Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
iklhas menerima kekecewaan.


__ADS_3

Agis membuka mata nya lalu menoleh ke arah dimana seorang pria tertidur memiringkan kepalanya tepat di tepi ranjang dengan posisi duduk.


Agis menatap wajah tampan yang terlelap dengan tenang, Seseorang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Pupil nya beralih ke langit langit kamar yang berwarna putih, Teringat seseorang yang menangis dalam hujan.


Saat ini tak ada yang bisa ia lakukan selain merelakan dan mengikhlaskan kepergian buah hati nya, Rasa hancur tak terkira mengingat sesuatu yang telah pergi tanpa ia tahu kehadiran nya lebih dulu.


Agis menutup mulut nya menahan suara tangis yang tidak ingin terdengar oleh Ibra.


Namun Ia tidak bisa menahan getaran pada tubuh nya yang menahan kesakitan itu hingga Ibra tersadar lalu membuka mata nya.


"Agis.....!"


seru Ibra beranjak duduk tegak di hadapan Agis yang tersenyum dengan sebah di dada.


"Apa yang terjadi dek? kenapa kamu sampai seperti ini ?"


Tanya Ibra membuat Agis tertegun mengingat apa yang terjadi pada nya.


"Aku......?"


jawab Agis terhenti dan hanya air mata yang mewakili kesedihan nya.


Ibra beranjak lalu duduk di tepi ranjang kemudian memeluk Agis hingga pecah tangis nya.


Ibra terpaku mendengar tangis pilu perempuan yang sebentar lagi menjadi istri nya.


"Menangis lah sampai kamu tenang, namun Mas minta jadikan ini tangis kesakitan mu untuk yang terakhir kalinya.


Ikhlas dan rela kan apa yang terjadi karena saat kamu ikhlas menerima kekecewaan maka Allah akan menggantinya dengan beribu-ribu kebaikan !"


Ujar Ibra lalu menyeka air matanya.


"Agis tidak tahu kalau sebenarnya Agis sudah kehilangan mas ?"


Ucap Agis lirih menarik ingus nya.


"Kehilangan ?"


Tanya Ibra tidak paham lalu Agis menceritakan semua sambil terisak.


Ibra sekarang paham mengapa Agis sampai drop seperti itu, siapapun yang mengalami nya akan terpukul dengan kejadian itu.

__ADS_1


"Kamu sabar yah !"


Cakap Ibra menghapus air mata yang menetes di pipi nya.


"Mas ingin Kita menikah hari ini !"


Ujar Ibra, ia berniat membawa Agis ke jakarta supaya Rayan tidak datang mengganggu ketenangan Agis lagi.


"Mas akan ajak kamu ke jakarta !"


Tambah Ibra membuat Agis terpaku.


"Enggak mas kenapa harus secepat itu ?"


"Ya, Abang khawatir dengan keadaan kamu kalau nanti Rayan datang mengusik ketenangan kamu lagi, Mas akan ajak kamu ke Jerman !"


Sambung Ibra lalu menjelaskan maksud nya ingin membawa Agis terapi agar ia bisa berjalan seperti dulu lagi.


"Kamu mau kan dek ?"


Agis terdiam memikirkan keadaan nya dan niat baik Ibra yang ingin melindungi nya.


"Mas akan bicara kan hal ini dengan Paman mu !"


Cakap Ibra lalu mengusap airmata yang menetes di pipi Agis.


**


Tapi Agis pergi begitu saja tanpa menghiraukan nya, Rayan sadari kesalahan nya dan berharap Agis memberikan nya kesempatan kedua, tapi Agis sudah menutup rapat-rapat hatinya.


Rayan duduk di ranjang merenungi kehidupan nya yang sumerawut, Sadari bahwa Ia masih sangat mencintai Agis dan tidak memiliki rasa saat bersama Erika.


Agis bertahta nyata di dalam hati dan benak nya, Tapi Ia tidak bisa menggapai nya lagi bahkan bayangan nya pun kini samar samar menjauh dari nya.


"Maafkan Abang Agis, sesungguhnya hanya kamu yang Abang cintai dan Erika hanya obsesi semata !"


Batin Rayan menunduk kan wajah nya dan bulir bening jatuh menetes pada selimut berwarna putih itu.


Rayan menguatkan hati nya lalu beranjak dari ranjang, Kehidupan harus tetap berjalan dan mau tidak mau ia harus menjalani nya bersama Erika.


"Rayan....!"


Seru Ramlan saatnya Rayan turun dari tangga menghampiri nya di meja makan.

__ADS_1


Pria itu hanya menggunakan kaos berwarna putih dan celana pendek.


"ayah kira kamu tidak di rumah ini ?"


Ujar Ramlan Saat Rayan duduk di hadapannya.


"Ya yah semalam dari Bandung langsung kemari !"


Jawab Rayan lalu menceritakan apa yang terjadi di Bandung.


Ramlan hanya diam mendengar kan Rayan bercerita dengan mata yang berkaca kaca.


"Rayan pikir Agis tidak akan secepat itu mencari pengganti Rayan !"


mengingat perpisahan yang baru berjalan sekitar empat bulan.


"Ayah paham dengan perasaan mu Rayan !"


Ujar Ramlan beranjak lalu menghampiri Rayan yang menelungkup kan wajah nya di meja, Ramlan menepuk pundak sulung nya itu.


"Sabar dan hadapi permasalahan ini, semoga Erika bisa menjadi yang terbaik untuk kamu !"


Ramlan sendiri menyesali keadaan ini, ia pikir Devita tidak membuat rencana seperti itu dan saat ini pengacara sedang mengurusi perkara itu, kemarin dokter Arief sudah menjalani pemeriksaan pertama nya.


Dokter Arief juga tidak menyangka jika Devita menyangkut pautkan dirinya pada permasalahan keluarga nya, padahal dulu dia yang memaksa dan sekarang ia harus berurusan dengan hukum.


***


Erika menatap kaca jendela yang terbuka, semalam Rayan tidak pulang dan Rasa nya begitu memilukan mengingat hubungan kedua nya yang jauh dari kata harmonis.


Seperti ini kah yang dirasakan oleh Agis saat Rayan tidak pulang ?


Erika tertegun mengingat sahabat nya itu, Penyesalan sudah tidak berarti. Ia kehilangan sosok sahabat rasa saudara hanya karena ia iri pada kebahagiaan Agis, dan sekarang Ia berhasil menghancurkan nya lalu apa yang ia dapatkan ? bukan kebahagiaan tapi kecewa dengan hasil yang Tuhan berikan perihal Noval dan sikap Rayan seakan menunjukkan bahwa ia masih mengharapkan Agis memberikan nya kesempatan kedua.


Apa pencapaian dari sebuah pengkhianatan nya ?


Kosong dan hampa !


*


**


***

__ADS_1


bersambung.


Terimakasih yang sudah mampir 👍😍😍💪


__ADS_2