
4 hari kemudian, Dina dan Adit membujuk Gara agar menandatangani surat yang di tagih Ayunda. Sebenarnya Gara bersama Adit sudah merencanakan sesuatu agar Gara tidak menandatangani surat itu. Namun, rencana yang sudah dibuat terealisasinya terlalu mepet dengan deadline yang diberikan Handoko. Permintaan perpanjangan waktu dari Dina kepada Handoko melalui Ayunda juga berakhir nihil tidak dikabulkan
"Bang, gak apa apa. tanda tangan saja. kebenaran suatu saat nanti akan terungkap," ucap Dina
"Mas Gara pasti bisa bangkit. anggap saja abang mengalah sementara untuk mereka," saut Adit
Gara saat itu masih ragu ketika hendak menandatangi surat alih kuasa perusahaan. Ayunda sebagai kuasa hukum Handoko hanya diam tanpa bergerak menanti surat yang ditanda tangani Gara.
"Maaf, waktu bapak tidak banyak, mohon segera di tanda tangani suratnya," ucap Ayunda
"Saya ini bingung bu, banyak sekali pertanyaan di otak saya," jawab Gara
"Apa ada yang bapak ingin tanyakan terkait surat yang akan bapak tanda tangani? mungkin ada kesalahan ketik kata, kesalahan penulisan nama di surat, atau kalimat hukum yang tidak dipahami, dan lain lain," ucap Ayunda
"Bu Ayunda, seandainya saya menadatangan ini apakah saya masih bisa bekerja disana? karena sebelum saya menjadi CEO saya adalah karyawan di bagian divisi desain multimedia," tanya Gara
"Maaf, bukan kapasitas saya untuk menjawab. keputusan boleh atau tidak bapak bisa bekerja di perusahaan adalah keputusan pihak dari perusahaan yang terlibat," jawab Ayunda
"Kalau saya coba melamar lagi apakah diperbolehkan secara hukum?" tanya Gara
"Mohon maaf bapak, saya tidak akan menjawab pertanyaan yang bukan kapasitas saya menjawab. tolong bapak segera menandatangani surat yang ada saat ini," jawab Ayunda
Adit yang berada di lokasi sangat geram dengan Ayunda. Tanpa berpikir panjang, Adit langsung menyemprot Ayunda.
"Mas Gara, cewek modelan kaya dia memang resek Mas. percuma Mas Gara tanya apapun sama dia, dia nggak bakal mau jawab. cewek modelan kaya dia ini selalu sok formil ngakunya membantu padalan zonk," saut Adit
Gara hanya terdiam menahan tawa. Sementara Ayunda yang merasa di jelekan oleh Adit langsung menegurnya.
"Maaf, saya peringatkan jaga bicara anda. saya memang menjawab apa yang seharusnya saya jawab. dan saya tidak akan menjawab jika pertanyaan yang d sampaikan bukan kapasitas saya menjawabnya. anda hati hati dalam berikucap. karena anda bisa terkena pasal pencemaran nama baik jika saya bertindak," jawab Ayunda
"Kamu pikir saya takut? apa salahnya pertanyaan dari Mas Gara kepadamu? kamu tadi berkata bisa bertanya lain lain. wajar dong, orang bertanya apa hal kepadamu? jadi jangan sok bijak bilang tidak mau menjawab karena bukan kapasitasmu. kalau tidak tahu, santai aja bilang saya nggak tahu kan beres. sebelum menyalahkan orang, salahkan pertanyaanmu dulu kepada orang lain," saut Adit tegas
Ayunda hanya menggelengkan kepalanya karena baginya bendebat dengan Adit itu pasti tidak ada ujungnya.
"Mohon maaf atas ketidaknyamananya. saya semaksimal mungkin berusaha profesional menjalani pekerjaan saya. silahkan bapak segera menandatanganinya," ucap Ayunda
__ADS_1
"Dan jangan lupa. selepas pekerjaanmu selesai.ingat tanggung jawabmu kembali ke kantin untuk membantu para pelayan," saut Adit
"Saya akan usahakan," jawab Ayunda tenang
Ayunda sengaja diam tak mau meladeni masalah biaya kosnya karena tak ingin masalahnya terus melebar. Sementara Dina yang mendengar kata kata Adit, seketika teringat peraturan kos yang dibuatnya.
"Adit, apa yang tadi kamu sebutkan itu adalah aturan kos yang aku buat?" tanya Dina
"Iya Mbak, nanti laporan harian kos harian akan aku kirimkan," jawab Adit
"Lalu Bu Dina ini apa hubungannya dengan kos Ragina?" tanya Dina
"Saya penghuni baru di Kos Ragina Bu," jawab Ayunda
"Mumpung dia kesini Mbak, sekalian tagih saja biaya bulananya wanita ini yang saat ini nunggak, sekelas pengacara Pak Handoko tapi gak bisa bayar kos. logikanya seharusnya duit sebesar itu mudah didapat baginya. iya kan?," saat Adit sinis
"Adit....gak boleh menjelekan orang seperti itu. sekarang kita sedang di rumah sakit, urusan kos aku tidak mau membicarakanya di rumah sakit. nanti saja setelah aku berkunjung kesana," jawab Dina
15 menit kemudian, Gara memutuskan menandatangani surat alih kuasa. Dalam hatinya, Gara merasa sangat berat jika harus melepaskan perusahaan yang di pimpinya. Namun Gara saat ini masih di rumah sakit sehingga tak bisa berbuat banyak.
"Baik Pak, terima kasih atas waktunya. saya permisi..." jawab Ayunda lalu pergi
Setelah kepergian Ayunda, Gara berjanji pada dirinya sendiri akan mengusut tuntas dibalik perpindahan keuasaan secara mendadak.
"Aku tidak akan hancur semudah itu paman, tunggu saja," batin Gara
+++++++++++++
Malam hari, Gara lebih banyak merenung setelah dirinya kehilangan perusahaan. Gara bingung dengan masa depannya keluarga kecilnya jika tak bekerja di perusahaan. Gara memang berkeinginan kuat menyelidiki kevalidtan data yang dimiliki Handoko.
Tapi nyatanya, Gara tentu membutuhkan biaya yang besar untuk bolak balik ke luar negeri, sewa penginapan di luar negeri hingga kebutuhan makan di luar negeri.
Sumber dana kehidupan keluarga kecil Gara mulai saat ini ditompang oleh pemasukan uang dari Kos Ragina. Andai saja Kos Ragina tidak ada, sudah dipastikan Gara dan Dina akan hidup miskin tanpa arah
"Bagaimana cara aku mengusut kasus ini. pasti perlu waktu tidak sebentar dan banyak biaya untuk ke luar negeri,' batin Gara
__ADS_1
Sementara Dina yang melihat Gara terus merenung mengingatkan dirinya terhadap kejadian perusahaan keluarganya bangkrut. Dina sangat memahami sekali apa yang dirasakan Gara saat ini. Bahkan, kasus kejadian perusahaan Dina lebih parah dibanding dengan Gara
"Abang yang sabar ya? pasti tuhan akan kasih rezeki yang lebih baik lagi kedepanya," ucap Dina
"Iya sayang, abang berusaha ikhlas dengan semua ini. suatu saat nanti, abang akan buktikan kalau kebenaran akan terungkap," jawab Gara
"Aku dulu juga pernah di posisi abang saat ini. aku memahami apa yang abang rasakan sekarang. aku harap abang tidak sepertiku dulu. yang hampir gila bertindak bodoh sering nekat mau bunuh diri. aku janji apapun yang terjadi kedepanya, aku tidak akan meninggalkan abang," saut Dina
Dina kemudian mengenggam erat tangan Gara untuk memberikan kekuatan dan dukungan.
"Aku sudah berjanji pada abang untuk tetap bersama abang apapun yang terjadi kedepanya. dan aku harap abang juga harus berjanji kepadaku, untuk tidak bertindak bodoh melampiaskan semua ini. abang tidak sendirian seperti aku dulu. jadi abang jangan sampai sepertiku," ucap Dina
Gara yang mendapatkan dukungan moral dari Dina meresponya dengan senyunan. Gara menjadi semakin yakin kalau Dina memang pasangan yang tepat untuknya. Walaupun
"Jika tidak ada kalian, tidak menutup kemungkinan abang bisa melakukan aksi yang lebih nekat darimu. dan lebih parahnya abang mungkin bisa jadi melampiaskanya ke dunia malam. tapi syukurlah, abang bersyukur karena abang masih punya kalian. kalian adalah alasan abang bisa berharap keindahan di masa depan," ucap Gara
Dina hanya terdiam saat Gara mengatakan kata kalian dalam penjelasanya. Namun Dina tetap berpikiran positif kalau kata kalian yang dimaksud Gara bisa merujuk ke dirinya dan keluarga Gara. Walaupun ada sepintas pikiran Dina kalau kata kalian bisa jadi merujuk ke dirinya dan salingkuhan Gara.
"Kamu kok melamun? mikirin apa?," tanya Gara
"Aku tidak memikirkan apa apa," jawab Dina
"Abang ini bukan si kecil Fia yang bisa kamu tipu. abang sangat mengenal dirimu. hampir setahun menikah ini, abang hafal arti sorot matamu dan arti gesturmu di segala sisi," ucap Gara
"Bang, sekarang sudah malam. sebaiknya abang tidur," jawab Dina alihkan perhatian
"Sini dulu, duduk di ranjang abang sini. abang mau ngomong sesuatu," ucap Gara
"Ini sudah malam Bang," jawab Dina
"Sebentar saja, beri saja abang waktu 10 detik mengatakan hal ini,"saut Gara
Dina menuruti Gara dengan duduk di ranjang Gara.
"Abang mau ngomong apa?" tanya Dina
__ADS_1
"Abang mencintai kalian, kalian adalah alasan abang bisa kuat menghadapi cobaan ini," jawab Gara sembari mengelus perut Dina