apa-apa !"


Jawab Agis lalu keluar bersama Ibra melihat pemandangan alam yang begitu indah dengan kabut tebal nya.


Sebentar lagi waktu magrib, Ibra mengajak Agis masuk kembali ke tenda.


Suasana begitu dingin hingga Agis enggan beranjak dari tenda meringkuk bersama Ibra.


"Kita ke mushola dulu yuk !"


Agis mengangguk lalu beranjak.


Terlihat beberapa orang berlalu lalang melewati tenda mereka.


Agis keluar dari tenda lalu menatap langit yang merona merah.


Gegas ia mengikuti langkah Ibra menuju musholla yang tidak jauh dari lapangan luas itu.


Mimpi nya berada di tanah Dieng benar benar terwujud, ia keluar dari musholla lalu menatap langit bertabur bintang.


"dingin, tapi Jerman lebih dingin ya mas !"


Ujar Agis memeluk Ibra dari samping sambil menatap langit yang bercahaya bintang.


"Ya, hampir sama ! ayo kita makan dulu !"


Ajak Ibra lalu menyeduh mie cup untuk mereka berdua.


"besok pulang dari sini Kita beli ikan bakar ya!"


Agis mengangguk.


Agis duduk di samping Ibra sambil memegang mie cup yang sudah siap untuk di santap.


"Mas jadi ingat masa kuliah dulu dek !"


Ucap Ibra membuka obrolan bercerita tentang masa kuliah nya.


"Mas suka pergi camping juga ?!"


Tanya Agis ingin mendengar cerita Ibra.


"Ya, Mas ke laut oke, ke gunung juga ayo !"


jawab Ibra kemudian bercerita pengalaman nya masa dulu hingga sampai ia lulus jadi sarjana.


di tengah kesibukan nya membantu Rosa di kantor, Ibra selalu menyempatkan waktu untuk membahagiakan diri nya sendiri.


Agis mendengar kan suami nya itu dengan seksama, Namun tidak tentang ia dan Azizah.


Ibra khawatir kalau Agis cemburu, Agis memperhatikan Ibra yang tersenyum sendiri, entah apa yang tengah suaminya itu pikir kan.


malam semakin larut dan udara semakin dingin, kedua nya memilih untuk diam di dalam tenda sambil mengobrol.


"Besok pagi di cek ya dek !"


Ujar Ibra membuat Agis tertegun sejenak lalu mengangguk.


Tak lama Agis tertidur pulas dalam dekapan Ibra, perempuan ini di mana saja mudah terlelap.

__ADS_1


Pertama kali melihat Agis terlelap saat mereka terdampar dan tidak menyangka bahwa perempuan itu kini hadir di setiap malam nya.


Ibra memejamkan matanya lalu ikut terlelap.


Semakin malam udara semakin dingin dan hal itu membuat Agis menggigil sambil memeluk Ibra.


"sebentar Abang bikin api unggun dulu di depan biar hangat dek !"


Agis mengangguk lalu membiarkan Ibra keluar menghampiri penjaga yang berjaga di sekitar lapangan itu.


Tak lama Ibra kembali lalu membuat api unggun yang tidak jauh dari tenda nya, Ibra juga masuk membawa teh hangat.


"Sayang, Ayo minum !"


ucap Ibra membantu Agis untuk beranjak dari tempat tidur itu.


"Hum,, kata nya mau jadi petualang, jam segini udah enggak kuat. apalagi nanti pagi !"


Ujar Ibra terkekeh merengkuh tubuh Agis, dinginnya udara Dieng lebih dingin dari suasana kediaman nya di Bandung.


Namun Agis menikmati keadaan itu karena ada Ibra di samping nya, Agis kembali terlelap setelah menghabiskan teh hangat tersebut.


Waktu berjalan hingga sampai pada subuh menjelang, Agis menggigil memeluk Ibra.


Tak lama terdengar adzan subuh berkumandang, Ibra membuka mata nya dan melihat wajah tenang Agis, ia kedinginan namun wajah nya tampak tenang.


"Sayang, ayo kita sholat subuh dulu ! katanya mau cek ?"


Agis membuka mata dan melihat wajah Ibra yang berada begitu dengan nya.


"Ya mas, tapi jangan marah ya kalau hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi kita !"


Ibra mengangguk lalu beranjak bersama Agis.


Ibra mengantar Agis ke kamar mandi, ia menunggu istri nya itu di depan pintu.


Agis menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengecek apakah ia hamil atau tidak.


Dalam hati mengucapkan bismillah lalu mulai mencelupkan alat tersebut.


Ini pengalaman pertama nya mengecek kehamilan, di kehamilan pertama nya Agis tidak sempat mengetahui keberadaan mereka dan Agis tahu nya mereka sudah kembali pada sang pemilik nya.


Agis melebarkan matanya melihat dua garis merah tercetak pada alat tes kehamilan itu.


"subhanallah, Alhamdulillah. aku hamil !"


gumam Agis lalu menyimpan alat tersebut kemudian keluar dari kamar mandi.


"gimana yang ?"


Tanya Ibra penasaran memindai wajah Agis tanpa ekspresi.


"Ayo mas ! kita solat dulu !"


Ajak Agis menyimpan alat tersebut di tenda.


"sayang hasil nya bagaimana ?"


Tangan Ibra lagi mengikuti langkah Agis.


"Agis kan udah bilang tadi mas, kita solat dulu !"


jawab Agis tersenyum dalam hati melihat ekspresi wajah Ibra yang penasaran.


Sungguh rasa bahagia itu tengah membuncah dalam dada Agis.

__ADS_1


bersambung..


terimakasih sudah Mampir 😍👍😍


__ADS_2