
3 jam kemudian, jam sudah menujukan pukul 10.00 WIB. Dina saat itu segera memakai hijabnya sebelum menemui Luqman. Namun disaat Dina memakai hijab, Dina tiba tiba mendapatkan pesan dari Luqman.
📩 "Dina, bilakah kita ketentuan di taman bermain? aku mengajak Inga juga dosin. aku ingin ajak Icha temui adiknya disana. tapi Inga ingin tetap bermain di taman bermain," pesan Luqman
📩 "Maaf Mas, aku tidak bisa jika keluar rumah. aku hanya diperbolehkan suamiku menemui Mas Luqman di teras rumah," balas Dina
📩 "Dina, kita hanya di taman bermain menemani anak anak. demi icha, aku mohon kamu bersedialah. atau aku pesankan kamu taksi di rumahmu? lagipula suamimu kerja. dia tidak tahu kamu pergi," pesan Luqman
📩 "Maaf Mas, aku tetap tidak bisa, aku tidak ingin melanggar amanat dari Bang Gara. aku harap Mas Luqman mengerti mengingat kita bukan muhrim," balas Dina
Tak lama kemudian, Luqman saat itu menelepon Dina. Dina langsung mengangkatnya dan memulai pembicaraan.
📞 "Hallo assalamualaikum Mas Luqman," ucap Dina
📞 "Waalaikumsalam, sekarang Icha menangis Din, Icha ingin tetap di taman bermain. aku bingung membukuknya," jawab Luqman
Suara tangisan Icha saat itu memang terdengar di telepon. Tanpa berpikir panjang, Dina langsung ingin bicara dengan Icha
📞 "Mas Luqman, berikan ponselnya pada Icha. biar aku yang bujuk Icha agar mau datang," ucap Dina
Tak lama kemudian, Icha memulai pembicaraanya pada Dina.
📞 "Tante, ajak adek kesini aja, Icha mau bermain di sini," ucap Icha
📞"Icha, icha tadi di sekolah sudah bermain dengan teman teman. sekarang masa masih mau bermain lagi? Icha nggak kasihan sama si adek masih kecil kepanasan di jalan? kalau tante yang ingin Icha ke rumah, Icha mau nggak? tante ada banyak biskuit kesukaan Icha waktu makan.di kantin," jawab Dina
Dengan sekali bujukan, Inga akhirnya bersedia menuruti keinginan Dina. Icha sangat tidak sabar makan biskuit kesukaannya di rumah Dina
++++++++++++++
Sementara di kantor, Gara hanya tersenyum saja melihat pesan yang dikirimkan Dina pada Luqman. Gara memang sengaja menyadap ponsel Dina demi agar bisa mengawasi Dina. Gara sangat bersyukur memliki istri yang berpendirian kuat
"Bagaimana abang nggak makin cinta sama kamu kalau kamu selalu membuat hati abang bergetar sepert inu. selain cantik, kamu juga wanita yang memiliki prinsip dan pendirian kuat. abang janji akan selalu menjaga ikatan suci kita ini, kamu pasti bahagia bersama suamimu ini," batin Gara
Tak lama kemudian, Gara mendapat pesan dari pesan nomor dikenal. Gara saat itu yakin kalau pesan itu dari Luqman dari kata katanya.
📩 "Aku menuju rumah calon ibu dari anak anaku, kamu lihat saja, aku akan melakukan apa yang pernah kamu lakukan padaku di masa lalu," pesan Luqman
📩 "Aku tidak pernah merebut istrimu, mantan istrimu itu yang datang kepadaku sebagai ******. aku tidak tahu siapa kamu dan siapa istrimu di masa lalu. jangan samakan istriku dengan mantan istrimu itu," balas Gara
📩 "Memang tidak sama, karena kamu dan mantan istriku itu murahan semua. aku tak peduli kamu masih berhubungan dengan dia atau tidak. yang pasti aku ingin menyelamatkan Dina dari pria murahan sepertimu, aku akan cerita semuanya, dan bersiaplah menduda setelah ini,".pesan Luqman
__ADS_1
📩 "Istriku bukan wanita murahan yang mudah kamu bujuk rayu. aku peringatkan padamu, jika kamu sentuh istriku aku tidak akan tinggal diam. aku selamanya akan mempergahankan istriku. aku tidak akan menceraikan istriku," balas Gara
Gara saat itu khawatir dengan apa yang dilakukan Luqman di rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Gara ingin Dina berkunjung ke kantornya untuk membawakan makan siang. Hal ini Gara lakukan agar pertemuan Dina dan Luqman hanya singkat.
++++++++++++
Di rumah, Dina saat itu menyambut kedatangan Luqman dan Icha. Sesuai pesan Gara, Dina tidak mengajak Luqman masuk kedalam rumah melainkan hanya di teras.
"Mas Luqman tunggu disini dulu ya, aku akan menemani Icha ambil biskuit yang aku janjikan. sebentar lagi suster datang membawa Fia kesini," ucap Dina
"Aku nggak boleh masuk nih ceritanya?" tanya Luqman
"Maaf Mas, di rumah tidak ada Bang Gara, aku tidak berani mengizinkan pria bukan muhrimku masuk kedalam rumah," jawab Dina
"Sekalipun di ruang tamu?" tanya Luqman
"Iya Mas, mohon maaf sekali. nanti aku kasini lagi untuk ngomong sesuatu sama Mas. tapi aku temani Icha dulu," jawab Dina
Tak lama kemudian, Suster datang menyerahkan Fia pada Dina.
"Bu, ini Fia saya taruh mana kalau di teras?" tanya Suster
"Baik Bu," saut Suster
Suster saat itu memberikan Fia ke pangkuan Luqman. Namun ada hal aneh yang Dina lihat pada diri Luqman. Dina saat itu tidak melihat interaksi antusias Luqman menyambut Fia. Luqman hanya memangku biasa tanpa adanya interaksi seorang ayah yang merindukan anaknya. Tapi Dina berusaha berpikir positif tentang Luqman dan Fia.
"Mungkin Mas Luqman masih meyakinkan dirinya adalah bapaknya Fia. kasihan juga Mas Luqman baru mengetahui anak keduanya. tapi tak apa apalah, pasti perlahan Mas Luqman akan bisa akrab dengan Fia," batin Dina
"Mas Luqman, aku temani Icha di dalam ya? Mas bisa main main dulu sama Fia," ucap Dina
"Baik Din," jawab Luqman
Dina kemudian meninggalkan Luqman lalu masuk ke dalam ruang makan. Sesampainya di ruang makan Dina melihat Icha menunggu biskuit matang di oven.
"Nungguin biskuit tante ya?" tanya Dina
"Iya, kata bibi masih di oven," jawab Icha
"Sabar ya, tunggu sebentar. kalau ovenya bunyi berarti biskuitnya matang," saut Dina
Tak lama kemudian, biskuit buatan Dina matang sempurna. Pelayan langsung mengeluarkan dari oven dan menyajikanya.ke Icha.
__ADS_1
"Nah udah matang, tapi masih panas. tunggu sampai agak dingin baru di makan," ucap Dina
"Baik Tante," jawab Icha
"Bibi, kalau antar minuman sekalian bawakan biskuit ini ke Mas Luqman di teras," saut Dina
"Baik Nona," jawab Pelayan.
Dina saat itu menemani Icha makan biskuit di meja makan. Namun baru beberapa menit makan, Dina dan Icha mendengar suara Fia menangis.
"Eh, sepertinya Fia menangis. tante tinggal dulu ya? icha sama bibi dulu," ucap Dina
Beberapa detik kemudian, Dina sudah sampai di teras. Sesampainya di teras, Dina melihat susternya yang sedang kesal. Begitu juga dengan Luqman yang ekspresinya ikut terlihat kesal.
"Mas Luqman Suster, ada apa dengan Fia?" tanya Dina
"Saya permisi bawa Fia ke kamar Bu, saya mau ganti popoknya karena bocor," ucap Suster
"Baik Sus," jawab Dina
Setelah kepergian suster, Dina menyadari kalau celana Luqman basah karena dikencingi Fia. Tanpa berpikir panjang, Dina mengucapkan maaf pada Luqman
"Maaf Mas, Fia masih kecil jadi maklum semoga Mas mengerti," ucap Dina
"Iya aku ngerti kok," ucap Luqman
"Mas Luqman apa bawa pakaian ganti?" tanya Dina
Luqman saat itu terdiam dan hanya tersenyum
"Mas, apa Mas dengar aku bicara?" tanya Dina
"Eh iya, aku nggak bawa pakaian ganti. boleh aku pinjam pakaian suamimu? pakaian suamimu pasti hampir sama denganku," jawab Luqman
Dina saat itu bingung harus menolak atau menerima. Tak ingin membuat keputusan sepihak, Dina mencoba menghubungi Gara. Tetapi Gara tidak angkat teleponya.
"Din, nanti kamu bisa jelaskan ke suamimu, atau nanti aku deh yang jelasin. suamimu pasti sibuk," ucap Luqman
"Baik Mas, aku ambikan celana Bang Gara dulu. Mas Luqman bisa ke mess belakang rumah aja ganti pakaianya," jawab Dina
Dina saat itu pergi meninggalkan Luqman di teras. Sementara Luqman di teras meluapkan kekesalanya karena Dina tak mudah untuk bujuk. Luqman mengakui saat itu kalau Dina adalah wanita berpendirian kuat.
__ADS_1