
Esok hari, Dina dan Gara saat itu bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, Gara saat itu tiba tiba merasa mual ketika menyetir. Refleks, Gara langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Loh, kok berhenti Bang?" tanya Dina
Gara tak menjawab dan langsung keluar pintu mobil karena tak tahan dengan rasa mual yang dideritanya. Gara saat itu memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan. Untungnya Gara memberhentikan mobilnya di kawasan yang sepi orang. Sehingga, tidak ada orang yang melihat Gara muntah.
"Huwekk...Huwekk..." (Gara muntah)
"Bang, abang kenapa? abang sakit?" tanya Dina
"Perut abang tiba tiba nggak enak Din, mungkin masuk angin karena hujan hujan kemarin," jawab Gara
"Abang nggak salah makan kan? kan hujan hujanya kemarin malam. abang juga nampak sehat sehat aja kemarin malam. fisik abang kuat,masih bisa jamah aku ," ucap Dina
"Abang hanya makan masakan kamu saja kemarin.jadi nggak mungkin lah abang salah makan, kalau abang salah makan kamu jelasnya juga salah makan," jawab Gara
"Abang di hotel minum air keran mungkin bisa jadi? minum air keran kan bisa bikin perut sakit," saut Dina
Gara saat itu menggelengkan kepalanya karena dugaan Dina tak masuk akal
"Kita nggak sedang di gurun sahara Din, mana mungkin abang sebegitunya minum air keran yang tak higienis. kamu kan tahu kemarin kita minum air higienis dispenser hotel," jawab Gara kesal
"Barangkali pas mandi nggak sengaja abang.ketelan banyak air keran, atau bisa jadi sengaja," saat Dina
Gara tak menjawab celoteh Dina karena perutnya makin terasa teraduk aduk melihat statment ngawur Dina.
"Huwekk...Huwek...." (Gara muntah)
Dina saat itu merasa panik ketika Gara kembali muntah. Namun Dina bukan panik mengkhawatirkan Gara, melainkan panik memikirkan cara pulang.
"Terus kita pulangnya bagaimana Bang? abang juga nggak mungkin bisa nyetir dalam keadaan seperti ini, kalau tiba tiba turun hujan gimana?" saut Dina
Gara saat itu menggelengkan kepalanya karena heran dengan reaksi Dina. Gara awalnya berpikir Dina akan memijat tengkuk dan punggungnya ketika dirinya sedang muntah. Namun, sebaliknya Dina malah khawatir tidak bisa pulang.
"Bang, bagaimana ini? aku harus bagaimana? aku kan nggak bisa nyetir," ucap Dina
Gara masih diam tak menjawab karena fokus memulihkan tenaganya setelah muntah.
Sementara Dina saat itu melihat di sekelilingnya ada para mahasiswa yang berpakaian klub futsal asuhan Luqman. Dina tahu pakaian itu karena sering melihat Adit berpakaian klub futsal di kos.
"Bang, di dekat taman sini sepertinya ada tim futsalnya Mas Luqman lagi latihan. aku tahu warna pakaian klub nya karena Adit dulu sering pakai. aku telepon Mas Luqman saja ya? siapa tahu Mas Luqman bisa bantu nyetirkan mobil," ucap Dina
Gara langsung berdiri
__ADS_1
"Nggak nggak, jangan berkontak dengan pria itu lagi. abang nggak sudi lagi berhubungan dengan orang orang toxic seperti dia," 'jawab Gara
"Bang, tapi masalahnya kan sudah beres. Mas Luqman rela keluar dari kos demi keutuhan rumah tangga kita," ucap Dina
"Kamu tidak paham dunia hitam para orang toxic di sekitarmu Dina. kalau kamu lengah, kejadian semalam bisa terulang. kamu mau kejadian kamu dijebak Vera dan Fabian terulang lagi? kamu jangan merasa cepat percaya dengan perubahan orang lain," jawab Gara
Dina kemudian memeluk Gara karena merasa ketakutan. Sementara Gara hanya bisa pasrah dipeluk Dina karena masih lemas. Namun dalam kondisinya yang masih lemas, Gara menyempatkan diri menenangkan Dina
"Sudah jangan takut, ayo masuk ke dalam mobil saja, bantu abang meredakan rasa nggak enak di perut abang," ucap Gara
Gara kemudian mengajak Dina masuk kedalam mobil. Sesampainya di dalam mobil, Dina membuka kancing kemeja Gara lalu mulai mengoleskan minyak kayu putih di perut Gara.
"Olesnya yang rata, banyakin dikit minyaknya," ucap Gara
"Iya, abang mau aku belikan teh hangat didekat taman sana? sekalian aku mau beli biskuit buat ngemil di mobil," jawab Dina
Gara saat itu melihat banyak orang berakribut futsal berlari mengitari taman.
"Kok malah lamun, ngelihatin apa Bang?" tanya Dina
"Oh itu, abang lihat banyak orang latihan mau futsal atau sepak bola kayaknya," jawab Gara
"Itu anak futsal bang, asuhanya Mas Luqman. semasa aku masih berjualan di kantin, aku lihat Adit dan Mas Luqman warna jersey nya mirip seperti itu," saut Dina
"Bang, jadi mau dibelikan teh hangat nggak?" tanya Dina
"Nggak sayang, tidak usah keluar. tunggu abang agak mendingan baru kita lanjut perjalanan," jawab Gara
"Abang takut aku ketemu Mas Luqman ya? abang tenang aja, aku akan waspada seandainya bertemu. aku akan selalu ingat pesan abang," saut Dina
"Tentu saja abang takut, abang cemburu kamu dekat dengan pria. sekalipun kalian hanya berbincang. semua suami yang normal pasti cemburu lihat istrinya dekat dengan pria lain," jawab Gara
"Baiklah, ini sudah rata aku olesi, masih kurang?" tanya Dina
"Sudah sudah," jawab Gara
Dina kemudian mengancingkan kembali kemeja Gara. Namun ketika Dina mengancingkan, posisi Dina saat itu dekat dengan Gara. Gara sontak merasaan aroma rambut Dina yang tertutup hijab.
Perlahan, Gara merasakan gejolak tak enak di perutnya hilang seiring lamanya menghirup. Aroma rambut Dina yang tertutup hijab, membuat hawa sejuk di tubuh Gara. Sontak saja, Gara mencium kening Dina.
"Bang, kok malah nyosor? abang cari kesempatan ya?" tanya Dina
"Rasa mual abang perlahan hilang karena menciumi aroma rambutmu,"jawab Gara
__ADS_1
"Modus, abang cari kesempatan," saut Dina
Dina saat itu mengetes dengan menjauhkan tubuhnya dari Gara. Awalnya Dina tak percaya dengan omongan Gara. Namun setelah melihat Gara tiba tiba hendak kembali muntah, Dina mulai percaya.
"Bang, ini abang bercanda kan ? jangan muntah lagi Bang," ucap Dina
"Abang sudah keadaan kaya gini kamu masih anggap bercanda," jawab Gara
"Aku mohon jangan muntah Bang, aku nggak mau abang nggak bisa nyetir hanya karena muntah muntah terus," ucap Dina
"Makanya peluk abang kaya tadi, abang firasat sepertinya apa yang abang alami ini berhubungan dengan kehamilanmu," jawab Gara
"Kok bisa?" tanya Dina
"Ya bisalah, kan abang bapaknya," jawab Gara
Tak lama kemudian, rasa mual Gara sudah hilang karena memeluk Dina. Setelah kembali bugar, Gara saat itu melanjutkan perjalananya menuju rumah.
+++++++++++
1 jam kemudian, Gara dan Dina sudah sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Gara dan Dina dikejutkan dengan kedatangan Vera dan Selly.
Dina saat itu mencengkam erat lengan Gara karena ketakutan.
"Bang..." ucap Dina gemetar
"Gak apa apa sayang, kamu tenang saja. ada abang bersamamu," jawab Gara
"Din, niat kedatanganku ini mau minta maaf karena kejadian semalam. aku bener bener nggak sengaja. selain minta maaf, aku disini sekaligus mau bongkar rahasia suamimu yang harus kamu tahu," saut Vera
Dina hanya menggelengkan kepalanya dan ketakutan.
"Apa tujuanmu kemari? apa yang kamu inginkan sebenarnya. kamu nggak lihat Dina takut denganmu. sebaiknya kamu urus suami bejatmu itu," jawab Gara
"Suamiku hanya menolongnya, dia tidak bermaksud melecehkan Dina. justru sebenarnya kamu yang harusnya ditakuti oleh Dina," saut Vera
"Mengapa bisa?" tanya Gara
"Jangan pura pura gak tahu itu Gar, kamu pasti paham ada rahasiamu yang takut tebongkar diketahui Dina?," jawab Selly
"Rahasia? mengapa aku harus takut? kalian mau bongkar kalau kalian punya banyak video syurku bersama Selly dan wanita lain di masa lalu? dan kalian mau tunjukan ke Dina kalau aku pemabuk di masa itu? aku nggak takut. aku percaya istriku tahu aku berubah, istriku adalah orang terbaik yang paling mengerti diriku. sekalipun kamu ancam akan sebar itu untuk menghancurkan karierku, aku nggak takut kehilangan karierku." saut Gara tegas...
Deg....
__ADS_1