Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
tersenyum bahagia.


__ADS_3

Setelah percintaan itu keduanya mandi bersama lalu menunaikan shalat subuh berjamaah di kamar itu.


Usai itu Ibra memesan makanan untuk Agis sarapan, mereka akan pergi siang ini ke Wonosobo menggunakan mobil travel.


"Sayang, kamu yakin mau pergi camping ?"


Tanya Ibra mengingat Agis yang sering mual dan muntah.


"ya Mas, Agis udah sembuh kok !"


jawab Agis mengulas senyum.


"Wah sepertinya itu karena mas ya !"


Sergah Ibra terkekeh kecil membuat wajah Agis merona lalu gegas Ibra mencium pipi nya.


"Mas.....!"


Ibra terkekeh kecil memeluk Agis yang tengah makan.


"kenapa sayang ?"


Agis terkekeh sambil mengunyah makanan nya.


"Kamu apa sih mas !"


Ibra malah tertawa kecil memeluk Agis.


"Ya sudah habis kan makanan nya, kita pergi membeli makanan untuk di jalan menuju kota Dieng !"


Agis mengangguk dengan antusias lalu menghabiskan makanan nya.


Ia sudah tidak sabar melihat pemandangan kota itu, ia ingin sekali berfoto seperti teman teman nya saat masa kuliah, sayang nya dia tidak pernah ikut karena Linda mengatakan khawatir jika ia pergi camping dengan banyak pria.


begitu juga dengan Erika, ia dan Agis hanya bisa terkagum melihat video dari teman teman nya yang ikut pergi ke Dieng.


"Mas, ayo berangkat !"


Ajak Agis dengan semangat namun terhenti saat tiba tiba saja rasa mual itu kembali muncul lebih kuat, gegas Agis berbalik masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perut nya.


Ibra juga langsung menghampiri Agis dan tertegun melihat Agis tampak pucat dan lemas.


"Sayang, kita jangan dulu pergi deh kalau keadaan kamu seperti ini !"


Ujar Ibra, namun Agis ingin tetap pergi.


"Sayang, kamu telat datang bulan enggak ?"


Tanya Ibra dan Agis hanya mengangguk.


Ibra tertegun sejenak sambil berpikir apa mungkin istri nya itu tengah hamil ?


"Sayang apa mual pusing kamu pertanda ?"


Ujar Ibra sambil berpikir.

__ADS_1


"Apa mas ?"


Tanya Agis pura pura tidak paham, padahal Agis tahu maksud Ibra mengarah ke arah itu.


"Hamil sayang ?"


Jawab Ibra lalu mendekap pinggang Agis yang ramping.


"kalau enggak gimana mas ?"


Tanya Agis menatap ke dalam netra Ibra. lalu pria itu mencium bibir nya singkat.


"kenapa tidak, kamu tidak mandul seperti ucapan dokter gila Itu, dan sekarang kamu juga belum mens kan ?!"


Agis tertegun sendiri. bagaimana kalau cuma telat doang ?


"Kalau cuma telat doang gimana ?"


Tanya Agis mengamati ekspresi wajah Ibra.


"enggak masalah itu artinya kita harus lebih rajin berdoa dan berusaha !"


Agis mengangguk sambil tersenyum.


"jadi sekarang gimana ?"


"Kita pergi, tapi sebelum nya kita ke apotek dulu untuk beli alat tes kehamilan, kalau kita tahu keadaan yang sebenarnya jadi kita bisa memilih makanan yang boleh di konsumsi atau tidak oleh ibu hamil, kalau memang benar kamu positif hamil kita harus menjaganya dengan baik."


Agis mengangguk lalu pergi bersama Ibra cek out dari hotel tersebut.


mobil travel sudah menunggu mereka untuk pergi ke Dieng Wonosobo.


Agis hanya diam dan membiarkan Ibra yang membeli alat itu.


Hal Itu juga yang pertama untuk Ibra karena sebelumnya Azizah membeli sendiri alat itu.


"Nih lihat !"


Ujar Ibra menunjukkan alat tersebut dan Agis hanya mengulas senyum.


lepas itu Ibra langsung mengajak Agis naik mobil travel agar cepat sampai di kota tujuan.


Jantung agis berdegup kencang saat melihat kembali alat tersebut, ibra mengatakan bahwa nanti di sana mereka akan mengecek apakah Agis hamil atau tidak.


"Tapi firasat Mas mengatakan kalau mas berhasil sayang !"


Ujar Ibra senyum lalu merangkul pundak Agis kemudian menyatu kan kening Mereka berdua.


"Kamu percaya kan kalau Mas hebat !"


Desis Ibra membuat Agis terkekeh kecil lalu mendekap erat pinggang Ibra.


Apa yang tersaji oleh Ibra seakan membuat Agis melupakan masa menyakitkan saat bersama mereka, Erika dan Rayan.


Ibra menghapus semua kesedihan dan mengganti nya dengan rasa bahagia yang tidak pernah habis, pria itu selalu berusaha membuat nya tersenyum senang.

__ADS_1


Semoga tidak ada hal yang membuat keadaan ini berubah, kalau pun ada masalah Agis berharap bukan lagi tentang pengkhianatan yang merajam jiwa.


Agis tersenyum ceria melihat pemandangan indah di sepanjang perjalanan menuju kota itu, suasana asri jauh dari hiruk-pikuk kota.


Tiba tiba ia rindu kampung halamannya di Bandung, bulan depan Alan mengajak nya untuk pergi ke daerah Jawa Timur dimana ia akan pesantren.


Sebenarnya Agis tidak mengizinkan adik nya itu pergi terlalu jauh, tapi alan bilang percuma kalau dekat ia masih bisa pulang ke rumah.


Ibra menanggapi hal itu dengan bijak, membiarkan Alan dengan pilihannya, tidak ada salahnya mencoba untuk mencari pengalaman.


beberapa waktu berlalu Agis sampai di kota itu, bukan hanya Agis dan Ibra yang mendatangi kota itu tapi banyak yang datang menggunakan mobil travel juga.


"Sayang, kalau lihat kondisi kamu apa kamu yakin bisa naik ke atas !?"


Tanya Ibra dan di angguk kan oleh Agis.


"kita enggak usah terlalu tinggi naik nya mas, pos pertama saja !"


Ujar Agis senyum sambil memohon.


Lalu seorang pria menghampiri dan menawarkan jasa mengantarkan mereka ketempat camping yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada, pria itu mengatakan bahwa tempat nya tidak terlalu tinggi, namun tetap bisa menikmati keindahan Dieng yang sering di sebut negeri di atas awan itu.


Ibra menerima tawaran pria itu lalu mengikuti langkah nya untuk naik ke atas bukit.


Udara bersih dan terasa begitu sejuk membuat Agis terus menyunggingkan senyum di bibir nya.


Beberapa orang lain nya mengikuti langkah mereka naik ke atas bukit, ternyata bukan hanya mereka berdua yang mendambakan pemandangan indah Dieng.


Satu jam berlalu mereka sampai di lapangan luas yang berada di atas bukit, beberapa orang terlihat tengah memasang tenda.


Di tempat itu di sediakan toilet dan musholla yang berada tak jauh dari lapangan luas itu.


"Subhanallah indah nya Ciptaan Nya !"


Netra Agis menyapu ke sekeliling tempat itu, Agis memejamkan mata nya sambil menghirup udara segar kota itu, waktu hampir tengah hari namun nampak seperti pagi hari.


Sejuk dan segar.


"Kamu senang dek ?"


Tanya Ibra meraih tangan Agis, wanita itu menggenggam tangan ibra sambil mengangguk senang.


Seketika itu hilang rasa lelah, mual dan muntah yang ia rasakan tadi di perjalanan.


"Agis senang sekali Mas, terimakasih !"


Ucap Agis lalu mendekap erat tubuh Ibra.


Pria itu senyum lalu mencium kening Agis.


Ibra senang melihat raut wajah bahagia istri nya itu, sesiba mungkin Ibra akan berusaha membuat istri nya itu tersenyum bahagia.


bersambung...


Terima kasih sudah mampir 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2