
Beberapa jam mereka dalam pesawat, namun Erika dan Rayan tampak hening. berbeda dengan Ibra yang sejak tadi berbicara mengenai banyak hal dengan Agis.
Rayan tidak terlalu mendengar kan mereka berdua, Ia lebih memilih untuk fukos dengan laptop nya, dan hanya Erika yang diam mematung tak nyaman berada dalam keadaan itu.
Lihatlah Agis!
Ia langsung menemukan seorang pria yang mau menerima keadaannya, tak menyangka jika pertemuan sebelumnya seakan menjadi jalan untuk mereka di kemudian hari.
Semesta berkehendak pertemuan hingga berujung pada akad nikah.
Erika ingat kalau pria yang menjadi suami Agis itu adalah pria yang terdampar di Brunei Darussalam.
Apa itu sudah menjadi pertanda semesta hendak menyatukan mereka berdua, Erika lihat pria itu begitu menyayangi Agis dan Agis begitu beruntung, lagi lagi ia mendapatkan sesuatu yang istimewa dari tuhan.
"Mas, Agis mau ke kamar kecil !"
Ujar Agis meminta bantuan Ibra untuk beranjak dan Ibra langsung mengangkat tubuh Agis ke toilet.
Rayan benar benar tidak berkutik seakan tuhan sedang menunjukkan hal yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang suami yang setia.
Rayan merasa gusar dengan perasaan nya sendiri, tak seharusnya ia memutuskan untuk tetap satu pesawat dengan Agis dan Ibra.
Agis tak pernah melihat kemesraan nya dengan Erika, sedangkan ia melihat langsung bagaimana Agis bersama orang lain dan rasanya begitu pedih, seakan akan kehadiran Erika tidak berarti sama sekali.
Andai bisa memutar kembali waktu yang telah berjalan tuk kembali bersama, Rayan akan melewati episode kehancuran itu, dan seharusnya kini ia bahagia jika saja ia tidak berbuat curang.
Rayan membeku mengingat apa yang sudah terjadi, kenapa ia tidak berpikir ulang untuk bermain hati dengan Erika ?
Rayan menoleh ke arah Erika yang memejamkan matanya, ia tidak tertidur hanya lebih baik terpejam dari pada melihat Rayan yang tidak mengartikan keberadaan nya, dan hal itu membuat nya sesak.
"Dua jam lagi kita sampai !"
ujar Ibra yang merengkuh tubuh Agis setelah dari kamar mandi.
"kembali tidur saja dek !"
Tambah Ibra dan di anggukan oleh Agis.
Keadaan kini bisu tak ada tutur sapa seperti dulu, Agis tidak terlalu memikirkan hal itu karena semua terjadi karena ulah mereka sendiri.
Agis sudah melepaskan semuanya agar ia lega dan tidak terus meratapi luka hati nya.
Agis pikir mereka akan pamerkan kemesraan tapi nyata nya berjam-jam mereka tidak berdialog dan hanya diam dengan pemikiran masing masing.
Agis bersandar pada tubuh Ibra membiarkan Ibra mengelus punggung nya, Rasa sakit di pinggang nya kembali terasa namun Agis memilih untuk memendam nya sendiri.
Dua jam berlalu Agis merasa pusing dan ingin sekali Muntah, hingga berpegangan erat pada tangan Ibra.
"Mas, rasanya tuh mual banget !"
__ADS_1
Ujar Agis merasakan ulu hati nya nyeri.
Ibra langsung memijat tengkuk Agis kemudian memberikan Agis minum.
"Sebentar mas ambil obat nya !"
Ujar Ibra lalu memberikan obat yang biasa Agis minum.
"Mas rasanya tuh sesak !" rintih Agis memekik kesakitan memegang dadanya dengan nafas tersengal, beberapa penumpang ikut khawatir melihat keadaan nya. Ibra berusaha tenang meskipun sebenarnya ia kalut melihat kondisi istrinya.
"sebentar sayang ini kita udah mau turun !"
Ujar Ibra dengan wajah cemas nya, dan mendengar hal itu Rayan langsung menghampiri mereka.
"Agis, kamu kenapa ?"
Tanya Rayan membuat Agis mendongak, namun ia tidak menjawab hanya berpegang erat pada pundak Ibra sambil meringis nyeri.
Begitu juga dengan Ibra, ia membiarkan Rayan berdiri mematung dekat mereka sementara tangan nya merengkuh tubuh Agis.
Pesawat sudah landing dan sebelum nya Arul sudah meminta untuk menyiapkan mobil ambulance untuk Agis.
Setelah pesawat sampai para penumpang bergegas keluar dari pesawat satu persatu Setelah Ibra, sebelum nya Ibra meminta agar ia turun lebih dulu membawa Agis.
gegas Ibra mengangkat tubuh Agis keluar dan mobil ambulance sudah menunggu, Rayan mengikuti Ibra di belakang dan meninggalkan Erika begitu saja.
"Untuk apa Lo di sini ?"
Tanya Ibra jengah melihat keberadaan nya.
"Jangan tanya kenapa karena semua yang terjadi dengan Agis itu karena Lo dan Erika !"
Tambah Ibra membuat Rayan membeku seketika.
Ibra langsung masuk ke mobil ambulance bersama Arul kemudian pergi meninggalkan Rayan yang mematung dekat pesawat.
Apa yang Ibra katakan begitu menohok hati dan membuat nyeri ulu hati nya.
Rayan menoleh pada Erika dan baby sitter yang membawa Noval, terlihat netra nya berkaca kaca, dan yang terjadi Ia telah menyakiti kedua nya.
Erika melangkah lebih dulu meninggalkan Rayan yang tidak bergeming.
Erika sadari keadaan bahwa Rayan masih mencintai Agis, semua memang tidak mudah karena Keduanya bersama cukup lama sedangkan ia dan Rayan hanya permainan.
Hati nya terus di hantam rasa sakit karena keadaan itu, tapi Erika tidak bisa pergi sebab ia terlanjur mencintai Rayan meskipun cinta nya bertepuk sebelah tangan.
"Maaf kan aku, Agis !"
batin Erika menyeka air matanya.
__ADS_1
***
Ibra langsung melarikan Agis ke rumah sakit dimana teman nya bertugas, di perjalanan Ibra sudah memberi tahu Dokter Renan agar menyiapkan semuanya.
"sayang kamu sabar ya...!"
Ujar Ibra menyatukan keningnya dengan Agis.
Ia sedih melihat keadaan Agis yang mengkhawatirkan, Agis tertegun saat bulir bening dari mata Ibra jatuh ke pipinya.
Agis tahu kasih sayang Pria ini tulus pada nya, Agis mengulas senyum kemudian memejamkan mata nya.
Tak lama mobil sampai di rumah sakit, Ibra merasa sakit melihat kondisi Agis dan teringat pada almarhumah istri nya yang pergi meninggalkan nya, dan Ibra benar benar takut jika hal itu kembali terulang.
"Ren, tolong Istri ku !"
Ujar Ibra mendorong brankar sedikit lebih cepat memasuki ruang penanganan.
"Oke, bra. Lo berdoa saja !"
jawab Renan lalu masuk ke dalam dan meminta Ibra menuggu di depan ruangan.
Arul menghampiri Ibra yang mematung menatap pintu ruang penanganan yang tertutup.
Rasa sakit kehilangan Azizah seakan kembali menguar membuat Ibra sesak dan lemas, Ibra tidak tahu kenapa tiba tiba keadaan Agis drop kembali.
Mungkin tak seharusnya mereka satu pesawat dengan Rayan karena hal itu membuat Agis tidak nyaman.
"Sabar bos, Kita berdoa saja yang terbaik semoga istri bos baik-baik saja !"
Ujar Arul menepuknya pundak Ibra.
Arul tahu keadaan ini membuat Ibra mengingat masa kelam dalam hidup nya saat kehilangan orang yang begitu ia cintai dan fase ini harus kembali ia lewati.
"Agis kamu harus kuat, Mas janji aku membahagiakan mu!"
batin Ibra duduk sambil bertopang pada kakinya.
*
**
***
bersambung...
Terima kasih sudah mampir author lanjutkan nanti sore ya 😍😍😍
happy weekend
__ADS_1