Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
Bangkai.


__ADS_3

Agis meminta bantuan suci untuk mengurus semua itu, biarkan nanti suci yang menghubungi Rayan perihal harta gono-gini tersebut.


Agis ingin menyelesaikan masalah itu sebelum ia pergi umrah dengan Ibra.


sebelumnya Agis sudah menghubungi orang yang mengontrak rumah nya, mereka memang ingin membeli rumah itu.


Waktu itu kan Agis ada di Bandung dan masih berpikir ulang untuk menjual rumah itu, namun sekarang ia sudah mengambil keputusan dan mengakhiri apapun yang menyangkut tentang Ia dan Rayan.


Siang ini ia akan datang ke rumah untuk melakukan transaksi pembayaran rumah tersebut, ia akan mengajak Ibra dan suci. Sebelum nya suci sudah memberi tahu Rayan soal itu, namun Rayan mengatakan bahwa ia menerima semua keputusan Agis.


Agis sudah bersiap untuk pergi, Ibra dan suci sudah menunggu nya di bawah.


"Berangkat sekarang Mas..!"


Ujar Agis kemudian mereka naik ke mobil.


"Aku sudah hubungi Rayan, dia bilang tidak akan hadir dan menyerahkan semua sama kamu, soal kafe aku juga sudah bilang mbak !"


Ujar suci dan di anggukan oleh Agis.


**


Rayan termenung mengingat percakapan nya dengan suci, pengacara cantik itu datang menemui nya untuk membicarakan perihal harta gono-gini, Agis juga menyerahkan kafe pada Rayan.


sebenernya Rayan tidak ingin menerima itu, namun saat ini ia butuh karena keadaan perusahaan nya yang bangkrut.


Rayan malu pada Agis hingga ia berpikir untuk tidak menemui nya dan membiarkan Suci yang mengurus nya.


Rayan berpikir apa mungkin Agis mengetahui tentang keadaan perusahaan nya hingga ia berpikir untuk mengurus pembagian harta Gono gini, mungkin kah Agis masih peduli pada nya?


Rumah nya bersama Agis akan menjadi milik orang lain, dan semua kenangan bersama akan hilang, namun akan tetap terpatri dalam benak nya.


Rayan terperangah saat melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya, sebuah video syur yang menampilkan Erika bersama seorang pria.


Rayan mengepal kan tangan nya lalu beranjak dari duduknya, Rayan melebar kan mata nya saat melihat Noval yang hendak terjun dari atas tangga dengan baby Walker nya, gegas Rayan naik ke tangga menangkap Noval yang menangis.


"Erika...."


teriak Rayan mengepal kan tangan nya melihat Erika yang asik telpon, baby sitter tengah membereskan pakaian Noval.


"ada apa bang ? kamu pikir aku tuli teriak teriak seperti itu !"


Ujar Erika melipat tangan nya di dada.


"benar benar keterlaluan ya kamu Erika ? Noval hampir jatuh tapi kamu tenang tenang saja!"


Jawab Rayan rasa nya ingin sekali memukul wanita itu, belum lagi masalah video itu.


"Oh soal itu, tapi enggak sampai jatuh kan !"


Rayan menatap Erika dengan nafas memburu, dan rasanya sudah habis kesabarannya.

__ADS_1


"Kamu emang bener bener gila !"


Ujar Rayan lalu menarik tangan nya setelah menyerahkan Noval pada baby sitter.


"Aduh sakit banget bang !"


Pekik Erika saat Rayan mencekal tangannya dengan kencang.


Lalu Rayan menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"sekarang juga kemasi barang barang kamu, kita akan segera bercerai dan sebaiknya kamu pergi dari rumah ku !"


Rayan benar benar muak dan tidak bisa lagi memberikan toleransi terhadap sikap dan perilaku Erika yang setengah sinting.


"hanya karena Noval kamu semarah itu sama aku ?"


Erika tercengang saat Rayan memperlihatkan video sayur nya bersama arsen, ah gila.


Arsen benar benar ingin menghancurkan hubungan nya dengan Rayan.


"Aku tidak Sudi punya istri yang bebas menjajakan tubuh nya pada pria lain, kau benar-benar menjijikkan Erika !"


Cuh...


Rayan pergi setelah meludahi Erika yang tidak bergeming.


"mulai saat ini Lo bukan istri gue lagi !"


Ia harus segera pergi karena Rayan juga mengusir nya dari rumah, semua pasti akan terjadi karena serapat apapun bangkai akan tercium wangi nya.


Erika menoleh ke Rayan yang pergi meninggalkan rumah membawa Noval dan baby sitter nya.


Saat ini Ramlan tengah berada di rumah sakit menjalani perawatan karena kondisi nya semakin menurun.


Ia harus bertemu dengan arsen untuk membicarakan masalah ini, semua gara gara Arsen.


***


Agis masuk ke dalam rumah itu dengan jantung yang berdegup kencang, hampir tujuh bulan ia meninggalkan rumah itu, dan keadaan nya masih sama seperti dulu.


Agis menoleh ke arah aquarium besar yang berada dekat ruang keluarga, Aquarium tersebut masih sama seperti dulu dengan ikan nya yang beragam warna.


"istri saya sangat menyukai aquarium ini Mbak Agis, tidak apa apa kan kalau saya meminta nya untuk tetap di rumah ini, saya akan bayar berapa pun yang mbak Agis mau !"


ujar pria yang hendak membeli rumah itu, Ibra menoleh ke arah Agis yang terus memperhatikan aquarium besar itu.


*


"Apa sih bang, kenapa harus tutup mata segala sih"


Rayan memberikan kejutan dengan menutup mata Agis.

__ADS_1


"Wah...."


Agis tersenyum senang melihat aquarium besar itu, Rayan tahu kalau Agis sangat menyukai dunia bawah laut hingga ia berpikir untuk membuat aquarium besar dengan terumbu karang yang indah dan ikan kecil yang berwarna warni.


Agis begitu senang dan menambah kan beberapa ikan golpis dengan warna nya yang cantik.


Ia ingat bahwa saat itu hubungan rumah tangga nya tengah harmonis, kedua nya tidak pernah memikirkan perihal anak hingga Devita datang dan merusak semua itu.


"Agis..."


ujar Ibra membuyarkan lamunannya.


"Ya boleh karena aku juga tidak akan membawa nya pulang."


jawab Agis mengigit bibirnya, rasa sakit itu kembali merajam hingga dada nya nyeri, gegas Agis menyelesaikan transaksi tersebut.


Sebaiknya ia segera pergi dari rumah itu, berlama lama di rumah itu hanya akan membuat ia semakin lara.


Semua kenangan memutar dengan jelas hingga saat terakhir ia di rumah itu bersama Rayan.


"ya tuhan kuat kan aku untuk melewati semua ini, jangan biarkan aku terlena oleh kenangan yang sudah tiada arti nya."


Batin Agis sendiri lalu membubuhkan tanda tangan pada materai.


"Uang nya di bagi ke dua rekening saja pak Budi.."


ujar suci menyodorkan dua nomor rekening yang berbeda.


Ibra paham apa yang Agis rasa kan, ia tahu semua tidak mudah dan pasti nya kenangan bersama Rayan memutar di benak nya.


Ibra merangkulnya lalu melangkah keluar dari rumah tersebut bersama suci.


"selamat tinggal kenangan..."


batin Agis lalu mobil pergi meninggalkan rumah itu.


"Udah beres ya mbak, masalah kafe juga udah."


ujar suci dan di anggukan oleh agis.


semoga setelah ini tak ada lagi yang mengusik nya, semua sudah selesai dan Agis berharap Rayan bisa mengurus kafe dengan baik.


*


**


***


bersambung.


terima kasih yang masih setia 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2