
Setelah makan siang, Gara dan Dina berangkat menuju Kos Ragina. Sesampainya di kos Ragina, Gara dan Dina bertemu dengan para satpam yang menggendong Fia.
"Kamu tetap disini, aku akan bawa anak itu ke mobil," ucap Gara
"Iya Bang," jawab Dina
Gara saat itu menghampiri Pak Hary yang sedang menggendong Fia tertidur. Namun dalam tidurnya, mata Fia saat itu sembab seperti habis menangis. Tanpa berpikir panjang, Gara bertanya kronologis Selly menyerahkan Fia di pos satpam.
"Dia habis menangis Pak?" tanya Gara
"Iya, ibunya tadi titip anaknya tapi nggak balik balik. anak ini menangis terus cari ibunya, saya mau cari ibunya pun bingung dimana, ini Pak Wahid mau berangkat melapor ke polisi untuk mencari ibunya," jawab Pak Hary
"Ibu anak itu apa meninggalkan sesuatu?" tanya Gara
"Tidak ada, hanya botol dot ini saja, dan susunya habis," jawab Pak Hary
"Baiklah, anak itu biar sama saya saja Pak, nanti saya sekalian yang melapor ke polisi," saut Gara
Gara kemudian mengambil Fia dari gendongan Pak Hary. Setelah itu, Gara kembali ke mobil disambut Dina yang antusias.
"Bang, Fia biar aku pangku saja, kasihan takutnya jatuh pas di kursi belakang," ucap Dina
"Nggak bakal jatuh, ada sabuk pengaman di belakang. kamu juga ingat kakimu. kamu nggak boleh pangku berat berat takutnya kesenggol kakimu yang baru pulih," jawab Gara
__ADS_1
"Nanti perjalanan pulang kita belikan dia pakaian, popok sama susu ya Bang," ucap Dina
"Abang rencananya mau bawa dia ke polisi. nanti biar polisi melacak keberadaan Selly, yang jelas itu anak butuh ibunya. kita tidak berhak atas anak ini," jawab Gara
"Bang, ibunya saja kriminal sudah buronan narkoba. abang punya hati nggak sih sama nasib anak ini? ibunya saja sudah serahkan anaknya ke abang, lalu abang tega mengembalikan anak ini lagi ke ibunya? abang tega melihat psikis anak ini terganggu karena kasus yang menimpa ibunya?" tanya Dina
"Tapi anak ini dia tuduhkan abang ayahnya, abang tidak ingin ada masalah kedepanya jika merawat anak ini. abang ingin semua terusut di pihak kepolisian. dan abang ingin membuktikan juga kalau anak ini bukan anak kandungku," jawab Gara
Gara kemudian memulai mengemudikan mobilnya ke arah kantor polisi. Sementara Dina sangat kesal dan bingung dengan jalan pikiran Gara saat ini. Bagi Dina, Gara tidak memiliki rasa peduli terhadap anak.
"Bang, aku bingung dengan jalan pikiran abang. walaupun abang kesal dengan Selly, tapi anaknya masih balita Bang, anak itu masih polos dan nggak tahu apa apa. aku tidak mendukung langkah abang menyerahkan anak ini ke kepolisian," ucap Dina
"Kalau abang dipanggil ayah sama anak ini bagaimana? semua orang akan tahu abang ayahnya dan abang takut Selly datang memanfaatkan situasi ini. Tuduhanya yang bilang anak ini anak kandung abang bisa bisa jadi serangan Selly terhadap abang nanti,makanya agar jelas harus tes dna," jawab Gara
"Aku tak peduli abang tes dna atau tidak terhadap anak ini. tapi apapun hasilnya, aku tetap tidak setuju dengan langkah abang ini. abang jika nggak mau dipanggil ayah, biar aku yang arahkan. abang nggak mau harta abang berkurang untuk beli perlengkapan anak ini, aku tidak masalah. aku saja yang merawat anak ini," ucap Dina
"Bang, aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun yang terjadi kedepanya. entah anak ini anak kandung abang atau bukan. aku hanya ingin abang menjadi pria yang bertanggung jawab. saat ini aku hanya berpikir nasib anak ini sekarang. anak ini masih balita dan masih kecil. anak ini bukan bomerang, jika kita menanamkan kebaikan pada anak ini, pasti akan baik juga kedepanya," ucap Dina
Gara hanya terdiam karena seburuk buruknya Selly, anak Selly masih kecil dan tak tahu apa apa. Namun hati Gara masih berat menerima anak dari wanita yang telah mengoyak rumah tangganya.
"Abang tak perlu jadi ayah untuk anak ini, abang cukup sisihkan rasa kemanusiaan abang pada anak ini saja. aku sunggup merawat anak ini sendiri jika abang keberatan. aku bukan bermaksud merasa ingin memiliki anak ini. tapi sejahat jahatnya Selly, Selly memberikan kita amanah merawat anak ini," ucap Dina
"Mengapa kamu tidak takut Selly berulah kepada keluarga kita? Selly saja di pesanya masih aja bilang anak ini anak kandung abang. abang bukan bermaksud juga ingin membuang anak ini. tapi abang hanya mengantisipasi saja. apalagi abang harus menjaga citra nama baik perusahaan abang dari isu isu jahat," jawab Gara
__ADS_1
"Aku percaya, semua orang jahat akan berubah baik karena efek jera yang membuatnya sadar akan perbuatannya. walaupun lama, aku yakin bahwa sebenarnya tidak ada orang jahat di dunia ini. Dibalik kejahatan seseorang, tersimpan alasan-alasan untuk membenarkan perilaku jahatnya. Tapi sebenarnya di hati kecilnya, mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah tindakan yang benar." saut Dina
Dina kemudian menoleh ke arah Fia yang sedang tertidur.
"Kita ambil contoh Selly yang memberikan anaknya pada kita. dia tahu jika anaknya ikut denganya akan berdampak buruk pada masa depan anakmya. karena Selly sadar jika tindakan yang dilakukan tidak benar," ucap Dina
"Kamu ingin anak itu memanggil kamu apa? abang tetap merasa sulit menerima anak ini. abang masih sakit hati dengan kelakuan jahatnya orangtua anak itu," jawab Gara
"Aku tidak memaksa abang menerima anak ini. aku bisa merawatnya bersama pelayan rumah. urusan anak ini panggil apa saja aku tidak masalah. bahkan aku tidak keberatan jika anak ini panggil aku ibu." saut Dina
"Tapi jika anak ini terpublis anak kita abang berpikir itu akan jadi masalah jika orang perusahaan tahu," jawab Gara
"Iya, aku mengerti. aku pernah di posisi abang juga. bekerja di perusahaan pasti kita di tuntut menjaga nama baik perusahaann. apalagi jika kita punya nama di perusahaan. Kalau yang abang takutkan itu tidak apa apa, aku sebaiknya tidak hadir saja di acara serah jabatan besok. aku juga tidak akan menginjakan kakiku di perusahaan abang. aku bisa di rumah saja," ucap Dina
Tak lama kemudian, Dina menyuruh Gara menghentikan mobilnya di dekat mall.
"Bang berhenti disini, aku mau belanja perlengkapan anak ini," ucap Dina
"Beli perlengkapan?" tanya Gara
"Abang tolong bantu aku naik ke kursi roda. aku akan masuk mall sendiri pakai kursi roda," jawab Dina
"Tidak tidak, abang ikut kamu masuk ke mall," saut Gara
__ADS_1
"Terus kalau abang ikut yang jaga anak ini siapa? sementara tadi, abang bilang tidak ingin anak ini terpublis," jawab Dina
"Sebaiknya abang saja yang beli, kamu tunggu disini aja," saut Gara