
"Baiklah, tapi abang boleh ya buat gool?" tanya Gara
"Maksudnya?" saut Dina
"Abang ingin lahar putih abang mengaliri rahimu. kelak ketika rahimu teraliri jika beruntung benih abang akan menjadi calon buah hati kita kelak," jawab Gara
"Abang mau aku hamil?" tanya Dina
"Iya, abang sangat mengharapkanya, abang ingin kita punya anak," jawab Gara
Degg
Dina saat itu terdiam karena bingung dengan apa yang dirasakan sekarang. Sebenarnya Dina belum yakin dengan Gara. Ada rasa takut kembali ditinggakan oleh Gara. Dina masih merasa Gara hanya mencintai paras dan fisiknya.
"Bagaimana kalau aku hamil? aku nggak mau anaku jadi korban, apalagi pernikahan ini sirih dan abang masih ada urusan dengan Mbak Selly," ucap Dina
"Mengapa kamu masih tak yakin dengan abang?" tanya Gara
"Terkadang yang terlihat baik baik saja itu bisa mengerikan Bang, abang lihat berita Lesti masuk rumah sakit? itu gara gara di cekik dan dibanting Bilar. padahal di depan publik Lesti Bilar romantis Bang," jawab Dina
"Terus kamu pikir abang kaya si Bilar yang selingkuh lalu KDRT istrinya?" tanya Gara
"Aku tidak menuduh abang, aku nggak tahu abang cinta sama aku ini dari segi apa, pasti abang nomer satu pandang paras dan fisiknya? kalau aku lahiran dan tidak cantik lagi, abang apakah berani jamin untuk tidak selingkuh? Dulu saja kita yang pacaran baik baik saja, kandas karena abang selingkuh," jawab Dina
"Din, abang sudah berjanji untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, abang tulus mencintaimu. Apa hal yang ada pada dirimu abang menyukainya, Dulu kita pacaran, tapi sekarang kita nikah, abang sudah mengucap akad," saut Gara
"Rasanya aku masih sulit menerima abang, dari kasus Lesti ini aku belajar harus berhati hati," jawab Dina
"Pembuktian apa yang kamu inginkan dari abang?" tanya Gara.
__ADS_1
Dina hanya terdiam
"Abang memang tidak bisa berjanji bahwa hubungan ini tidak akan ada masalah, setiap rumah tangga pasti akan ada terjangan lika liku masalah..tapi percayalah apapun yang terjadi asalkan saling percaya dan komitmen, abang bersamamu.," saut Gara
"Dulu abang juga selalu bilang percaya dan komitmen. tapi nyatanya abang bermain di belakangku karena aku terlalu percaya sama abang," jawab Dina
"Itu karena abang dulu belum begitu mengenalmu, abang masih anggap kamu bocil rusuh. kamu ingatkan dulu nyatain cinta dan nembak abang? abang dulu menerimamu karena abang pikir itu candaan," tanya Gara
"Iya, aku mengingatnya, aku dulu memanfaatkan kekayaanku untuk bisa mendekati laki laki yang aku sukai. kalau aku nggak bantu keluarga abang, abang pasti menjauhiku. jadi setelah aku pikir pikir, tak salah juga abang selingkuh dulu. abang pasti terkekang, ingin bebas tapi kekuasaanku dulu membuat abang bisa bertahan lebih lama.," jawab Dina
"Jangan membenarkan apa yang abang lalukan dulu di masa lalu, abang salah, abang menyesal melakukan itu, abang sudah mencintaimu tapi karena godaan itu membuat abang bodoh," saut Gara
"Andaikan waktu bisa diputar aku bisa memperbaiki penyesalanku," jawab Dina
"Kamu menyesal mengenal abang?" tanya Gara
"Lalu mengapa kamu menangis?" tanya Gara
Gara kemudian mendekatkan kursinya di dekat Dina kemudian merangkulnya
"Katakan, jangan dipendam. ceritakan sama abang." ucap Gara
"Penyesalan terdalamku bukan karena aku mengenal abang, atau laki laki lain yang pernah dekat denganku. sampai saat ini aku menyesal tidak bisa membuat kedua orangtuaku bahagia. semasa hidupnya, aku selalu menjadi beban, sibuk dengan duniaku yang suka foya foya. aku adalah aib di keluargaku. dibalik keluargaku yang dikenal baik banyak orang, tersimpan aib yang selama ini orangtuaku sembunyikan, dan aib itu aku" jawab Dina menangis
Gara saat itu langsung memeluk Dina. Sementara Dina masih terus menangisi penyesalanya
"Dina...percayalah sama abang, orangtuamu pasti bahagia melihatmu yang mandiri seperti ini, jangan menangis," ucap Gara
"Tidak mungkin Bang, aku selalu mengecewakan orangtuaku," jawab Dina
__ADS_1
"Dina, setiap orangtua itu ingin melihat hidup anaknya bahagia. abang dulu memang pernah mengecewakan keluargamu. dan saat ini tujuan hidup abang adalah membahagiakanmu. Abang ingin jadi suami yang baik, abang ingin bisa mengerti dirimu, abang menjadi pribadi yang peka, selalu ada untuk kamu, dan setia di sampingmu. abang tidak akan mempermainkan pernikahan ini, tidak akan pernah," jawab Gara.
Tak lama kemudian, Gara akhirnya menuntun Dina ke kamar lalu mengajaknya tidur.
"Ayo tidur," ucap Gara
"Bang, masalah anak tadi..." jawab Dina terpotong
"Abang mengantuk, besok saja abang bahas," saut Gara
++++++++++++++++
Tengah malam Dina saat itu terbangun dari tidurnya karena merasakan ada sesuatu yang menyedot gunung kembarnya serta terasa basah. Pandangan Dina saat itu tertuju pada Gara yang berada di dadanya. Gara saat itu tengah tertidur sembari menyedoti gunung kembarnya.
"Bang, tolong lepasin, aku kedinginan Bang," ucap Dina
"Maaf sayang, abang sangat nyaman," jawab Gara
"Ini geli bang, mengapa abang seperti ini? jangan bikin aku merinding Bang, ini malam malam," saut Dina
Gara kemudian beralih memajukan wajahnya supaya inisiatif Dina menciumnya. Gara ingin sekali mendapatkan ciuman dari Dina.
"Cium abang, dimana saja" ucap Gara
Gara saat itu menghembuskan nafasnya agar Dina terangsang dengan kehangatan nafasnya. Aroma maskulin pada Gara membuat Dina terus menatapnya. Awalnya Dina mengacuhkan pancingan Gara. Namun semakin lama mengacuhkan, Gara terlihat semakin bergairah. Sehingga akhirnya, Dina refleks mencium bibir Gara.
"Cup," (Dina cium Gara)
Gara sontak membuka mulutmya dan hal itu membuat hasrat Dina semakin tak terkontrol. Tanpa ragu, Dina mencium leher Gara hingga sampai muncul tanda kemerahan.
__ADS_1