
1 jam kemudian, Gara sudah berada di kantornya sedang meeting bersama divisinya. Namun dalam proses berjalanya meeting, Gara sangat tidak fokus dengan acara meeting yang berjalan. Momen kebersamaan Dina dan Luqman masih terngiang dikepalanya
"Mengapa aku terus membayangkan momen itu? apakah aku berhak marah? kalau aku marah pasti Dina menyangka aku berlebihan. aku sungguh tidak tenang dengan semua ini, bagaimana jika tiba tiba Dina berpaling dariku?" batin Gara
Semakin Gara memikirkanya, Gara semakin tidak fokus dengan proses meeting yang berjalan.
Ketidakfokusanya mengikuti meeting membuat Gara ditegur Pak Tito yang merupakan sekretaris dari Pak Umar.
"Gara, apakah kamu bisa lebih fokus mengikuti meeting? saya lelah jika mengulang penjelasan saya dari awal tentang strategi pemasaran di kantor ini," ucap Pak Tito
"Maaf Pak, saya akan lebih fokus lagi," jawab Gara
"Saya tidak segan segan akan keluarkan kamu dari meeting ini jika kamu tidak fokus, walaupun kamu anak dari CEO perusahaan ini, saya mohon jangan semena mena," saut Pak Tito.
"Baik Pak," jawab Gara
Gara saat itu kembali fokus mengikuti meeting hingga selesai. Setelah meeting, Gara saat itu memijat keningnya yang terasa pening karena memikirkan kebersamaan Dina dan Luqman di kantin. Namun saat Gara sedang pening, tiba tiba ada teman Gara yang bernama Lukman menawarkan kopi
"Gar, kamu mau kopi? aku buatkan sekalian untukmu jika mau?" tawar Lukman
Gara yang masih betah dengan lamunanya awalnya mengacuhkan tawaran Lukman. Tetapi saat ada temanya yang lain menanggil nama Lukman, tiba tiba Gara menjadi uring uringan.
"Bisakah kamu tidak menggangguku? mengapa kamu membuat hidupku tidak tenang? bisakah kamu pergi dari kehidupanku?" tanya Gara marah
Semua orang dikantor kebingungan.
"Gara, aku hanya menawarimu kopi, apakah itu menganggumu? aku salah apa denganmu saat ini?" tanya Lukman
__ADS_1
"Kamu senang kan aku seperti orang bodoh seperti ini? semua ini gara gara kamu" saut Gara
Lukman saat itu tahu kalau Gara sedang ada masalah. Tanpa berpikir panjang, Lukman mengajak Gara ke mushola untuk bicara.
"Sebaiknya kita ke mushola dulu, ayo ambil wudhu, biar kamu merasa segar," bujuk Lukman
Gara saat itu hanya pasrah diajak Lukman di mushola kantor. Sesampainya di mushola, Gara saat itu mengambil wudhu untuk menyegarkan wajahnya. Setelah wudhu, Gara mendekati Lukman lalu membicarakan sesuatu.
"Sorry Lukman, aku hari ini sedang banyak pikiran," saut Gara
"Apa tentang cewekmu itu?" tanya Lukman
Gara mengangguk
"Ada apa dengan cewekmu itu? kalian bertengkar?" tanya Lukman
"Lalu? kalian putus?" tanya Lukman
"Luk, aku mau jujur sama kamu tapi kamu jangan sebar ya?" tanya Gara
"Katakan saja," jawab Lukman
"Kuk, ceweku namanya Dina. Aku dan Dina sudah hampir sebulan ini menikah, aku sekarang takut jika Dina meninggalkanku," saut Gara
"Hah serius? kamu nikah dengan cewek yang dulu pernah kamu sakiti itu? bagaimana bisa?" tanya Lukman
Gara kemudian menceritakan kronologi dirinya bisa menikah dengan Dina. Gara juga menceritakan kenyamananya selama bersama Dina
__ADS_1
"Gila...hebat bener cewekmu itu masih mau sama kamu," ucap Lukman
"Luk, wajar nggak kalau aku marah jika Dina berbincang dengan cowok lain, apalagi Dina tersenyum dengan dengan cowok itu, aku ingin marahm, aku benar benar nggak bisa terima Dina sedekat itu dengan pria lain, pria itu punya anak, anaknya tadi deket dengan Dina, aku merasa sakit melihat mereka pas bersama tadi kaya keluarga bahagia," jawab Gara
"Dina nemuin cowok yang kamu maksud itu diam diam atau bagaimana?" tanya Lukman
"Cowok itu bersama anaknya ngekos di kos, Dina tidak diam diam menemuinya, mereka tak sengaja bertemu hanya sebatas interaksi penjual dan pembeli, tapi aku marah melihat Dina berinteraksi dengan cowok itu, aku takut Dina berpaling dariku, dan sialnya cowok itu namanya Luqman, mirip denganmu namanya," jawab Gara
"Hahaha...jadi karena namaku dan cowok itu sama sama Lukman kamu ngamuk kaya tadi?" tanya Lukman tertawa
"Tolonglah jangan tertawa, kepalaku pening sekali," jawab Gara
"Baik baik, dari ceritamu menurutku Dina bukan cewek yang mudah berpaling. Dina itu tipikal cewek yang setia jika bersama pasangan. tidak mungkin Dina bermain di belakangmu, justru sebaliknya bisa bisa kamu yang berpaling dari Dina. mengingat kamu sudah kaya, kehidupanmu terjamin, akan banyak wanita yang mendekatimu," saut Lukman
Gara menatap tajam Lukman karena mencurigainya berpaling dari Dina.
"Loh benar kan bisa saja malah kamu yang berpaling? kamu kan pernah minta bantuanku carikan psikiater. kamu bilang Dina memiliki trauma gara gara hampir dilecehkan. sekarang jika aku tebak, kamu belum melakukan malam pertama dengan Dina kan? kamu kuat gitu bertahan terus lalu di sisi lain banyak wanita cantik yang menggoda imanmu?" tanya Lukman
"Aku sudah komitmen ingin hidup selamanya dengan Dina. aku tidak akan mengkhianatinya lagi. aku mencintainya, apapun yang terjadi pada Dina, aku akan selalu ada untuknya," jawab Gara
"Mungkin saat ini ujianmu. seberapa besar cintamu terhadap Dina. dengan rasa sakit hatimu saat ini kamu bisa merasakan apa yang Dina rasakan dulu saat kamu selingkuh. Dina yang masih basa basi sama cowok lain saja kamu sudah seperti ini, bagaimana kalau Dina selingkuh sepertimu?" tanya Lukman
"Aku nggak bisa, aku tidak bisa kehilangan istriku. aku akan buat dia tidak bisa berpisah denganku,"jawab Gara
"Apa kamu ingin menghamilinya?" tanya Lukman
"Pelan pelan aku akan membuatnya mau berhubungan denganku, hanya ini satu satunya cara aku bisa terikat dengan istriku," jawab Gara
__ADS_1