
Esok hari jam sudah menujukan pukul 04.00 pagi. Dina saat itu terbangun karena bunyi alarm di ponselnya . Namun ketika terbangun, Dina terkejut melihat Gara hanya memakai kaos kutang memeluknya. Dina merasa takut tapi juga merasa nyaman.
"Apa yang terjadi denganku? mengapa perasaanku campur aduk begini," batin Dina
Dina yang bingung dengan apa yang dialaminya memilih segera bangun dari ranjangnya. Tapi baru saja hendak bangun, Gara langsung mencegahnya.
"Dina, kok bangun? ini masih jam 4 belum shubuh," ucap Gara
"Aku mau ke dapur Bang, aku mau buat nasi kuning. bumbu bumbunya harus segera aku siapkan," jawab Dina
"Abang bantu ya?" tawar Gara
"Tidak perlu, abang lanjut tidur saja," saut Dina
"Kamu dulu pernah bilang sama abang kalau nasi kuning kurang laku di kantin, tumben saja kamu buat?" tanya Gara
"Mencoba peruntungan Bang, aku bosan kalau tidak ganti menu," jawab Dina
Dalam hati Dina sebenarnya ingin membuat nasi kuning karena anak dari peneghuni baru kosnya
"Abang boleh minta sesuatu nggak?" tanya Gara
"Abang minta apa?" saut Dina
"Pria itu berarti apa akan sering bertemu denganmu?" tanya Gara
"Maksudnya bertemu Mas Luqman? ya wajar lah Bang, aku ketemu Mas Luqman pas jualan di kantin," jawab Dina
"Pria itu sudah menikah?" tanya Gara
"Sudah bercerai Bang, Mas Luqman sekarang ngekos sama anaknya yang masih TK. kebetulan jarak TK anaknya dekat dengan Kos Ragina, jadi Mas Luqman katanya bisa lebih mudah antar jemput anaknya," jawab Dina
"Pria itu apa nggak ada kendaraan?" tanya Gara
"Aku ketemu di parkiran awal awal nggak jumpa Mas Luqman bawa kendaraan. kalau misalkan iya gak bawa kendaraan mungkin Mas Luqman akan minta tolong sama Adit," jawab Dina
"Sejak kapan pria itu jadi duda?" tanya Gara
"Abang kepo banget sih? aku nggak tanya Mas Luqman sedetail itu Bang, atau abang pingin kenalan dengan Mas Luqman?" jawab Dina
__ADS_1
"Boleh, nanti sore pulang kerja aku jemput kamu. nanti berangkat ke kos aku antar. aku ingin lihat pria itu saja," saut Gara
"Setampan apa pria itu? Sekekar apa pria itu? aku jadi penasaran," batin Gara
+++++++++++++++
Beberapa jam kemudian, mobil yang dikemudikan Gara saat itu sudah sampai di depan pagar kos.
"Aku masuk dulu ya Bang, abang hati hati di jalan," ucap Dina
Gara saat itu malah memasukan mobilnya ke dalam wilayah kos. Tanpa berpikir panjang, Dina saat menanyakan maksud Gara masuk kedalaman kos.
"Bang, apa apaan ini? mengapa abang bawa mobilnya masuk kedalam? apa kata semua orang?" tanya Dina
"Abang masih lapar, mau makan lagi sekalian disini," jawab Gara
"Abang serius mau makan lagi, tadi abang sudah sarapan loh, baru 1 jam perjalanan masa lapar lagi?" tanya Dina
"Perut abang kan perut kuli, abang makanya banyak," jawab Gara
"Tapi tidak begini caranya Bang, semua orang tidak tahu kalau kita sudah menikah. tahu gini tadi aku bawakan bekal aja untuk abang,," saut Dina
Mau tidak mau Dina terpaksa menuruti perintah Gara. Sesampainya di kantin kos, Dina mulai menyiapkan kebutuhanya jualanya sebelum digeruduk sama mahasiswa. Setelah semuanya siap, Dina menanyakan pesanan Gara
"Bang, mau makan apa?" tanya Dina
"Nasi campur saja," jawab Gara
"Terus minumnya?" tanya Dina
"Teh hangat saja," jawab Gara
"Baik, di tunggu ya," saut Dina
5 menit kemudian, Dina membawakan nasi campur dan teh hangat di meja Gara.
"Bang, ini makananya," ucap Dina
Dina kemudian kembali ke tempatnya lalu melayani para mahasiswa kos yang ramai ingin beli makananya. Namun disela sela melayani mahasiswa kos, Dina dikejutkan dengan Luqman yang menghampirinya.
__ADS_1
"Mbak, hari ini makanannya jual apa aja?" tanya Luqman
"Nasi Pecel, Nasi Campur, Nasi Tahu, dan hari ini ada Nasi kuning," jawab Dina
"Saya pesan 2 nasi kuning Mbak, minumnya es teh," saut Luqman
"Baik Mas, di tunggu di meja yang kosong nanti saya antarkan," jawab Dina
"Perlu saya bantu Mbak, sepertinya Mbak kewalahan," ucap Luqman
"Tidak usah Mas, ramai seperti ini sudah biasa, Mas dan Icha tunggu saja di tempat kosong," jawab Dina
"Ayah, Icha mau ini..." saut Icha tiba tiba
Icha saat itu mengambil satu tusuk pentol bakar berukuran sedang. Harga pentol bakar ukuran sedang itu seharga Rp 3.000 per tusuknya. Pentol bakar yang ada dikantin bukan buatan Dina, melainkan buatan orang yang menitipkan jajananya di kantin Dina.
Ekspresi Icha sangat lucu saat meminta 1 tusuk pentol bakar pada Luqman. Kelucuan Icha membuat Dina tersenyum dan menyatakan sesuatu.
"Icha boleh ambil satu lagi, tante kasih gratis 2 untuk Icha," ucap Dina tersenyum
"Ayah, icha dapat gratis dari tante," saut Icha antusias
"Maaf Mbak, saya akan tetap bayar seluruhnya," jawab Luqman
"Tidak apa apa Mas, saya suka lihat anak kecil mengemaskan kaya Icha. saya kasih gratis 2 tusuk. anggap saja ini sambutan perkenalan saya sama Icha," ucap Dina tersenyum
"Baik Mbak, terima kasih," saut Luqman
++++++++++++++
Sementara disisi lain, Gara yang memperhatikan interaksi Dina dan Luqman sangat kesal. Gara merasa tidak terima Dina didekati oleh pria lain. Apalagi melihat Dina tersenyum dihadapan pria lain. Gara sangat tidak menerima dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ada rasa ketakutan dalam hati Gara kehilangan Dina. Gara takut Dina berpaling darinya, karena Dina pasti tiap hari bertemu Luqman.
"Lumayan juga itu cowok, awas aja jika dia berani mendekati Dina lebih intens, aku bisa menghajarnya," batin Gara
Tak lama kemudian, Gara saat itu melihat adegan Icha menangis tidak ingin disuapi makan oleh Luqman. Awalnya Gara menganggap anak kecil rewel biasa. Namun yang membuat Gara terkejut, tiba tiba Dina datang untuk menenangkan Icha. Dan ajaibnya, Dina mampu menenangkan Icha yang menangis dengan kata kata nasihatnya.
Sosok keibuan Dina saat menenangkan Icha sangat terlihat. Banyak dari mahasiswa kok yang memperhatikan meja Luqman. Karena di pandang dari jauh, Luqman, Icha dan Dina nampak seperti keluarga bahagia. Gara yang melihatnya merasa ketakutanya kehilangan Dina semakin nyata
"Tidak tidak..ini tidak bisa dibiarkan, hanya aku yang bisa membahagiakan Dina. aku harus terus membuat Dina mencintaiku," batin Gara
__ADS_1