
2 jam kemudian, Dina sudah pulih dari gejala hipotermia yang dialaminya. Dina terbangun dari tidurnya menyadari kalau Gara memeluknya dan menatapnya.
"Kamu sudah baikan?" tanya Gara
Dina hanya diam tak menjawab. Kejadian di kamar mandi tadi membuat Dina merasa canggung. Dina merasa aksi nekatnya di kamar nandi membuat gara melihat tibuh polosnya tanpa sehelai benang. Sementara Gara hanya tersenyum melihat Dina yang malu terhadapnya. Garaw saat itu mengelua rambutw Dina lalu menyampaikan sesuatu.
"Jangan diulangi lagi ya? abang tidak mau lagi melihat aksi nekat darimu," ucap Gara
"Bisakah abang tunggalkan aku sendiri?" tanya Dina
"Mengapa kamu usir abang?" tanya balik Gara
"Aku hanya butuh waktu sendiri," jawab Dina
"Tidak mau, abang ingin jaga kamu, kamu butuh sesuatu katakan saja," ucap Gara
Tak lama kemudian ponsel Gara saat itu berdering. Gara langsung mengecek ponselnya dan ternyata lagi lagi nomer tak dikenal itu mengirimi pesan lagi.
📩 "Sore ini aku tunggu kamu di restoran ABC, kalau kamu tidak datang aku akan pergi ke rumahmu," peaan nomer itu
Gara menahan kesal melihat pesan nomer tak dikenal mengancamnya. Gara tidak tahu siapa orang yang selalu mengiriminya pesan mengajaknya bertemu. Sementara Dina yang melihat raut wajah Gara nampak kesal hanya diam saja. Dina Ingin sekali bertanya pada Gara tapi rasanya masih canggung.
"Orang tak dikenal itu lagi lagi mengajak abanh bertemu, jika abang tidak menemuinya orang tak dikenal itu ke rumah abang," ucap Gara
"Terserah abang saja, sebaiknya abang temui," jawab Dina
"Mana mungkin aku mau menemui orang misterius seperti ini, biar saja dia datang ke rumahku, aku hanya kabari bibiku di rumah saja," saut Gara
Gara kemudian memblokir nomer tak dikenal itu karena kesal selalu menghantuinya.
__ADS_1
+++++++++++++++
Sore hari, kaki Dina yang terkilir sudah sembuh karena pijatan Gara. Saat ini Gara dan Dina sedang bersiap memetik buah mangga di taman rumah. Kebetulan buah mangga di taman sudah memasuki musim berbuah lebat.
"Din, buahnya lebat. sepertinya enak kalau yang muda dibikin sambel mangga," ucap Gara
"Iya benar, waktu mama dan papa masih ada dulu selalu buat manisan dan asinan mangga," jawab Dina
"Kamu bisa buat?" tanya Gara
"Aku belum pernah buat," jawab Dina
"Ya sudah, nanti kita coba buat asinan dan manisan mangga," saut Gara
"Aku akan telepon Pak Hary sebentar untuk petikan mangganya," jawab Dina
"Tidak usah, abang bisa panjat pohon. kamu menepilah di kursi sana biar nggak kejatuhan mangga," saut Gara
"Dina...buah mangganya yang jatuh kamu ambilin," ucap Gara
"Iya, aku akan kumpulkan buahnya, abang hati hati diatas," jawab Dina
Dari atas pohon, Gara merasa senang diperhatikan Dina. Hanya sekedar kata hati hati saja sudah membuat hati Gara berbunga bunga.
15 menit kemudian, Gara turun dari pohon karena merasa sudah cukup memetik buah mangga. Setelah turun dari pohon, Gara merasa ada semut granggang yang mengigitnya. Gara tidak betah dengan rasa gatal akibat gigitan semut. Tanpa berpikir panjang, Gara refleks melepaskan kaosnya lalu meminta tolong Dina.
"Din, badan abang digigit semut, tolong garukan punggung abang Din," ucap Gara
Dina yang berada didekat Gara saat it refleks membantu menggarukan punggung Gara. Dinamelihat banyak bentol di punggung Gara akibat gigitan semut. Tanpa berpikir panjang, Dina menyuruh Gara menunggunya mengambil minyak.
__ADS_1
"Aku ambil minyak kayu putih sebentar," ucap Dina khawatir.
Dina kemudian berlari masuk kedalaman rumah mengambil minyak kayu putih. Sementara Gara yang terduduk di dekat pohon mangga menyadari sesuatu yang tidak dirinya duga. Gara menyadari jika Dina tidak takut dirinya bertelanjang dada. Gara memang apes digeruduk semut saat memanjat pohon. Namun dibalik apes yang dialami, Gara bersyukur Dina tak takut melihatnya telanjang dada.
"Kalau dengan cara seperti ini aku bisa menghilangkan traumamu, aku rela menahan gatal perih yang aku rasakan ini, nggak masalah tubuhku gatal kesakitan asal kamu bisa mulai terbiasa dengan ini" batin Gara
5 menit kemudian, Dina datang membawa minyak kayu putih kemudian mengoleskannya di tubuh Gara yang bentol. Tubuh Gara mulai dari punggung, dada, pinggang dan perut semuanya kena olesan dari Dina. Gara terus menatap Dina yang fokus mengolesi tubuhnya. Setelah Dina selesai mengolesi tubuh Gara, Gara langsung mencium Dina dan mengucap terima kasih.
"Cup" (Gara mencium pipi Dina)
"Terima kasih, kamu sudah perhatian sama abang," ucap Gara
Dina saat itu terkejut menyadari dirinya saat ini tidak takut melihat Gara telanjang dada. Sementara Gara yang melihat Dina terus bengong langsung mengajak Dina berciuman bibir.
"Buka mulutmu, nikmati sensasinya, lidah abang mau masuk mulutmu," ucap Gara lirih
Dina saat itu menurut saja seperti terhipnotis dengan perlakuan Gara. Gara memperlakukan Dina dengan lembut dan penuh cinta. Setelah puas mencium Dina, Gara mengatakan sesuatu pada Dina.
"Abang tidak akan membiarkan hidupmu menjadi hampa. sekuat apapun kamu mau lepas dari abang, abang akan terus mengenggamu," ucap Gara lirih
Gara kemudian menuntun Dina bangkit dari duduknya lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Sekarang kamu bawa mangganya ke dapur ya, abang tak tahan dengan rasa gatal ini. abang mau mandi," jawab Gara
Gara kemudian pergi meninggalkan Dina di taman, Sementara Dina di taman memegang bibirnya yang habis dicium Gara
"Ada apa denganku? semakin kesini aku mulai terbiasa. aku tidak tahu apa yang terjadi. mengapa aku tak takut melihat Bang Gara telanjang dada? aku bahkan menerima semua perlakuanya? apakah aku sudah ada rasa dengan Bang Gara?" batin Dina
Sementara di dalam kamar mandi, alasan Gara tak tahan dengan gatal di tubuhhya bukan alasan yang utama. Alasan utama Gara adalah hasratnya yang bergejolak akibat ciuman tadi. Selain mandi, di dalam kamar mandi Gara melakukan ritualnya bermain solo melakukan pelepasan dengan membayangkan tubuh polos Dina.
__ADS_1
"Aaargghh..." erang Gara saat pelepasan.