MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 91 - SALING PANTAU


__ADS_3

"Dina, ayo lingkaran tanganmu ke perut abang," ucap Gara


"Nggak bakal jatuh, kan jalanya pelan karena aku hamil," jawab Dina


"Dina, jangan bantah abang. ayo pegangan. cepat lingkarkan tanganmu buiar aman," ucap Gara


"Abang sangat membuatku tidak mood..." jawab Dina


Dina akhirnya terpaksa berpegangan dengan meningkarkan tangannya ke perut Gara


"Nggak mood gimana sayang? kamu lebih aman kalau abang yang bonceng," jawab Gara


Dina hanya terdiam karena masih kesal dengan Gara


+++++++++++


1 jam kemudian, Gara dan Dina sudah sampai di sebuah warung makan penjual sate padang dan aneka minuman lengkap. Namun sayangnya, di warung makan yang didatangi tidak ada ketupat atau lontong. Hal itu membuat Gara terpaksa membujuk Dina agar tetap mau makan.


"Sayang, makan pakai nasi ya? kalau kita pergi cari yang lain, pasti muter meter lagi karena sate padang sulit dijumpai di daerah kita ini," ucap Gara


Dina menggelengkan kepalanya


"Sayang, abang mohon. abang janji setelah ini abang akan turuti permintaanmu lagi," ucap Gara


"Aku nggak lapar," jawab Dina


"Kruyuk kruyuk," (perut Dina bunyi)


"Nah iya kan, kamu sekarang lapar. kamu nggak boleh egois gini sayang. saat ini yang lapar nggak hanya kamu. tapi calon anak kita lapar juga butuh asuhan makanan darimu," ucap Gara


Dina masih terdiam.


"Mau ya? abang pesankan makananya ya?" tanya Gara


"Iya," jawab Dina singkat


Gara saat itu memesan 15 tusuk sate padang, 1 nasi, dan 2 jus buah naga.


Tak butuh lama pesanan Gara dan Nifa sudah sampai di meja.


"Sayang, ayo dimakan," ucap Gara


"Kok nasinya satu?" tanya Dina


"Abang masih kenyang. tadi kan kamu tahu sendiri kalau abang sudah makan banyak di rumah," jawab Gara


"Sebenarnya aku nggak selera makan," ucap Dina


"Tapi kamu harus makan sayang," jawab Gara

__ADS_1


"Terus gimana? aku nanti muntah," ucap Dina


"Abang suapi mau?" tanya Gara


Dina hanya diam tak merespon. Tanpa berpikir panjang, Gara langsung inisiatif menyuapi Dina makan dengan tanganya. Awalnya Dina tidak mau, tapi karena Gara memaksaknya akhirnya Dina mau menerima suapan Gara


+++++++++++++


Aksi Gara menyuapi Dina saat itu tak sengaja dilihat oleh Fabian dan Vera. Fabian dan Vera kebetulan makan bersama di warung dalam rangka mediasi yang dilakukan orangtuanya. Pihak keluarga Vera ingin rumah tangga Vera dan Fabian bertahan. Namun dari pihak keluarga Fabian menyerahkan semua keputusannya pada Fabian. Karena Fabian menikah dengan Vera karena kecelakaan tak disengaja


"Lihat gadis pujaanmu itu, semakin manja dengan suami bejatnya itu, kamu cemburu?" tanya Vera


"Itu urusanku, kamu pikir aku mau bertahan denganmu? tidak akan sudi," jawab Fabian


"Lalu sekarang bagaimana? apakah rumah kita tetap bertahan atau bercerai? aku tidak lagi memaksamu bertahan untuk sekarang ini. sorot matamu jelas masih mencintai gadis manja murahan itu," tanya Vera


"Cukup !!! Dina bukan gadis seperti itu. malah kenyataan kamu sendiri yang sebenarnya lebih bejat dari wanita ****** diluaran sana. kalau bukan permintaan orangtuamu aku tidak akan sudi bertemu denganmu malam ini. cukup ke pengacara aja sudah beres perceraian kita," jawab Fabian


"Kamu anggap aku buruk? apa bedanya dengan dirimu yang tak jauh beda dengan suami bejat si Dina itu. kamu selingkuh dariku? kamu pikir aku diam saja? aku juga bisa selingkuh? jadi kita impas..." ucap Vera


"Katakan saja ke orangtuamu aku akan urus perceraian kita. aku sudah muak denganmu," jawab Fabian tegas


Fabian saat itu hendak pergi meninggalkan restoran. Namun langsung dicegah oleh Vera.


"Tunggu, aku belum selesai bicara," ucap Vera


"Kamu yakin dengan keputusanmu? dengan melihatmu sudah bercerai denganku apa kamu yakin Dina akan semakin dekat denganmu? atau justru Dina makin menghindar darimu," ucap Vera


"Menurutmu?" tanya Fabian


"Aku ingin kita kerja sama. kamu tahu kan kalau kakak perempuanku adalah korban dari pria playboy itu. kamu juga ingin merebut Dina dari pria playboy itu kan? jadi tujuan kita sama. kita sama sama punya tujuan menyingkirkan pria itu, dan membuat pria itu menderita. kamu bisa mendapatkan Dina kembali, dan aku bisa membalaskan dendamku terhadap pria itu," jawab Vera


Fabian terdiam memikirkan tawaran Vera


"Kamu tidak usah khawatir. aku juga sudah tidak mencintaimu. kita bisa bersandiwara menjadi suami istri agar kita bisa masuk dalam kehidupan Dina. bagaimana? kita akan mulai membuat suatu rencana," saut Vera


"Tapi mengapa kita harus bertahan? kita tetap bercerai saja dan cukup melakukan sandiwara suami istri di depan mereka. mudah kan? jangan bilang kamu yang sebenarnya berharap rumah tangga kita bertahan," tanya Fabian


"Aku? berharap ingin bertahan denganmu katamu? lucu kamu, selingkuhanku saja jauh lebih tampan darimu," jawab Vera


"Dasar munafik," saut Fabian


"Jangan terlalu percaya diri. aku memang sudah tidak mencintaimu. kamu pun sama. alasanku ingin dirimu tak menggugatku adalah karena kamu itu anak dari pengusaha terkenal. kehidupanmu pasti di sorot media. apalagi kamu adalah pewaris tunggal di keluargamu. pasti kabar perceraian kita akan cepat terdengar di telinga mereka," jawab Vera


Fabian terdiam memikirkan apa yang di ucapkan Vera ada benarnya. Fabian merasa pasti akan semakin sulit mendekati Dina jika seandainya dirinya sudah bercerai. Ditambah lagi saat ini saja Dina pasti menghindar darinya karena pelecehan yang dilakukan.


"Benar juga ya, tidak ada salahnya aku ikutan rencana si Vera ini. mungkin sementara ini aku akan memperbaiki hubunganku dulu dengan Dina. nanti setelah membaik, aku akan memanfaatkan celah yang ada," batin Fabian


"Bagaimana? kamu setuju?" tanya Vera

__ADS_1


"Setuju," jawab Fabian


"Hahaha....aku masih butuh kamu untuk memenuhi kebutuhanku. sementara ini kamu di mataku tak lebih dari atm berjalanku, haha......:: batin Vera


+++++++++++++++


Di sisi lain meja makan, Gara yang baru saja menyuapi Dina tak sengaja melihat Vera dan Fabian. Gara sontak saja bergegas mengajak Dinaw pulang. Gara tidak mau, Dina ketakutan ketika melihat Vera dan Fabian di dekatnya.


"Sayang, kita pulang yuk," ucap Gara


"Langsung pulang?" tanya Dina


"Iya pulang, sudah jam 21.00," jawab Gara


"Baiklah, tapi aku yang bonceng abang ya? aku mau bonceng abang sampai diniah ke rumah," saut Dina


"Ok siap," jawab Gara


10 menit kemudian, Gara dan Dina sudah berada di parkiran. Sesampainya di parkiran, Dina langsung bersiap menyalakan mesin motornya.


"Ayo bang, naiklah aku bonceng," ucap Dina


Gara sebenarnya tidak ingin melihat Dina berkendara. Dalam pikirnya, Gara memiliki rencana agar Dina membatalkan niatnya mengendarai motor.


"Aku pastikan rencana ini berhasil, mumpung dingin dingin bersahabat. cuaca sangat memihaku malam ini," batin Gara


Gara saat itu naik motor sembari mendekatkan tubuhnya ke Dina. Gara saat itu memajukan tubuhnya hingga membuat Dina risih.


"Bang, munduran dong, aku sempit ini" ucap Dina


"Abang sudah mepet ini duduknya," jawab Gara


Gara saat itu mendekatkan pusakanya yang berdiri tegak ke tubuh Dina. Hawa dingin di malam hari sangat mendukung pusaka Gara berdiri tegak hingga membentuk kerucut gunung di area tengah celananya. Gara merasa yakin sekali jika Dina pasti risih dengan apa yang dilakukanya


"Bang," ucap Dina


"Apa?" tanya Gara


"Pasti punya abang berdiri ya? nusuk nusuk ke pinggangku bang," jawab Dina


"Terus kenapa kalau nusuk nusuk? biasanya juga di kamar sampai masuk lubang kan?" tanya Gara


"Aku nggak nyaman mengendarai motor dengan keadaan seperti ini," jawab Dina


"Ya sudah, kita pindah posisi abang yang bonceng kamu," saut Gara


Mau tidak mau, Dina menuruti perintah Gara. Sementara Gara justru malah senang karena rencananya berhasil.


"Huh, akhirnya..." batin Gara

__ADS_1


__ADS_2