
Malam hari, Fia sedang rewel karena demam. Dina yang saat itu hendak tidur terpaksa menunda tidurnya karena ingin melihat Fia. Namun sebelum Dina pergi ke kamar Fia, Dina terlebih dahulu meminta izin pada Gara.
"Bang, aku tinggal jenguk Fia ya? sepertinya suster kewalahan menenangkan Fia," ucap Dina
Gara yang baru saja memejamkan matanya langsung terbangun karena mendengar suara Dina.
"Anak itu kenapa?" tanya Gara malas
"Demam Bang, tadi sebelum makan malam aku sudah cek suhu tubuhnya panas 38 derajat celcius, mungkin Dia butuh aku, jadi aku akan ke kamarnya sekarang," jawab Dina
"Baiklah," saut Gara
"Seandainya aku ketiduran di kamar Fia, aku minta maaf ya bang jika tidak kembali ke kamar. kalau abang butuh aku karena nggak bisa tidur, abang bisa bangunkan aku nggak apa apa," jawab Dina
Dina kemudian pergi meninggalkan kamar menuju kamar Dina. Sementara di kamar, Gara yang tadinya sudah tertidur menjadi tidak bisa tidur. Bagi Gara, Dina sudah seperti magnet yang selalu dekat denganya.
"Kalau nggak ada Dina mana bisa aku tidur? harusnya dia tinggal saja tanpa bangunin aku," ucap Gara.
Tak lama kemudian, Gara mendengar suara tangisan Fia makin kencang. Suara tangisan Fia semakin membuat Gara risih dan tidak bisa tidur. Gara tak terbiasa mendengar bising anak balita, sehingga perlu penyesuaian Gara bisa beradaptasi dengan adanya balita di kehidupannya. Mungkin jika anak kandung sendiri, Gara bisa lebih cepat beradaptasi dan mudah mengerti.
"Duh, pusing juga kalau aku dengar suara tangisan anak itu terus, sebaiknya aku lihat Dina kesana aja," ucap Gara
Tanpa berpikir panjang, Gara saat itu berjalan menuju ke kamar Dina. Sesampainya di kamar Fia, Gara melihat Dina berusaha menenangkan Fia yang menangis. Gara awalnta kesal pada Fia yang membuat tidurnya terganggu. Tapi melihat ekspresi menyedihkan Fia yang nampak tak nyaman dengan kondisi tubuhnya membuat Gara sedikit ibah.
"Apa masih demam?" tanya Gara
Dina refleks menoleh saat mendengar suara Gara
"Eh, abang kok disini? ada yang bisa aku bantu?" tanya Dina
"Abang kasini karena tangisan anak itu kedengaran dari kamar," jawab Gara
"Maaf ya Bang, aku harap abang mengerti kondisi Fia saat ini. abang harus tidur karena besok kerja. sekarang abang mau tidur aku temani dulu atau gimana? atau abang mau aku pijat? atau aku buatkan susu biar ngantuk?" saut Dina
Gara saat itu hanya bisa terdiam melihat wajah Dina yang kusut berantakan. Dina nampak kusut berantahkan dikarenakan kepanikanya mengurus Fia. Tapi dibalik wajah berantahkan Dina mengurus Fia, Dina masih menyempatkan diri membuat Gara nyaman di rumah.
__ADS_1
"Disaat kamu panik seperti ini, kamu malah masih sempat sempatnya memikirkan diriku. mengapa semakin aku cuek sama anak itu, aku merasa pengecut gini ya, melihat wajah tulusmu dan anak sakit itu yang tak tahu apa apa jadi sedih juga." batin Gara
Sementara Dina berprinsip tidak ingin lagi Gara merasa terabaikan lagi. Jadi sebisa mungkin Dina bertekad tidak ingin membuat Gara marag padanya. Padahal jika melihat kondisi Dina saat ini, pasti sangat melelahkan karena faktor Dina masih berjalan menggunakan penyangga
"Bang, kok diam saja? ayo kita ke kamar, aku akan panggilkan suster sebentar untuk jaga Fia," ucap Dina
"Boleh abang gendong sebentar, mungkin anak itu butuh di ayun ayunan untuk tidur," jawab Gara
"Bang, jika abang nggak suka Fia, aku mohon abang jangan sakiti Fia ya bang? kalau abang mau sakiti Fia, sakiti aku aja, aku ikhlas," tanya Dina panik
"Mengapa kamu bicara begitu sama abang? kamu pikir abang mau gebukin anak itu?" saut Gara
Belum menjawab pertanyaan dari Gara, Dina memberi kabar tentang klarifikasi Luqman yang menyakiti Fia tadi
"Bang, tadi aku sudah chat Mas Luqman, Mas Luqman bilang katanya terkejut saat popok Fia bocor, jadi Mas Luqman refleks dan tak sengaja kening Fia memar kebentur lengan kursi. Tapi tetap saja, aku akan mengawasi jika Fia bersama Mas Luqman tadi," jawab Dina
"Dia memang biadab, tapi abang tidak sekejam itu Din, serahkan saja pada abang, abang akan mengajak anak ini keliling rumah bentar. kamu istirahatlah...wajah kamu terlihat letih," saut Gara
Gara kemudian mengambil alih Fia dalam gendonganya.
"Abang ajak anak ini keliling dulu, dia akan terus rewel seperti jika tidak di ajak jalan jalan" ucap Gara
"Mengapa ditemani? abang ingin pendekatan dengan anak ini," saut Gara
"Aku nggak tenang jika Fia belum tidur. aku khawatir dengan demamnya," jawab Dina
"Kamu ada kain gendong nggak? abang mau pakai itu, biar intensif bisa skin to skin dengan anak ini," saut Gara
"Ada, akan aku ambilkan," jawab Dina
"Tak perlu, katakan dimana biar aku yang ambil," jawab Gara
"Di lemari," saut Dina
Gara kemudian mengambil kain gendong di lemari. Setelah ambil kain gendongan, Gara membuka kancing piyamanya. Ketika kancing piyamanya terbuka, Dina bingung dengan apa yang dilakukan Gara
__ADS_1
"Bang, mengapa kancing piyamanya dibuka?" tanya Dina
"Cepat bantu abang ikatkan kain gendongan ini ke tubuh abang, semoga saja skin to skin cara abang berhasil," jawab Gara
"Baik Bang," saut Dina
Fia saat itu masih terus menangis di gendongan Gara. Tapi walaupun menangis, Fia tak memberontak saat digendong. Bahkan Fia juga tak mau lepas dari gendongan Gara.
"Cup...cup..cup..kita jalan yuk, kita lihat bintang yuk," ucap Gara
"Papa...Papa.." jawab Fia
"Fia, ini paman bukan papa." saut Dina
"Gak apa apa, biarkan saja. yang penting dia nggak rewel dulu," jawab Gara
+++++++++
20 menit kemudian, tak terasa Fia sudah tertidur. Gara yang menggendongnya saat itu nampak antusias menggendong Fia. Setelah Fia tertidur, Dina mdngutugr Gara merebahkan tubuh Fia di ranjang. dan meninggalkanya sejenak.
"Terima kasih bang, Fia sudah bobok nyenyak. abang turunkan saja Fia di ranjang, lalu abang bisa kembali ke kamar. aku akan kompres Fia dulu sebelum kembali ke kamar," ucap Dina.
"Abang tidur disini saja," jawab Gara
"Maksud abang kita bertiga tidur disini?" tanya Dina
"Iya, takutnya anak ini nanti cari abang," jawab Gara
"Maaf, abang kerepotan terus malam ini, padahal abang besok kerjaa," ucap Dina
"Nggak apa apa, daripada abang diam aja nanti rewel gak tidur kita," jawab Gara
Gara kemudian merebahkan tubuhnya disamping Fia. Namun baru saja Gara rebahan, Dina mulai mengatakan sesuatu.
"Bang, besok abang nggak usah khawatir. aku berjanji setelah ini aku akan membiasakan Fia panggil abang sebutan paman. kejadian Fia panggil abang papa tadi, aku harap nggak terulang lagi. karena pasti abang nggak nyaman," saut Dina
__ADS_1
"Nggak apa apa, biarkan saja anak ini masih balita. abang sama sekali nggak merasa terganggu," jawab Gara
"Baiklah, abang tidur dulu saja," saut Dina,