
Pagi hari, Dina dan Gara sarapan bersama di meja makan. Saat sarapan, Gara teringat semalam mendapatkan pesan dari seseorang misterius. Tak ingin seseorang itu bertindak diluar kendalinya, Gara saat itu mengadukan pesan yang didapat semalam pada Dina
"Din, abang semalam tiba tiba ada yang telepon tapi abang ketiduran sehingga nggak keangkat. pas abang cek abang nggak tahu nomer itu siapa, dan nomer itu mengirimkan abang ini mengajak ketemuan," ucap Gara
"Mengapa nggak abang telepon balik saja, atau balas pesannya," jawab Dina
"Abang tidak ingin kedepan ada kesalahpahaman terjadi. jadi ini kamu bisa cek ponsel abang, abang tidak boleh sembarangan membalas pesan seorang tak dikenal tanpa sepengetahuanmu," saut Gara
Gara kemudian menyerahkan ponselnya pada Dina. Gara sengaja terbuka kepada Dina karena takut Dina salah paham. Sementara Dina yang melihat ponsel Gara hanya tersenyum lalu mengatakan sesuatu pada Gara.
"Abang tidak usah khawatir. aku tidak akan mengekang abang. selama abang baik padaku aku tak masalah abang berteman dengan siapa pun," ucap Dina
"Abang sekarang mau terbuka sama kamu, abang takut kamu salah paham dan berpikiran tidak tidak tentang abang," jawab Gara
"Bang, separuh bulan ini aku merasa abang sudah banyak perubahan. abang sudah menjadi pribadi yang lebih baik. dan sekarang aku juga menyadari kalau abang menghianatiku dulu bukan sepenuhnya salah abang. aku juga bersalah, andai cobaan dalam hidupku tidak terjadi. aku tidak akan sadar kesalahanku di masa lalu," saut Dina
Gara hanya terdiam mencerna setiap kalimat yang diucapkan Dina
"Separuh bulan kedepan hingga penghujung bulan, aku hanya ingin abang terus menjadi seperti ini. maaf jika separuh bulan ini aku selalu membuat abang kecewa, abang sudah banyak membantuku. dan aku menyadari mungkin saat ini aku tidak notmal seperti wanita pada umumnya," ucap Dina
"Apa maksudmu tidak normal?" tanya Gara
"Aku tidak normal, mungkin hanya aku satu satunya wanita di dunia ini yang takut melihat laki laki telanjang. bayang bayang buruk itu selalu muncul," jawab Dina
__ADS_1
Gara saat itu memahami apa yang dirasakan Dina. Gara menjadi semakin merasa bersalah dengan apa yang dialami Dina saat ini. Tanpa berpikir panjang, Gara bertekad ingin membawa Dina ke psikiater. Gara merasa dirinya juga membutuhkan saran dari psikiater agar bisa mendekati Dina.
"Nanti setelah abang pulang kerja, abang antar ke psikater ya? abang tahu semua ini karena kejadian di masa lalumu," tanya Gara
"Tidak tidak, itu pasti akan keluar biaya. aku tidak akan ke psikiater. yang penting aku merasa nyaman saja sudah cukup" jawab Dina
"Jangan pikirkan biaya. abang banyak uang. jangan khawatir," saut Gara
++++++++++++++
Sore hari, Gara menepati janjinya dengan membawa Dina ke psikiater. Kebetulan psikiater yang dikunjungi Gara adalah rekomendasi dari Pak Umar. Sesampainya di tempat praktik psikiater, Dina langsung melakukan pemeriksaan sementara Gara menunggu di lobi psikiater.
Ketika menunggu di lobi, Gara mendengar suara Dina menangis saat menjalani pemeriksaan. Suara tangisan Dina membuat Gara panik dan bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Dina. Gara yang tadinya duduk menjadi mondar mandir menanti psikiater ke luar dari ruangan
1 jam kemudian, psikiater yang memeriksa Dina keluar dari ruanganya. Gara sontak saja menanyakan kondisi Dina pada psikiater.
"Kita bicara ke ruang administrasi saya, sekarang pasien masih dijaga asisten saya di ruang rawat," jawab Psikiater.
"Iya Dok," saut Gara
Beberapa detik kemudian, Gara dan Psikiater sudah dalam ruangan administrasi. Sesampainya di ruangan administrasi Psikiater menceritakan apa yang terjadi pada Dina.
"Setelah saya melakukan pemeriksaan konseling dan tes terhadap pasien, pasien mengalami gejala androphobia. androphobia adalah ketakutan abnormal yang terjadi secara terus menerus terhadap kaum laki-laki. namun beruntung di kasus pasien ini masih di kategorikan gejala sedang. karena pasien mengaku takut melihat laki laki bertelanjang, di beberapa kasus ada juga yang parah, pasien androphobia itu bisa saja takut dengan hanya melihat saja," ucap Psikiater
__ADS_1
"Ini apa berkaitan dengan masa lalu yang dialami istri saya?" tanya Gara
"Dalam kebanyakan kasus kondisi ini disebabkan oleh peristiwa traumatis, seperti pernah melihat orang dilecehkan secara fisik, verbal atau pernah menjadi korban pemerkosaan, dan bisa karena faktor diselingkuhi berkali kali juga bisa. Hal ini akan berkaitan erat dengan rasa takut yang melekat di memori orang tersebut," jawab Psikater
"Terus tadi istri saya menangisi apa Dok?" tanya Gara
"Istri bapak tadi menceritakan apa yang dialaminya saat ini pada saya. maaf, saya tadi mendengar pengakuan dari pasien. apakah bapak adalah orang yang dimaksud pernah menyelingkuhinya dan menyelamatkanya dari tragedi pemerkosaan?" saut Psikiater
"Iya Dok, saya memang orang itu Dok, saya butuh solusi dari dokter untuk cara agar bisa menyembuhkan istri saya," jawab Gara
"Apakah selama ini istri bapak belum menerima pernikahan?" tanya Pskiater
"Iya Dok, saya ingin membuat agar istri saya bisa menerima saya. tidak ada sedikit pun dalam hati saya mau menyakitinya," jawab Gara
"Fobia terhadap laki-laki ini bisa memiliki efek buruk terhadap kehidupan pribadi dan profesionalitas kerja seseorang, karena itu sebagian besar penderita androphobia memilih hidup sendiri tanpa melakukan perawatan psikologis. Meskipun orang tersebut bisa hidup normal, tapi mungkin tidak pernah ingin tahu seperti apa sebuah pernikahan. jadi saran saya terus buat pasien nyaman bersama anda," saut Psikiater
"Kalau nyaman pasti dia selalu nyaman dan tak takut dok, bahkan kami tidur bersama. tapi ketika melihat saya hanya telanjang dada itu dia langsung gemetar, takut dan menutup mata. apa itu bisa sembuh?" tanya Gara
"Perlahan bapak bisa melakukan kontak fisik dengan pasien secara bertahap. Ketika bapak telanjang usahakan jangan sampai pasien melihat bapak telanjang ketika keluar di kamar mandi, atau mengajak pasien tidur bersama saat bapak telanjang. karena takutnya ada stigma memori buruk pasien muncul. sehingga ketakutan pasien terjadi," jawab Dokter
"Contoh saran dari dokter bagaimana cara saya pelan pelan mengenalkan fisik saya pada istri saya?" tanys Gara
"Pelan pelan saja mengenalkan fisik bapak pada pasien. misal bisa bertahap mulai kontak fisik dalam situasi spontanitas alias situasi yang tidak mengarah ke arah seksualitas. misal seperti bapak lepas baju karena spontanitas baju bapak kotor kena jus, bisa juga membersihkan kolam renang, dan bisa pas badan bapak gatal atau bapak sakit. itu nantinya semakin korban sering melihat, durasi kontak fisik akan meningkat dan pasien bisa terbiasa," jawab Psikiater
__ADS_1
"Terima kasih Dok, saya boleh temui istri saya?" tanya Gara
"Silahkan, sepertinya pasien tertidur. saya akan buatkan jadwal konsultasi bulan depan dan obat obatan untuk pasien," jawab Psikiater