MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 59 - VONIS DOKTER


__ADS_3

1 jam kemudian, Gara mendapatkan kabar dari dokter kalau Dina mengalami patah tulang di kaki kananya dan mengalami cedera otak ringan. Sampai saat ini Dina masih belum sadarkan diri. Hal itu menurut Dokter karena Dina masih dalam faktor pengaruh bius.


"Dok, apa saya boleh jenguk istri saya?" tanya Gara


"Sebentar lagi akan dipindah di ruang rawat, bapak bisa menjenguknya nanti," jawab Dokter


"Baik Dok," saut Gara


15 menit kemudian, Dina sudah di pindahkan ke ruang rawat. Setelah dipindahkan Gara langsung masuk ke dalam ruangan melihat keadaan Dina. Gara saat itu terasa tersayat hatinya dan tidak tega melihat Dina terbaring lemah tak berdaya.


Gara sangat menyesali membohongi Dina hanya karena ajakan Berlina. Gara merasa seharusnya dirinya tegas menolak permintaan Berlima. Dan yang terpenting, Gara menyesali tidak terbuka langsung pada Dina.


"Dina, abang minta maaf. abang menyesal kurang terbuka sama kamu. akibat kebodohan abang, kamu menderita seperti ini, andaikan sakitmu saat ini bisa dipindahkan, abang rela merasakan rasa sakit yang kamu alami ini" ucap Gara


Gara saat itu mengelusi rambut Dina kemudian terus menciumi tangan Dina. Padahal hari sudah malam menujukan pukul 21.30 WIB, tetapi Gara masih setia dengan posisinya terduduk dan menciumi tangan Dina.


"Dina, mulai saat ini abang akan umumkan kepada siapa pun kalau kamu adalah istri abang. abang tidak peduli dengan kesepakatan bodoh yang kamu buat itu. abang mencintaimu, abang tidak akan melepaskanmu," ucap Gara


Tak lama kemudian, Dina terbangun dari tidurnya. Ketika Dina terbangun, Dina melihat Gara yang ada disampingnya.


"Dina, kamu sudah bangun," ucap Gara


Dina kemudian menggerakan tubuhnya tapi merasa nyeri di kaki kananya.


"Bang kaki kananku?" ucap Dina lirih


"Sabar ya sayang, ini cobaan. kamu pasti sembuh," jawab Gara


"Aku lumpuh," ucap Dina

__ADS_1


"Nggak sayang, kamu tidak lumpuh. kamu bisa sembuh,"jawab Gara


Dina saat itu menangis menerima kenyataan yang dialaminya. Sementara Gara yang melihat Dina menangis langsung memeluk dan menenangkanya.


"Percayalah, kamu pasti sembuh. kesembuhan memang butuh waktu dan kerja keras, tapi kamu tidak sendiri. abang ada bersamamu. kita lewati cobaan ini sama sama. abang akan selalu ada untukmu. dalam shalat abang, abang jugaselalu berdoa untuk kesembuhanmu," ucap Gara


Dina kemudian mengisyaratkan agar Gara melepaskan pelukanya. Gara yang merasa Dina menolaknya langsung menanyainya


"Ada apa?" tanya Gara


"Sebaiknya abang pergi saja dari sini. istri abang pasti mencari abang. abang panggil Bik Sri saja untuk rawat aku. abang bisa tinggalkan aku, hubungan kita aku akhiri sampai sini saja, jangan sia siakan waktu abang menemani gadis lumpuh sepertiku," ucap Dina


"Tidak, abang tidak akan pergi. Istri abang itu hanya kamu Dina, tidak ada yang lain. wanita tadi teman lama abang namanya Berlina. Abang ke acara itu karena abang harus bertanggung jawab habis menabrak motor Berlina. Masalah Berlina yang ngaku abang suaminya itu abang juga kaget. abang sudah tegur dia," jawab Gara


"Bang, masih banyak wanita yang lebih baik daripada aku. hidup abang akan sia sisa merawat wanita lumpuh sepertiku," saut Dina


"Tidak ada hidup abang yang sia sia selama menikah denganmu, abang tidak akan pernah merasa sia sia. kamu tanggung jawab abang sekarang. abang suamimu, ketika kamu sakit, sudah tugas abang merawatmu. jika kamu tidak percaya ucapan abang, ini abang ada bukti rekaman suara dia," jawab Gara


---- Flashback On ----


"Kamu menjebaku Berli, aku ingin kamu meralat ucapanmu dihadapan teman temanmu. aku bukan suamiku," jawab Gara


"Gara, aku mohon untuk satu hari ini saja demi anaku, dan demi nama baik acara ini. apa kata semua orang jika mereka tahu kamu bukan suamiku? aku baru bercerai lima bulan yang lalu. mereka akan anggap aku wanita nggak bener jika aku kenalkan kamu temanku. dan anaku bisa jadi korban," saut Berlina


"Aku harus bertindak," batin Gara


Gara kemudian mengecek ponselnya sejenak untuk mengaktifkan perekam suara. Gara tahu Berlina tipikal wanita yang gengsi dengan klarifikasi. Setelah mengaktifkan perekam suara, Gara mengatakan sesuatu pada Berlina


"Mereka tidak bertanya dan kamu sendiri yang mengenalkanku sebagai suamimu. aku tidak mau tahu, kalau kamu tak meralat ucapanmu aku sendiri yang meralatnya ke temanmu," jawab Gara kesal

__ADS_1


"Gara, aku mohon jangan sekarang. sekarang ini ada acara pening dan anaku ada di tempat ini. aku mohon please, bantu aku untuk malam ini. aku akan ralat ucapanku setelah selesai acara," saut Berlina


Gara yang mengenal Berlina baik di masa lalunya akhirnya bersedia menolong Berlina. Rekaman suara sudah berhasil Gara dapatkan untuk menagih janji Berlina setelah acara.


----- Flashback Off ---------


"Kamu sudah dengar kan? abang bukan suaminya. abang tadi mau menjelaskan tapi kamu kabur meninggalkan abang. tapi tak apa apa kamu nggak salah. abang yang salah disini. abang kurang terbuka sama kamu," ucap Gara


"Aku minta maaf. karena aku juga salah, aku ikut acara itu tanpa izin abang, aku tahu abang pasti tidak mengizinkanku, jadi berhubung abang lembur aku berpikir tidak izin," jawab Dina


"Abang percaya sama kamu, tapi abang tidak percaya dengan pria itu. jadi abang harap kamu jauhi pria itu, pria itu mencintaimu, dia mengatakan langsung pada abang," ucap Gara.


Dina saat itu menggeliat merasa dirinya ingin ke kamar mandi. Gara yang peka saat itu langsung menuntun Dina buang air kecil.


"Ayo, abang bantu kamu buang air kecil," ucap Gara


"Bisakah abang panggil suster atau hubungi Bik Sri saja?" tanya Dina


"Ini sudah malam, tunggu sebentar abang ambil wadahnya dan peralatan seka," jawab Gara lalu pergi


Tak lama kemudian, Gara saat itu dengan hati hati menuntun Dina buang air kecil sesuai saran dokter. Dina tentu sangat malu melihat Gara memperlakukanya seperti bayi. Ketika Gara sudah siap menunggu Dina buang air, Dina malah seperti menahan agar tidak buang air


"Ayo keluarkan, jangan malu begitu. abang suamimu. seandainya abang di posisimu pun kamu juga yang harus rawat abang," ucap Gara


"Ini menjijikkan Bang, aku malu," jawab Dina


"Kamu pikir abang jijik? kamu itu istri abang, mana mungkin abang jijik. ini sudah kewajiban abang sebagai suamimu merawatmu, abang ini keluargamu juga sekarang" saut Gara


"Bang, aku tidak terbiasa. ini pertama kali aku mendapat perlakuan laki laki seintim ini," ucap Dina

__ADS_1


"Kalau kamu tidak segera buang air, abang makan ini mau?" saut Gara


Dina akhirnya pasrah dan menuruti perintah Garw. Setelah selesai, Gara tanpa jijik menyeka area sensitif Dina lalu memakaikan kembali celana Dina.


__ADS_2