MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 86 - SALING INTROPEKSI


__ADS_3

Gara dan Dina kamudian berpelukan dan tidur bersama. Namun, Dina saat itu tidak bisa tidur karena bayangan Fabian mencium pipinya terus membekas di pikiranya. Walaupun Fabian hanya sekedar mencium pipi, tapi tetap saja Dina merasa dirinya kotor.


"Andaikan aku tak datang ke pesta ini, pasti semua ini tidak terjadi. Bang Gara sudah melarangku tapi aku tetap nekat menghadirinya. aku tidak menyangka Vera yang aku kira jadi pelindungku saat aku tersakiti kedepanya malah hari ini menjebaku. dan suamiku sendiri, orang yang aku duga selingkuh dariku, justru saat ini menyelamatkan diriku," batin Dina


Rasa penyesalan menyelimuti perasaan Dina malam ini. Isak tangis yang tak kuasa Dina tahan membuat Gara yang tidur disampingnya terbangun.


"Dina, ada apa? mengapa menangis?" tanya Gara


Dina hanya menangis dan tak berani menatap Gara


"Dina, tatap abang. abang mau bicara sama kamu," ucap Gara


Gara yang melihat Dina tak segera menatapnya langsung membalikan tubuh Dina agar menghadap ke wajahnya


"Ada apa? kamu teringat ciuman pria itu? mana bagian tubuhmu yang dicium, biar abang hilangkan bekasnya" tanya Gara


Gara kemudian menciumi pipi Dina hingga pipi Dina basah terkena saliva Gara. Setelah menciumi Dina, Gara saat itu terus memberi penguatan pada Dina agar tidak terus kepikiran.


"Kamu hanya korban sayang, jangan merasa kotor seperti ini. kamu nggak kotor. kamu masih bersih dan suci bagi abang. hanya abang pria yang menjamahmu sampai kamu hamil seperti sekarang ini," ucap Gara


Gara kemudian mengeratkan pelukanya agar Dina merasakan kehangatan dan ketenangan.


"Kamu hanya sebatas korban saja merasa kotor. bagaimana dengan masa lalu abang? abang bahkan sudah duluan menjamah wanita lain sebelum menjamah dirimu. kamu tahu awal abang bertemu kembali denganmu saat menjadi satpam? abang dulu takut walau abang ingin mendekatimu. abang selalu saja dihantui pikiran apakah abang pantas untukmu?" tanya Gara


Dina hanya terdiam dan isak tangisnya mulai mereda


"Kamu dulu tidak menerima pernikahan ini dan membuat kesepakatan konyol itu. tapi abang tetap kukuh ingin mempertahankan pernikahan ini walau abang sendiri ragu apakah abang pantas menjadi suamimu. namun pada akhirnya abang menatap kedepan dan memilih tetap mempertahankan rumah tangga ini karena apa? karena abang cinta sama kamu. abang ingin membahagiakanmu," ucap Gara


"Mengapa abang nggak marah padaku? abang sebenarnya marah kan?" tanya Dina


"Marah? iya abang marah. abang marah seharian ini karena abang kamu acuhkan. tapi abang punya cara untuk marah padamu. abang tidak mau marahnya sampai bentak bentak apalagi sampai melakukan kekerasan. marah yang seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah. yang ada hubungan kita saling renggang karena kita merasa sempurna," jawab Gara

__ADS_1


"Kalau abang marah, marah saja. abang marahi saja aku, aku nggak apa apa dan aku tidak akan membalas. aku janji tidak akan merasa sempurna. aku tidak berhak merasa lebih baik dari abang. keluarkan saja luapan emosi abang padaku, aku memang salah," saut Dina


Dina kemudian meraih tangan Gara lalu menempelkan ke pipinya.


"Tampar aku bang, aku tahu abang sangat marah padaku. pipiku habis dicium oleh lelaki yang bukan muhrimku. aku ikhlas, aku tidak akan menganggap tamparan abang itu KDRT. ini kesalahanku karena aku tidak nurut sama abang," ucap Dina


Gara kemudian menaikan tangannya ancang ancang mau menampar Dina. Sementara Dina hanya bisa tutup mata menjelang mendapat tamparan dari Gara.


"Aku harus menerima ini, aku harus ikhlas menerima tamparan yang akan dilayangkan Bang Gara. ini sudah hukumanmu telah membantah perintah Bang Gara. aku tidak boleh egois, aku harus kuat. bahkan sekalipun aku di talak, aku akan menerimanya," batin Dina


Dina saat itu menantikan pendaratan tamparan dari Gara. Namun ketika tangan Gara mendarat bukan tamparan yang menyentuh kulit pipi Dina. Melainkan elusan lembut pipi Dina yang terasa hangat dan nyaman


"Bang..." ucap Dina


"Abang sudah menamparmu kan? itu tamparan abang untukmu. sekarang jangan menangis lagi. abang nggak ingin lihat kamu menangis. lupakan pria brengsek itu," jawab Gara


"Abang hanya mengelus pipiku? mengapa tidak abang tampar saja," saut Dina


"Apa abang harus menghakimimu karena kamu korban pelecehan pria brengsek itu? rasanya abang terlalu munafik jika menghakimimu karena hal itu. kalau abang menghakimimu, berarti abang juga berhak dong, kamu hakimi juga. abang rasa saling memahami dan instropeksi adalah kunci menyadarkan kesalahan dalam diri kita," jawab Gara


"Kamu saja mau bersedia menerima abang sebagai suamimu walaupun masa lalu abang sangat suram. wanita lain saja belum tentu mau menerima masa lalu suram abang yang suram. masa kamu yang hanya kena musibah jadi korban pelevehan abang tidak bisa menerkmamu? tentu munafik jika abang hanya meluapkan emosi dihadapanmu," jawab Gara


"Tapi abang sekarang orang mapan. jelas banyak wanita yang antri mau sama abang. apalagi abang itu tampan dan gagah pernah terjun di dunia modeling," saut Dina


"Wanita yang seperti itu banyak yang hanya mau harta abang, wanita yang seperti itu tidak akan pernah mencintai abang. abang akan di tinggal pas miskin. namanya hidup kita nggak tahu kan? dulu kamu pernah diatas lalu dibawah. abang pun sama," jawab Gara


Dina hanya terdiam karena perkataan Gara banyak benarnya


"Baiklah, ayo kita tidur," ucap Gara


Gara kemudian memiringkan tubuhnya dan hendak memeluk Dina sebagai guling. Namun Dina merasakan ada sesuatu yang menusuk menyentuh perut bagian bawahnya.

__ADS_1


"Bang, apakah abang sedang on?" tanya Dina


"Maksudmu?" tanya balik Gara


Dina menyenggolkan perutnya mengenai pedang Gara


"Biarin saja, tadi kan udah keluar. nanti juga lemas sendiri di tinggal tidur," jawab Gara


"Abang nggak pusing? bukannya abang pernah bilang jika pedang abang pas kaya gini kudu dikeluarkan isinya," tanya Dina


"Jangan banyak bicara Din, kita tidur saja. abang sudah lelah," jawab Gara


Dina saat itu tahu Gara menahan gejolak hasratnya karena memikirkan kehamilanya. Tanpa berpikir panjang, Dina saat itu menenggalamkan wajah di dalam selimut.


"Kamu mau kemana Din, abang ngantuk," ucap Gara


Tak lama kemudian, Gara merasakan pedangnya seperti tersedot dan basah. Gara tentu merasa terkejut dan mengendut.


"Aaaaahh....apa yang kamu lakukan Din, aaah..." ucap Gara


Dina saat terus melakukan aktivitasnya di dalam selimut. Aktivitas Dina saat itu tak terduga dalam pikiran Gara. Gara tidak menyangka Dina nekat dan berani melakukan hal yang liar. Gara tidak bisa me mencegah karana merasa sangat menikmati aktivitas Dina terhadap pedang saktinya.


"Dina...aaaahh..." ucap Gara


Dina masih terus melanjutkan kegiatanya. Tak butuh waktu lama, lahar putih dari pedang Gara langsung keluar banyak dan meluber mengotori kasur hotel.


"Aaaaah...." desah Gara


Setelah puas, Gara membuka selimutnya melihat keadaan Dina yang terkena cipratan lahar putihnya.


"Kamu jadi kena kan? sudah ya, abang nggak tega lihat kamu memuaskan abang dengan cara seperti ini," ucap Gara

__ADS_1


Gara kamudian mengajak Dina pergi membersihkan diri di kamar mandi.


10 menit kemudian, Gara dan Dina sudah membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Dina dan Gara tertidur lelap.


__ADS_2