Mengapa Harus Sahabat Ku?

Mengapa Harus Sahabat Ku?
Nyaman dan menenangkan.


__ADS_3

Ibra mengajak Agis ke kantor nya untuk mengenal kan Agis sebagai istri nya, dan di perusahaan itu Andi kini bekerja sebagai kepala staf karyawan.


Agis pikir Ibra mengajak nya ke kantor hanya untuk sekedar menemani nya saja, Beberapa karyawan malah terlihat aneh melihat Ibra menikah dengan perempuan cacat seperti dirinya.


Dan Agis tidak menyangka jika Andi kini bekerja di perusahaan itu.


"Kak Andi ?"


Sapa Agis pada Andi yang mengulas senyum.


"Ya dia sudah kerja selama satu bulan ini di perusahaan mas !"


Jawab Ibra menoleh ke arah Agis.


Jadi Andi juga meninggalkan Rayan, dan pada akhir nya Agis tahu dari Andi bahwa saat mereka pergi ke Brunei pun ia sudah curiga dengan kedekatan mereka.


Agis menoleh ke arah Ibra mengingat kejadian saat ia terdampar bersama Ibra, Tidak ada yang tahu kan jika kini pria itu menjadi suami nya.


"Aku minta maaf gis karena banyak menutupi kebohongan Rayan !"


ujar Andi, ia bahkan tidak berkata sejelas-jelasnya saat Agis bertanya pada nya di bandung.


"enggak apa apa kak Andi, Agis sekarang sudah berpisah dengan bang Rayan dan tidak ingin memikirkan hal itu lagi."


"ya, Agis semoga kamu bahagia dengan Ibra !" jawab Andi merasa lega karena sudah ada yang menjaga Agis.


Setelah itu Ibra mengajak Agis ke ruangannya, dan di ruangan itu sudah ada Revan dan Arul yang tengah mengurus pekerjaan.


"Hai pengantin baru ?"


sapa Arul tersenyum melihat kedua nya dan Agis hanya menanggapi nya dengan senyuman.


Ibra mengajak Agis menghampiri kedua nya lalu Ibra mengecek pekerjaan mereka.


"Aku udah pesankan tiket untuk keberangkatan kalian besok !"


Ujar Revan menunjukkan bukti transaksi nya.


"Terimakasih Revan !"


Jawab Ibra lalu beralih ke arah Agis yang diam menangapi.


"Sayang apa kamu butuh sesuatu?"

__ADS_1


Tanya Ibra tanpa sungkan meskipun ada Revan dan Arul di dekat mereka.


Agis justru diam tidak bersuara dengan wajah memerah, dan akhirnya Revan juga Arul pamit keluar meninggalkan mereka berdua.


"Kamu kenapa ?"


Tanya Ibra mengulas senyum menyentuh pipi Agis yang merona.


"Enggak, Agis malu sama kak Revan dan kak Arul, mas !"


Ibra mengangguk paham.


"Oh itu tidak usah malu mereka juga sama seperti suci sebenarnya!"


Di waktu senggang biasanya mereka selalu membuat lelucon dan candaan untuk menghidupkan suasana yang kaku setelah serius menyelesaikan pekerjaan.


"Jangan sungkan seperti itu sayang !"


Sambung Ibra berjongkok di hadapan Agis.


"Mas, bagaimana kalau Agis enggak bisa jalan lagi meskipun sudah ikut terapi ?"


Tanya Agis seakan pesimis sebelum berusaha.


Agis mengangguk dan membiarkan Ibra memindahkan nya ke sofa.


"Mas akan berusaha agar kamu bisa jalan lagi, dan nanti kita akan pergi umroh bersama ibu dan suci kalau perlu ajak Alan, paman dan bibi mu juga !"


Ucap Ibra membuat Agis tertegun sejenak mengingat kejadian semalam, keduanya sholat isya berjamaah.


Dulu Ia selalu mengingatkan Rayan untuk sholat dan mereka jarang sekali berjamaah karena Rayan sibuk dan selalu sholat sendiri sendiri.


dan hal yang berbeda Agis rasakan bersama Ibra, nyaman dan begitu menenangkan.


Dan semalam Ibra juga tidak menuntut hal itu meskipun sebenarnya ia bisa memberikan nya jika memaksa tapi Ibra berusaha memahami keadaan nya.


kenapa Agis bersikukuh ingin berpisah dengan Rayan juga sebenarnya karena hal itu, ia selalu saja memaksa jika menginginkan hal itu, dan saat ia datang bulan Rayan selalu saja uring-uringan.


Semoga Ibra tidak seperti Rayan, Agis juga tahu bahwa Itu adalah kewajiban nya sebagai seorang istri tapi jika keadaan tidak memungkinkan Agis berharap suami nya pahami kondisi nya.


"Terima kasih mas kamu begitu baik sama aku!"


Cetus Agis lalu Ibra merengkuh tubuh nya untuk bersandar pada nya.

__ADS_1


"siang ini aku ingin ajak kamu ke makam almarhum istri ku, gis. kamu enggak keberatan kan ?"


"Enggak lah Agis mau kok mas !"


Ibra mengangguk lalu mencium pucuk kepala Agis.


*****


Erika tertegun saat Rayan menyikapi nya dengan dingin, Entah apa yang membuat Rayan seperti itu pada nya ?


"Besok kita bawa Noval ke Jerman, usianya nya kan mencapai enam bulan jadi sudah melakukan operasi ?!"


Ujar Rayan saat mereka di meja makan dan Erika tidak menjawab.


"Kemasi semua barang nya jangan sampai ada keperluan yang tertinggal, dan sekarang aku pergi ke kantor dulu!"


sambung rayan lalu pergi meninggalkan Erika yang mematung sendiri di kursi meja makan.


**


"siapa yang masak ?"


Tanya Rayan sebelum nya melihat makanan yang tersaji di meja makan.


"Ibu dan aku bantu bang !"


"kamu belajar masak dong jangan ngandelin ibu kamu terus, beliau sudah tua dan seharusnya banyak istirahat. kamu contoh Agis, selain pintar menyanyi ia juga paling bisa membuat aku puas dengan masakan nya !"


Hal itu tanpa sadar menjadi tamparan keras untuk nya, Rayan tanpa segan-segan membandingkan nya dengan Agis, Erika sadar ia memang jauh segala nya dari Agis yang serba bisa, tapi tetap saja Rayan berpaling.


Erika termenung sendiri memikirkan hal itu, memiliki Agis yang hampir sempurna saja Rayan bisa melirik perempuan lain apalagi dia yang tidak pandai menyenangkan nya.


mungkin kan Rayan juga akan berpaling dan mencari kesenangan di luar seperti yang sudah terjadi sebelum nya ?


Erika menggigit bibir nya sendiri, entah kenapa ia harus di hantui pemikiran seperti itu ?


Semua terjadi karena hasil merebut milik orang yang tentunya ia sendiri takut jika keadaan itu menimpanya, sadari bahwa karma itu nyata adanya.


**


*****


bersambung..

__ADS_1


terimakasih sudah mampir 😍


__ADS_2