
Esok hari, Ayunda kembali mendatangi Dina dan Gara di rumah sakit. Dina saat itu sudah tahu tujuan Ayunda datang untuk meminta konfirmasi tanda tangan Gara. Untungnya Gara masih tidur sehingga Dina bisa mengajak Ayunda bicara empat mata di luar ruangan.
"Bu Ayunda, saya minta tolong beri saya waktu menyelesaikan masalah ini. Bu Ayunda kemarin bilang memberi suami saya waktu 7 hari untuk tanda tangani surat perpindahan alih kuasa perusahaan kemarin," ucap Dina
"Maaf Bu Dina, saya hanya ingin memberi kabar kalau Tuan Handoko memajukan waktu menjadi 4 hari. itu saja yang saya sampaikan," jawab Ayunda
"Kok bisa dimajukan Bu? suami saya masih sakit. tolong sampaikan kepada klien ibu jika saya istrinya minta waktunya jangan dimajukan. dan jika klien ibu bekenan, saya ingin perpanjangan waktu sampai suami saya keluar dari rumah sakit ini," ucap Dina
"Baiklah Bu, saya kemari hanya sebatas menyampaikan pesan dari Tuan Handoko. terkait permintaan Bu Dina, saya akan sampaikan ke Tuan Handoko. jika Tuan Hadoko tidak berkenan dengan permintaan Bu Dina, tepat di hari ke 4 saya akan kembali lagi. terima kasih," jawab Ayunda
Ayunda kemudian pergi meninggalkan Dina di rumah sakit. Setelah kepergian Ayunda, Dina hendak kembali masuk ruangan ingin cek ponselnya. Namun langkah Dina terhenti karena Adit tiba tiba datang menghampirinya. Kedatangan Adit tak membuat Dina terkejut, dikarenakan Dina sudah memberi pesan terlebih dahulu menyuruh Adit datang.
"Eh Adit, kamu datang juga. hampir saja aku mau ambil ponsel telepon kamu," ucap Dina
"Iya Mbak, emm...ngomong ngomong wanita resek tadi siapa?" tanya Adit
"Hah? wanita resek? aku nggak paham Dit," saut Dina
"Itu tadi loh, wanita yang pakai baju batik ala ala PNS," jawab Adit
Dina saat itu teringat Ayunda yang barusan menemuibya memakai kemeja batik biru dongker dengan bawahan rok formal hitam sepanjang lutut.
"Maksudmu wanita yang pakai batik biru dongker dan rok formal hitam selutut itu?" tanya Dina
"Iya iyalah, benar benar hantu wanita itu. wanita resek itu. dia yang jalanya nubruk aku dan dia yang terpental, tapi aku yang disalahkan. resek banget kan Mbak?" jawab Adit
Dina hanya tersenyuk kecil lalu menjawab pertanyaan Adit.
"Nama wanita itu Ayunda Lestari. wanita itu adalah pengacara dari kakak ayah tiri suamiku. saat ini ada masalah di perusahaan. sehingga hari ini aku terpaksa berangkat ke perusahaan untuk mencari tahu. kamu jaga suamiku ya selama aku pergi," ucap Dina
"Sampai jam berapa Mbak? aku sore nanti ada janjian sama dosen pembimbingku thesisku," jawab Adit
"Nggak lama kok. aku benar benar butuh bantuanmu untuk jaga suamiku. suamiku masih tidur di ruangan. aku tidak punya teman yang bisa aku percayai selain dirimu," saut Dina
__ADS_1
"Keluarga Mbak sangat berjasa dalam kehidupanku. kalau tidak ada keluarga mbak, aku pasti akan berpikir dua kali mau kuliah disini. mengingat dulu kos pria dekat kampus penuh dan cari kos jauh kampus juga tidak ada kendaraan. aku pasti akan bantu Mbak Dina" jawab Adit
"Kamu juga sangat berjasa membuat Kos Ragina seperti sekarang. sekarang aku pergi dulu," saut Dina
Adit hanya mengangguk.
Adit adalah mahasiswa dari pulau sulawesi yang beradu nasib di pulau jawa. Semasa diterima kuliah di pulau jawa, Adit belum memiliki kendaraan dan kos yang dekat dari kampus. Berkat dari keluarga Dina, Adit bisa tinggal di Kos Ragina yang baru satu tahun berdiri.
+++++++++++
1 jam kemudian, Dina saat itu nekat datang ke perusahaan. Namun sesampainya diperusahaan, Dina sudah tidak dianggap lagi sebagai istri CEO perusahaan. Dina dilarang masuk ke ruang kerja Gara.
Sementara ini, Yusuf yang sebelumnya menjadi sekretaris beralih menjadi CEO sementara sebelum Pak Handoko resmi dilantik sebagai CEO baru diperusahaan. Begitu juga dengan Dirga yang sebelumnya menjadi asisten sekretaris beralih menjadi sekretaris di masa peralihan kekuasaan.
"Saya mau bicara dengan Pak Yusuf dan Pak Dirga. saya ingin bicara terkait sengketa perusahaan ini," ucap Dina
"Maaf Nona, Nona tidak memiliki janji dengan Bapak Yusuf atau pun Bapak Dirga. Terhitung sejak hari ini, Bapak Gara sudah bukan CEO di perusahaan ini. jika Nona ingin bertemu Bapak Yusuf dan Bapak Dirga, harap menunggu sampai pekerjaanya selesai," ucap Resepsionis
"Saya hanya mau kejelasan terkait peralihan kekuasaan ini. saya hanya mau bilang, mengapa Pak Dirga tidak memberi tahu tentang persidangan ini kepada atasnya. Dimana suami saya masih sah menjabat CEO di perusahaan ini," jawab Dina tegas
Tak lama kemudian, Yusuf dan Dirga terlihat keluar dari lift bersama seseorang yang Dina kenal. Dina sangat terkejut melihat ada Fabian yang turut berada di gerombolan Yusuf dan Dirga. Tanpa berpikir panjang, Dina berjalan cepat menghampiri mereka semua.
"Pak Yusuf, Pak Dirga. bisakah kita bicara sebentar? ada banyak hal yang perlu saya sampaikan," ucap Dina
Yusuf dan Dirga hanya saling memandang lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa Bapak Yusuf dan Bapak Dirga ada waktu luang hari ini? ini sesuatu yang penting," jawab Dina
Yusuf saat itu meminta Dirga yang meladeni Dina
"Dirga, Fabian kamu urus dia dan bawa dia ke ruang kerja. aku akan meninjau proyek di luar kota," ucap Yusuf
"Baik," jawab Dirga dan Fabian
__ADS_1
Dirga dan Fabian saat itu menuntun Dina menuju ruang kerjanya. Sesampainya di ruang kerja, Dirga memulai pembicaraan.
"Silakan Nona, ada kepentingan apa anda kemari?" tanya Dirga
"Saya hanya mau bertanya. apa maksud bapak mengatasnamakan perusahaan tanpa konfirmasi suami saya terkait sidang gugatan Tuan Handoko? apa bapak sadar jika bapak sudah menyalahi aturan sebagai asisten sekretaris? suami saya sebelum hasil putusan terbit masih menjabat sebagai CEO," tanya Dina
"Kamu pikir kami diam membiarkan perusahaan ini di pimpin oleh orang yang tidak seharusnya memimpin perusahaan ini? apalagi kisah suami anda dari sepupu saya Fabian sangat tidak terpuji. membuat saya tidak yakin dengan masa depan perusahaan ini. jadi tidak ada istilah kami menyalahi aturan. justru suami anda yang menyalahi aturan," jawab Dirga
"Suami saya bukan orang buruk seperti yang anda katakan. suami aaya orang yang bertanggung jawab. apa hal yang buruk tentang suami saya itu semua di masa lalu sebelum bekerja di periang ini" saut Dina
"Saya hanya menganggap sikap anda ini wajar karena anda adalah istri dari Bapak Gara," jawab Dirga
Dirga hanya tersenyum sinis lalu meninggalkan Dina dan Fabian tanpa pamit
"Kamu sudah siap kembali hidup miskin?" tanya Fabian
"Siap atau tidak siap itu menjadi urusanku. yang pasti aku hanya ingin mencari kebenaran," jawab Dina
"Kamu itu sadar dirilah, suamimu itu tidak memiliki garis keturunan keluarga ini. jadi wajar jajaran perusahaan disini termasuk kakak sepupuku tidak ada yang setuju suamimu berkuasa disini," saut Fabian
"Baiklah, aku permisi," jawab Dina
Dina saat itu beranjak dari kursinya tapi Fabian mencegahnya
"Tunggu, bgaimana kalau saya mengadakan penawaran untuk anda?" tanya Fabian
"Penawaran? maksudmu apa?" tanya Dina
Fabian saat itu tersenyum lalu megutarakan keinginanya
"Bercerailah dengan suamimu dan tinggalkan dia. lalu menikahlah denganku. aku akan membantumu menggulingkan Tuan Handoko jika kamu melakukan itu," ucap Fabian
Degg
__ADS_1
Air mata Dina sontak keluar mendengar penawaran sesat yang ditujukan padanya.
"Terima kasih atas tawaranya. kalian memang bisa berhasil menjadi penghianat sejati. dan aku memutuskan akan melawan balik kalian di pengadilan, aku akan berjuang mengusut semua ini," ucap Dina