MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 102 - KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

1 bulan kamudian setelah rumah terjual, Gara dan Dina memulai kehidupan sederhana dengan tinggal di kos yang didirikanya. Saat ini kos yang didirikan sudah tidak beroperasi lagi dan di alih fungsikan sementara menjadi rumah. Dan penghuninya saat ini terdapat 4 kamar yang diisi oleh Gara, Nifa dan si kecil Fia di lantai 1, sementara kamar Adit, Bik Sri dan Bu Hanim di lantai 2.


Gara sengaja mengajak bibinya Bu Hanim karena biaya rumah sewa sudah jatuh tempo. Rencananya, Gara ingin menjadikan kos Ragina putra sebagai tempat tinggalnya sementara. Dan untuk kos Ragina putri yang kerusakanya lebih parah akan dijadikan warung makan dan tempat laundry. Pekerjanya hanya cukup Bik Sri dan Bu Hanim untuk sementara waktu.


"Sayang, setelah semua biaya santunan dan lainnya beres. hasil penjualan rumah yang sisa ini bagaimana jika sementara kita gunakan buka usaha laundry dan warung makan?" tanya Gara


"Jika buat memperbaiki kos, apa kemungkinan masih bisa?" tanya Dina


"Sebenarnya abang juga ingin. tapi abang harus memikirkan rincian biaya kedepanya. bangunan kos kedepanya juga harus tahan gempa. jika abang paksa renovasi kos, biaya pasti besar karena kerusakan kos putri lebih parah. belum lagi biaya kebutuhan si kecil Fia, dan kehamilanmu kedepan," jawab Gara


Dina hanya diam karena menimbang keputusan Gara


"Nanti pekerjanya ada Bik Sri dan bibi. abang sudah bilang ini ke bibi. dan bibi bilang etalase pemberianmu dulu yang dipakai jualan bisa dipakai untuk toko laundry kita kedepanya" ucap Gara


Dina sebenarnya merasa keberatan dengan keputusan Gara. Rencana Dina di awal adalah biaya jual rumah untuk renovasi kos. Bagi Dina, kos Ragina adalah saksi kehidupanya yang jatuh bangun di masa kertepurukanya.


"Bagaimana? kamu setuju dengan rencana abang?" tanya Gara.


"Terserah abang saja," jawab Dina pasrah


"Kamu tidak keberatan?" tanya Gara


"Tidak bang, pokoknya aku ikut abang saja," jawab Dina


Gara melihat Dina nampak berat menerima keputusannya. Gara sadar dirinya belum bisa membahagiakan istrinya. Namun sebagai kepala rumah tangga, Gara merasa memiliki tanggung jawab besar menghidupi Dina.


"Sayang, abang minta maaf.untuk saat ini abang hanya bisa seperti ini. karena masih belum ada perusahaan yang memanggil abang. abang sebenarnya juga nggak enak sama kamu. karena terkesan abang ini numpang hidup sama kamu," ucap Gara

__ADS_1


Dina saat itu terkejut mendengar perkataan Gara. Dina tak mengira jika Gara mempunyai pemikiran yang sama sekali tidak ada dalam pemikiranya. Dina merasa tak sedikit pun menganggap Gara numpang hidup padanya. Justru sebaliknya, jika tidak ada Gara entah apa yang terjadi pada kehidupanya saat ini.


"Eh...abang jangan berpikir begitu. abang sama sekali nggak numpang hidup. justru jika tidak ada abang masa depan kehidupanku akan tidak jelas. bahkan jika nggak ada abang aku pasti sudah ke alam lain karena kecerobohanku bang,," ucap Dina


"Abang melihatmu banyak diam seperti tadi. dan juga melihat Fia yang terus rewel pas pindah rumah. abang jadi merasa bersalah karena abang belum bisa membahagiakan kalian. tapi abang berjanji, abang nggak mau menyerah dengan keadaan ini. abang pasti bisa membahagiakan kalian," jawab Gara


"Aku sudah bahagia bang, Fia masih batita jadi tangisan tangisan rewel itu wajar. suatu saat nanti Fia pasti akan bangga dengan sosok papa seperti abang," ucap Dina


"Abang sudah menduga kamu pasti bereaksi begini.dasar kami ya, selalu bikin abang senang," jawab Gara sembari menoel pipi Dina


"Faktanya begitu bang, aku hanya butuh kenyamanan dalam hidupku. itu saja yang aku butuhkan, dan aku mengaku nyaman bersama abang," ucap Dina


Gara saat itu hanya tersenyum dan mengelus pipi istrinya


"Abang jangan mengukur kebahagiaan hanya dengan kekayaan. hidup kaya harta belum tentu bahagia. aku sudah merasakan itu, kebahagiaanku yang saat ini aku rasakan bersama abang, belum pernah aku rasakan di masa lalu," saut Dina


"Terima kasih, abang tidak salah memilih pendamping hidup seperti dirimu," jawab Gara


Malam hari, Gara dan Adit berada di suatu ruangan membahas rencana membuka toko laundry dan warung makan. Adit saat itu menyetujui usulan dari Gara karena sangat strategis lokasi kos Ragina putri yang akan segera di alih fungsikan.


"Aku setuju Mas, mungkin besok kita bisa mendesain bangunan yang akan dibangun nanti. aku akan coba carikan arsitektur. kebetulan ada teman satu angkatanku yang pernah kos sini sudah jadi arsitektur," ucap Adit


"Baik Dit, aku percayakan itu padamu," jawab Gara


Tak lama kemudian, Gara tiba tiba mendengar suara bibinya marah marah kepada seseorang.


"Dit, kamu dengar bibi marah marah nggak?" tanya Gara

__ADS_1


"Iya Mas, ayo kita cek," jawab Adit


Gara dan Adit saat itu mencari sumber suara. Dan sesampainya dari sumber suara, Gara terkejut melihat Bik Sri dan Bu Hanum beradu mulut. Sementara Dina saat itu terlihat seperti penengah dari keduanya.


"Ada apa ini? mengapa kalian ribut? suara kalian sampai terdengar dari jauh," ucap Gara


"Mungkin ada kesalahpahaman antara Bik Sri dan bibi bang, aku mencoba menengahkan. mungkin ini hanya kecelakaan kecil yang tak disengaja," jawab Dina


"Kecelakaan kecil? maksudmu?" tanya Gara


"Tuan, saya melihat Bu Hanum mendorong nona Fia sampai jatuh ke tanah dan kakinya luka. saya tentu marah saat melihatnya langsung," jawab Bik Sri


"Gara, kamu kenal bibi kan? mana ada bibi nyakitin orang orang terdekatmu? tadi Fia sendirian tanpa pengawasan. dan bibi melihat Fia mau jatuh. tapi pas bibi hendak menceganya jatuh, tiba tiba meleset bibi nggak bisa nyegah Fia terjatuh," saut Bu Hanum


"Nona Fia dalam pengawasan saya Tuan, tadi Nyonya Dina titip Nona Fia ke saya karena mau mandi. dan saya tidak meninggalkan Nona Fia, saya hanya berbalik sebentar menghidupkan lampu depan. tapi pas saya kembali berbalik saya lihat secara langsung Bu Hanum mendorong Nona Fia," jawab Bik Sri


"Dia ngarang Gara, bibi nggak melakukan hal itu, semua yang dikatakan bohong, bibi nggak dorong Fia," saut Bu Hanum


"Saya bersumpah jika ada cctv pasti semua akan terungkap," jawab Bik Sri


"Aku juga bersumpah, tak melakukan hal keji itu, dia ngarang. pembantu kaya dia bahaya, kamu harus pecat dia Gar," saut Bu Hanum


Bik Sri dan Bu Hanum terus berdebat tanpa henti. Gara yang kepikiran keadaan Fia sontak dengan tegas menghentikan perdebatan yang ada.


"Berhenti !!!! sekarang dimana anaku !!! " bentak Gara


Semua orang akhirnya terdiam mendengar bentakan Gara

__ADS_1


"Baru aku obatin Bang, sekarang sudah tidur," jawab Dina pelan


"Baiklah, aku ke kamar temui dia, jangan perpanjang perdebatan ini. kecelakaan kecil tadi biarlah berlalu. kasihan, Fia tidurnya terganggu nanti" ucap Gara


__ADS_2