
Esok hari, keadaan Dina sudah membaik dan bisa beraktifitas seperti biasa. Niat awal hendak pergi ke dokter tidak jadi. Sehingga Gara memutuskan ingin mengajak Dina melihat kos cabang yang baru selesai di bangun.
Tapi Gara sengaja tidak bilang pada Dina kalau hendak ke kos Ragina cabang. Gara hanya mengatakan pada Dina akan mengajak pergi ke suatu tempat. Dina saat itu menduga Gara akan mengajaknya ke kafe atau taman. Namun ketika arah mobil menyusuri jalan arah kos membuat Dina bertanya tanya.
"Kita mau ke kos?" tanya Dina
"Kamu maunya kemana?" saut Gara
"Terserah abang saja," jawab Dina
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan Gara melewati Kos Ragina. Dina yang melihat Gara tak membawanya ke Kos Raginya semakin bingung dengan tujuan Gara mengajaknya pergi.
"Bang, ini kos Raginya sudah lewat, abang mau bawa aku pergi kemana?" tanya Dina
"Lihat saja, nanti kamu akan tahu," jawab Gara
Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Gara sampai di sebuah los kosan. Dina tidak tahu kos siapa yang dikunjungi Gara. Tapi Dina melihat ada sebuah papan nama yang tertutup kain.
"Bang, kita dimana?" tanya Dina
"Kita masuk dulu di ruang kantornya," jawab Gara
"Ini kos selingkuhan abang?" tanya Dina spontan
"Huss...jangan ngawur," saut Gara kesal
"Kok abang kesal gitu?" tanya Dina
"Kamu jangan tuduh abang sembarangan, kamu pikir abang pria apaan? abang nggak niat sama sekali selingkuhin kamu. cukup pengalaman pahit di masa lalu abang jalani," jawab Gara
Setelah masuk ke dalam ruangan, Dina saat itu di sambut dengan para mahasiswa perempuan yang menyediakan tumpeng untuk Dina.
"Selamat Ulang Tahun...Bu Dina..." ucap mahasiswa perempuan
Dina masih terdiam dan bingung dengan situasi yang ada.
"Maksudnya apa ini? mengapa abang ajak aku ke kos ini? mengapa para mahasiswa perempuan ini ucapkan selamat ulang tahun padaku?" batin Dina
__ADS_1
Gara yang saat itu paham dengan keterkejutan Dina. Tanpa pikir panjang Gara langsung menuntun Dina berjalan menuju papan nama yang di tutupi kain. Para mahasiswa yang menyambut Dina jugai ikiy mengarak Gara yang menuntun Dina.
Sesampainya di dekat papan nama, Gara langsung membuka kainya dan mengatakan sesuatu.
"Ini untukmu," ucap Gara
Dina saat itu terkejut melihat papan nama bertuliskan Kos Ragina 2. Dina merasa tak pernah keluarganya mendirikan kos Ragina 2. Tapi saat ini, Dina bingung ada nama Kos yang sama persis dengan kos yang didirikan keluarganya.
"Mengapa namanya Ragina? apa maksud semua ini? aku merasa tak pernah mendirikan kos cabang. apakah ada yang meniru nama Kos yang didirikan keluargaku?" tanya Dina
"Dina, kos Ragina 2 ini memang abang yang bernisiatif membangunnya. hal ini dikarenakan banyak mahasiswa perempuan yang ingin mencari kos. buktinya lihatlah mahasiswa yang menyambutmu ini, mereka semua penghuni kos Ragina 2. jadi abang tidak ada salahnya Kos Ragina memiliki cabang," jawab Gara
"Selamat datang ibu Dina..." ucap para mahasiswi
"Iya terima kasih semuanya. maaf, saya tadi hanya terkejut. saya ucapkan selamat datang juga untuk kalian semua. semoga kalian nyaman disini," jawab Dina
"Terima kasih kalian sudah mau berpartisipasi menyambut kedatangan saya dan istri. untuk tumpengnya kalian makan ramai ramai saja. sekarang kalian bisa kembali ke ruang kalian masing masing," saut Gara
"Baik Pak," jawab para mahasiswi lalu pergi
"Dina, mulai besok atau kapan pun. abang ingin kamu berjualan disini saja. urusan kantin di Kos Ragina pusat, biar Bik Sri dan yang lain yang urus. abang lebih tenang jika kamu berjualan disini," ucap Gara
"Mengapa abang memakai nama Ragina? ini yang mendirikan abang. seharusnya nama abang saja. apakah dengan ini abang sengaja biar aku ketergantungan sama abang?" tanya Dina
"Kamu pikir kedepanya abang akan bermain wanita di belakangmu? lalu semua yang abang berikan ini kamu berpikir akan menjadi jurus abang supaya kamu tidak bisa pisah sama abang? abang nggak ada niat seburuk itu Dina," jawab Gara
"Kalau misalkan takdir memisahkan kita, apa abang akan membuangku? karena kita tidak tahu takdir kita kedepanya," saut Dina
"Seandainya takdir kita terpisah, abang hanya ingin wanita yang abang cintai hidup bahagia dan tidak menderita. abang lebih rela menjadi gelandangan yang penting kamu bisa makan," jawab Gara
Dina hanya cuek dan tidak menatap Gara
"Ini hadiah di hari ulang tahunmu. selama abang sah menjadi suamimu, abang akan terus perjuangankan agar rumah yang kita aman. abang memberimu hadiah ini karena abang mencintaimu. abang tahu kamu masih marah sama abang karena aroma parfum itu di jas abang, makanya setelah ini abang ajak kamu ke kantor," Jawab Gara
"Untuk ketemuan dengan wanita pemilik parfum itu? terus saat aku ketemu dengan wanita pemilik parfum itu, wanita itu bilang kalau dirinya dan abang tak ada hubungan apa apa. setelah itu clear aku percaya. itu maunya abang?" tanya Dina
Gara hanya menggelengkan kepalanya karena Dina semakin ngawur bicara.
__ADS_1
"Kok abang geleng geleng? apa benar itu keinginan abang? abang sedang susun strategi biar aku luluh? biar aku lupa? abang takut terciduk?" tanya Dina
"Ya Allah...." keluh Gara sembari mengusap wajahnya
"Gimana Bang? abang mau buktikan sekarang?" saut Dina
"Astaga...mengapa Dina jadi cewek sewot dan sok tahu gini ya? kejutan yang aku pikir jadinya romantis malah bikin mancing emosi. dikasih hadiah bukanya terharu terima kasih ke suaminya, ini malah suaminya di sangka ini itu. ya tuhan...berikan aku kesabaran. jangan sampai aku emosi. aku harus mengerti dia. dia mungkin efek datang bulan jadi bawaanya marah marah mulu," batin Gara
"Baiklah, ayo kita ke kantor, abang akan tunjukkan semuanya," saut Gara
Dina saat itu berjalan menuju mobil terlebih dahulu.Namun baru beberapa langkah berjalan, langkah Dina terhenti karena kepalanya pusing. Gara yang melihat Dina memegangi kepalanya langsung merangkulnya.
"Kepalamu pusing?" tanya Gara
"Udah tahu malah nanya," jawab Dina
"Nah kan? bisanya aja sok kuat, merasa dirinya nggak apa apa. ini malah merengek gini," batin Gara
"Bang, kepalaku pusing," rengek Dina
"Iya iya, abang tuntun kamu jalan ke mobil," jawab Gara
"Kok pusingnya nggak hilang sih..." rengek Dina
"Iya sayang sabar, kita akan ke rumah sakit," jawab Gara
"Ah nggak, aku nggak mau ke rumah sakit," saut Dina
Gara hanya acuh dan tetap fokus berjalan menuntun Dina. Namun ketika sampai di depan mobil, Gara tiba tiba merasakan tubuh Dina tak ada pergerakan dan tidak ada bertenaga. Gara refleks panik saat melihat mata Dina terpejam dan menandakan pingsan.
"Din...Din..bangun Din.." ucap Gara panik
Tak ada respons dari Dina.
Tanpa berpikir panjang, Gara langsung dengan cepat mengantar Dina ke rumah sakit.
.
__ADS_1