
Tiga hari kemudian, Dina dan Gara pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Gita. Namun sesampainya di rumah sakit, Dina saat itu melihat Bik Sri menangis di luar ruangan. Tanpa bepikir panjang, Dina langsung panik menghampiri Bik Sri
"Bik, mengapa bibi menangis? ada apa Bi?" tanya Dina
"Monitor Nyonya tiba tiba berbunyi Nona, dan hanya ada garis lurus. makanya bibi panggil dokter," Jawab Bik Sri
"Tidak, tidak mungkin. pasti monitor itu eror," ucap Dina
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Bu Gita menyampaikan informasi yang sangat tidak ingin didengar dari Dina.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkehendak lain. kami turut berduka cita atas meninggalnya pasien atas nama Ibu Gita hari ini. kami memberi waktu 15 menit untuk keluarga pasien menemui pasien," ucap Dokter
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun," ucap Gara dan Bik Sri
"Tidak !!! Tidak !!! pasti dokter salah, alat alat itu pasti rusak atau eror. mama saya pasti masih hidup, mama saya pasti sembuh," ucap Dina menangis
"Mohon maaf nona, saya permisi. saya beri waktu 15 menit," jawab Dokter
"Nggak nggak, aku akan pastikan kalau mama masih hidup," saut Dina
Dina kemudkan berlari masuk ke dalam ruangan menemui Bu Gita yang terbaring pucat. Dina saat itu mencoba memastikan kalau Bu Gita mash hidup. Mulai dari mengecek nafas dan nadi Bu Gita. Tapi ketika Dina mengecek, tangan Dina tidak merasakan hembusan nafas dari Bu Gita. Denyut nadi Bu Gita juga tidak dirasakan oleh Dina
"Mama...mama...mengapa mama pergi? mama pasti bercanda kan? mama..." ucap Dina menangis
Dina kemudian mencium tangan Bu Gita lalu mengatakan sesuatu.
"Mama, aku mohon bangun Ma..." ucap Dina menangis
Dina kemudian memeluk tubuh Bu Gita sembari meluapkan tangisanya. Dina tidak siap menerima takdir meninggalnya Bu Gita hari ini. Dina terus menangis dan berharap ada keajaiban Bu Gita bisa bernafas kembali.
__ADS_1
Sementara dari bilik pintu, Gara dan Bik Sri melihat kesedihan Dina kehilangan ibunya. Gara saat itu matanya berkaca kaca, sementara Bik Sri yang menangis di samping Gara mengatakan sesuatu.
"Kamu lihat kan? Nona lagi lagi mengalami hal seperti ini lagi, saya harap jika kamu berniat mengulang masa lalumu kepada Nona, pikirkan ulang untuk menjadikan Nona korbanmu. saya tahu kamu sekarang kaya, tapi saya mohon jangan permainkan lagi perasaan Nona," ucap Bik Sri
"Saya suaminya, sampai kapan pun saya akan menjadi suaminya, istri saya sudah menjadi tanggung jawab saya," jawab Gara
Gara kemudian masuk kedalaman ruangan kemudian merangkul Dina dan memberikan ketenangan.
"Dina...kamu yang kuat ya sayang, Mama sudah tenang di sana. abang mengerti kehilangan seseorang memang membuat hati sangat terpukul, kehilangan seseorang yang kita sayangi tidak pernah mudah, tetapi tak ada jalan yang lebih baik selain mengikhlaskannya. Jika kita ikhlas, maka mama bisa tenang di alam sana. kita doakan semoga mama diampuni segala dosanya serta diterima segala amal ibadahnya oleh Allah," ucap Gara
Dina hanya diam tak menjawab, yang Dina lakukan saat ini layaknya seseorang yang benar benar membutuhkan sandaran.Tanpa ragu, Dina langsung refleks memeluk Gara. Awalnya Gara kaget tiba tiba Dina memeluknya. Karena semenjak menikah hingga hari ini, baru kali ini Gara merasakan Dina memeluknya langsung. Dina hanya bisa menangis di pelukan Gara, sementara Gara hanya bisa memenangkan Dina yang terus terusan menangis
+++++++++++++
Malam hari setelah acara pengajian, Dina menjadi sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara. Psikologis Dina benar benar terguncang dengan meninggalnya Bu Gita hari ini. Dina seperti orang yang tidak menginginkan kehidupan. Dina sulit untuk diajak makan bahkan untuk mandi sekalipun. Seharian ini, Dina lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun di kamar. Sore tadi bahkan Bik Sri harus memandikan Dina karena Dina benar benar tidak bisa mengurusi hidupnya.
Malam ini Bik Sri izin pada Gara untuk pulang kampung. Bik Sri sebenarnya tidak ingin meninggalkan Dina, akan tetapi esok hari adalah hari wisuda anaknya. Dengan terpaksa, Bik Sri harus pulang kampung walaupun hatinya berat untuk meninggalkan Dina.
"Panggil saya senyaman bibi saja," jawab Gara
"Kamu suami Nona sementara ini, walaupun saya tidak nyaman memanggilmu Tuan, tapi saya harus memanggilmu Tuan, saya tetap akan mengawasi Tuan walaupun Tuan adalah suami Nona," ucap Bik Sri
"Terserah Bik Sri saja, ada keperluan apa bibi menemui saya," jawab Gara
"Saya izin pulang kampung karena anak saya besok wisuda. saya akan kembali begitu anak saya selesai wisuda. karena tidak mungkin saya meninggalkan nona berlama lama," ucap Bik Sri
"Baik Bi, saya akan kasih tahu Dina nanti," jawab Gara
"Saya besok akan mengutus teman saya untuk mengurus Nona. karena kamu bisa lihat Nona seperti apa sekarang, tidak mungkin kamu bisa mengurus Nona dalam kondisi seperti ini," ucap Bik Sri
__ADS_1
"Saya suaminya Bi, saya bisa mengurusnya," jawab Gara
"Kamu tidak tahu tentang Nona ketika sedang terpuruk seperti ini. Nona susah untuk makan, mandi harus dimandikan, dan jika ditinggal sebentar saja bisa bisa melakukan percobaan bunuh diri, kalau kamu melihatnya pasti kamu berpikiran Nona gila," ucap Bik Sri
"Bik, tidak terlintas sedikit pun dipikiran saya menganggap kalau Dina itu gila, saya pasti bisa menjaga istri saya. saya akan buktikan kalau persepsi buruk bibi terhadap saya itu salah besar," jawab Gara
Gara kemudian pergi menuju kamarnya untuk menemui Dina. Sesampainya di kamar, Gara melihat Dina tertidur dengan posisi terduduk dan memegangi sebuah buku album. Buku album itu berisikan foto foto Dina dan keluarganya.
"Pasti berat jika seseorang ada di posisimu," batin Gara
Gara kemudian merebahkan posisi Dina tidur dari terduduk menjadi tertentang. Setelah merebahkan tubuh Dina, Gara ikut tidur disamping Dina sembari memeluknya.
++++++++++++
Tengah malam, Gara saat itu terbangun karena tidak merasakan ada Dina disampingnya.
"Loh, dimana Dina?" tanya Gara
Gara saat itu langsung bergegas mencari Dina di setiap sisi sudut rumah. Gara takut jika Dina berbuat nekat seperti yang dikatakan Bik Sri kepadanya.
"Dimana kamu Din.." ucap Gara panik
15 menit kemudian, Gara panik melihat Dina hendak terjun dari balkon lantai 2 rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Gara berteriak dan mencegah Dina melompat.
"Dina !!!" teriak Gara
Gara degan cepat saat itu merengkuh tubuh Dina kemudian memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan? apa dengan seperti ini kamu meluapkan kesedihanmu?" tanya Gara tegas
__ADS_1
Dina hanya menangis dan memberontak agar Gara melepaskan pelukanya. Awalnya Gara melepaskan pelukanya agar Dina mau bicara kepadanya. Namun diluar dugaan, Dina malah kembali berniat ingin melompat dari balkon. Gara yang kembali panik saat itu menyeliding kaki Dina agar Dina terjatuh dan tak jadi bunuh diri.