
Ibra mengajak Agis ke bangunan super megah di kota itu yaitu gedung parlemen di Jerman. Ciri khas Reichstag ialah kubah kaca berkilauan yang terdapat pada bagian atas bangunan.
Di depan gedung tersebut terdapat lapangan luas yang hijau, jika sore hari banyak para turis asing yang datang untuk sekedar duduk menikmati keindahan gedung tersebut.
Seperti halnya Agis dan Ibra, kedua nya duduk menghadap gedung tersebut.
Ibra sering sekali mengajak Agis ke tempat itu, selain ramai mereka bisa melihat keindahan kota Berlin dari atas kubah kaca.
"Duduk di bawah Sayang !"
Ujar Ibra lalu membantu Agis untuk beranjak dari kursi roda.
"Kamu Mau pergi jalan-jalan kemana selain Jerman ?"
Tanya Ibra membuat Agis berpikir, Indonesia juga memiliki tempat wisata yang bagus.
"Mau pergi ke negeri di atas awan !"
jawab Agis senyum, tidak muluk muluk ia hanya ingin pergi camping di Dieng Wonosobo.
"Wonosobo ?"
Tanya Ibra dan di anggukan oleh Agis.
"Di luar negeri memang banyak sekali tempat wisata yang bagus, Swiss atau Belanda dan yang lainnya, tapi Indonesia juga tidak kalah Indah apalagi di Papua raja Ampat.
wah kayanya keren pemandangan laut nya mas ?!"
Jawab Agis senyum membayangkan indahnya tanah kelahiran, dan ia sangat rindu pulang dan ingin pergi diving seperti dulu.
"baiklah kalau begitu!"
jawab Ibra merengkuh tubuh Agis untuk masuk ke dalam jaket tebal nya, Agis tidak tahu kenapa Ibra senang sekali melakukan hal itu.
Namun ia membiarkan Ibra melakukannya sesuka hati.
Perlahan tapi pasti Ibra mampu membuat Agis melupakan masa kelam dalam hidup nya, tidak semua tapi keberadaan Ibra seakan menjadi obat untuk luka hati nya.
Agis sangat bersyukur karena Tuhan mengirim kan pria baik seperti Ibra, Padahal bukan hal yang mudah mengurus nya, tapi Ibra Sabar dan tidak pernah mengeluh.
"Aku rindu pulang kampung mas ?!"
Ujar Agis menatap wajah Ibra.
"Ya sayang, nanti kita akan pulang kalau kamu sudah benar benar pulih !"
Jawab Ibra dan Agis mengangguk mengulas senyum.
***
Waktu berlalu ...
Agis terus rutin melakukan terapi dan Ibra selalu setia menemani nya, berbeda dengan Rayan dan Erika.
Kedua nya satu atap namun sedikit sekali tegur dan sapa, Erika pasrah dengan sikap Rayan yang datang hanya untuk memenuhi kebutuhan hasratnya saja.
__ADS_1
Rayan lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan nya, dan ia datang hanya saat menginginkan Erika dan setelah itu ia kembali berkutat dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
keadaan perusahaan Rayan sedang menurun di tambah sang ayah yang saat ini sakit sakitan, tak sedikit biaya yang Rayan habis kan untuk pengobatan sang ayah dan juga Noval.
Rayan merasa hidup nya sepi tak ada warna seperti dulu, hujan deras turun membasahi wilayah kantor nya.
Rayan menatap kaca yang basah karena cipratan air hujan, Agis sangat menyukai jendela yang basah karena air hujan.
"bang, di rumah aku mau jendela yang seperti ini."
Ujar Agis, perempuan cantik nan Sholeh yang banyak memberikannya warna.
Rayan ingat betul aquarium yang berada di rumah mereka, cukup besar namun isinya hanya ikan kecil yang berwarna.
Cukup banyak hingga menampakkan keindahan pada air tersebut.
Perempuan yang hobi diving itu pintar sekali berenang, ia juga pernah beberapa kali ikut lomba renang antar provinsi dan Agis selalu mendapatkan juara dua.
Berbeda dengan ia yang tidak menyukai hobi itu, ia justru senang dengan petualangan motor trail adventure.
"Agis enggak suka ikut ke gunung, apa lagi pakai motor kayak gitu. serem ah bang! kita liburan ke Dieng yuk bang ?!"
Rayan masih ingat kalau itu adalah keinginan Agis yang belum terpenuhi.
Perempuan itu ingin merasakan berada di negeri atas awan.
"kalau saja kamu mau menerima Abang, mungkin kita akan mewujudkan impian itu !"
gumam Rayan lalu bersandar pada kursi.
*
"Erika pergi dengan ku yuk !"
ujar Arsen tertarik pada perempuan yang kini tengah menatap laptop nya.
"Kemana ?"
Tanya Erika, hidup nya monoton dan membuat nya jenuh, penat dengan sikap Rayan yang acuh dan sibuk.
"Senang senang dengan ku, kita pergi ke klub malam !"
jawab Arsen menaikan alisnya.
"hah baiklah..!"
jawab Erika lalu beranjak setelah menutup laptopnya, Untuk apa pulang karena Rayan juga tidak akan pulang, ia pasti akan pulang ke rumah utama, lebih baik bersenang-senang menghibur hati yang sepi.
***
Agis termenung mengingat Minggu depan itu acara pernikahan Salma dan kak Andi, tapi ia belum bisa berjalan dengan lancar.
Apa tidak apa-apa jika pulang masih duduk di kursi roda ? Agis khawatir jika Ibu Rosa kecewa karena keberadaan nya di Jerman hampir tiga bulan dan saat pulang tidak membuahkan hasil.
"Sayang ?"
__ADS_1
seru Ibra mengecup pipi Agis dari belakang.
"Mas kita enggak usah pulang deh, Agis malu kalau pulang masih duduk di kursi roda ! nanti apa kata ibunya mas !"
Ujar Agis membuat Ibra tertegun sejenak lalu memeluk Agis dari belakang.
"Ibu tidak akan berbicara apa apa sayang, Kamu tidak usah khawatir dan berpikir negatif, kamu harus tahu ibu sangat baik !"
Agis menoleh ke arah Ibra yang menempatkan kepala nya yang di curuk leher nya.
"Tenang saja besok juga kamu udah bisa lari !"
Ujar Ibra mencium pipi Agis berulang kali.
"Amin mas !"
jawab Agis lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ibra memeluk tubuh Agis erat, mencium rambutnya lembut hingga membuat Agis meremang dan meremas guling.
"Mas....!"
Seru Agis menoleh ke arah Ibra yang terkekeh kecil.
"geli mas, kamu tuh...!"
Ujar Agis membalikkan tubuhnya menghadap Ibra.
"Apa cantik? kamu marah ? enggak suka mas cumbu ?"
Agis mengigit bibirnya mendengar kata cumbu.
Ibra terkekeh kecil lalu mencubit pipi Agis yang sedikit cabi.
Renan juga mengatakan kalau berat badan Agis sedikit bertambah dan tubuh nya kini tidak sekurus saat pertama datang ke Jerman.
Tentu saja makan dan istirahat nya terjamin oleh Ibra, ia juga memanjakan Agis serta memberikan perhatian yang cukup untuk istri nya itu.
Dan bagi Renan suatu keajaiban bagi Agis karena dalam waktu cepat ia bisa berdiri dan sedikit demi sedikit menggerakkan kaki nya, sementara diagnosis mengatakan bahwa harapan untuk bisa jalan lagi sangat kecil, tapi Tuhan menunjukkan kuasa serta Rahmat nya pada perempuan itu.
Dan Renan sangat kagum dengan kesabaran Ibra yang tak pernah lelah memberikan semangat, Renan rasa mental nya juga sudah pulih kembali.
Mungkin ketiadaan Rayan juga berperan penting pada Agis dalam membangun semangat hidup nya, untuk hal hal yang menyakitkan sebaiknya memang harus di ikhlas kan Agar hati menjadi tenang.
*
**
***
Bersambung..
happy reading untuk hari ini jangan lupa like dan komentar ya para reader tercinta 😍😍😍 Terimakasih yang sudah mendukung author 😍😍
maafkan author belum sempat balas komentar nya ya, nanti author balas ya !terimakasih 😍😍
__ADS_1