
Sore hari, Gara saat itu menjemput Dina di kos Ragina. Sesampainya di Kos Ragina, Gara lagi lagi disajikan pemandangan yang membuatnya marah. Gara saat itu melihat Dina bersama Luqman yang menggendong anaknya di depan ruang kantor.
"Apalagi yang mereka bicarakan, mengapa mereka bisa saling bicara?" batin Gara
Selain saling bicara, Gara juga disuguhkan pemandangan Dina seperti sedang membujuk anak Luqman. Gara saat itu menduga kalau Luqman memperalat Icha untuk mendekati Dina
"Ini tidak bisa dibiarkan, pria itu mencari masalah denganku. pasti dia memperalat anaknya agar bisa mendekati Dina," batin Gara
Gara saat itu keluar dari mobilnya kemudian berjalan menuju ruang kantor Dina. Namun baru beberapa langkah berjalan, Gara melihat Luqman pergi meninggalkan ruang kantor. Sehingga Gara hanya berjumpa Dina saja di ruang kantor.
"Urusanmu sudah selesai dengan pria itu?" tanya Gara
"Sudah, tadi Mas Luqman hanya membayar biaya kos," jawab Dina
"Lalu anak pria itu tadi mengapa? abang lihat sekilas kamu seperti bujuk anak pria itu," saut Gara
"Namanya Icha Bang, tadi Icha rewel nggak mau mandi. jadi aku membujuknya tadi," jawab Dina tersenyum
"Kamu kok jawabnya sampai senyum senyum gitu ya?" tanya Gara
"Lucu aja Bang, Icha pintar baru 4 tahun sudah hafal nama nama hari, Icha juga hafal rukun iman dan rukun islam, Icha tadi bilang ingin memberiku hadiah," jawab Dina
"Hadiah apa?" tanya Gara
"Suruh nunggu besok," jawab Dina
"Ya sudah, ayo kita pulang," jawab Gara
+++++++++++-
Sesampainya di rumah, Dina dan Gara saat itu terkejut mendapati Selly bersama anak perempuanya berada di ruang tamu bersama Bik Sri.
"Bik, mengapa wanita itu bisa kesini?" tanya Gara
__ADS_1
"Maaf, Nona ini mengaku ingin bertemu Tuan dan mengakui anaknya adalah anak Tuan" jawab Nih Sri
"Apa yang kamu lakukan disini? apa maumu?" tanya Gara
"Gara, aku kesini karena anak kita merindukanmu, nama anak kita Afika. kamu bisa panggil Afi atau Fika. tapi aku biasanya panggil dia Afi. usia Afi sudah tiga tahun lebih," jawab Selly.
"Aku belum melakukan tes dna, kamu tidak berhak tinggal disini. kamu sangaja kan hancurkan hubunganku dengan Dina?" tanya Gara
"Anakmu merindukanmu, lihat Afi, dia merindukanmu," jawab Selly
Selly kemudian menyuruh Afi berjalan ke arah Gara. Namun Afi tidak mau lepas dari pangkuan Selly.
"Jangan dipaksa, anakmu tidak tahu siapa aku. kamu jangan ngarang. sebaiknya kamu pergilah dari sini," ucap Gara
"Kamu boleh membenciku tapi jangan benci anaku Gar !!!" jawab Selly
"Aku tidak akan mengakui dia anaku, tidak akan, sebelum aku melakukan tes dna," saut Gara
Gara kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan semuanya. Sementara Selly yang melihat Dina mematung di ruang tamu langsung memberikan Afi pada Dina.
Dina hanya menurut saja dengan Selly..
"Din, ajak Afi ke kamar Gara, aku mohon. Afi sudah sejak lahir tanpa kasih sayang seorang ayah," ucap Selly
"Jangan dulu Mbak, takutnya terjadi sesuatu sama Afi. aku bujuk dulu Bang Gara ya Mbak," jawab Dina
Dina kemudian mengembalikan Afi ke pangkuan Selly lalu berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar, Dina saat itu melihat Gara melamun menatap senjanya langit di sore hari.
"Bang," sapa Dina
"Iya Din, kamu mau bujuk abang temuin anak itu?" tanya Gara
"Sebentar saja Bang, kita bisa bicarakan ini baik baik secara kekeluargaan," jawab Dina
__ADS_1
"Mengapa kamu sesantai ini Din? apakah terlintas dipikiranmu kalau kamu akan tinggalkan abang karena masalah ini?" tanya Gara
Dina hanya terdiam karena dalam hati kecilnya ada harapan itu jika terbukti Afi adalah anak Gara.
"Kamu diam berarti benar, maaf jika kamu lihat abang berantakan seperti ini. abang rasanya ingin marah, kesal tapi abang tahan. abang tidak ingin kamu ketakutan. katakan sama Selly kalau abang ingin segera melakukan tes dna hari ini juga," ucap Gara
"Baik, akan aku sampaikan," jawab Dina
Dina kemudian kembali berjalan menuju ruang tamu. Sementara Gara mengacak acak rambutnya karena hatinya tidak tenang. Bayang bayang kebersamaan Dina dan Luqman belum juga hilang di pikiran Gara. Sekarang bertambah lagi munculnya Selly dan anaknya semakin mengancam runtuhnya rumah tangganya.
"Mengapa masalahku serumit ini? bagaimana aku bisa menenangkan diriku," batin Gara
Tak lama kemudian, Dina masuk kedalam kamar.
"Bagaimana jawabnya?" tanya Gara
"Sudah pulang duluan Bang, jadi belum sempat tanya. aku tadi berbincang dengan Bik Sri sebentar lalu kasini," jawab Dina
"Bik Sri ngomong apa?" tanya Gara
"Iya biasa Bang, Bik Sri kaget dengan pengakuan Selly. aku hanya bilang ke Bik Sri agar mendoakan semuanya baik baik saja," jawab Dina
"Baiklah, abang mau mandi, nanti makan malam di luar atau di rumah?" tanya Gara
"Di rumah saja, Bik Sri buat soto ayam hari ini," jawab Dina
"Baiklah, kita makan di rumah," saut Gara
+++++++++++++++
Malam hari, Dina dan Gara makan malam bersama. Ketika makan malam, Dina saat itu melihat Gara mengambil sambal sampai kuahnya memerah.
"Bang, itu soto apa nggak kebanyakan sambal? pasti pedas itu sampai oranya gitu warna kuahnya," ucap Dina
__ADS_1
"Abang sudah lama nggak makan soto, apalagi pakai sambal," jawab Gara
"Mungkin dengan seperti ini aku bisa meredakan emosi dalam hatiku," batin Gara