
Setelan berkonsultasi dengan psikiater, Gara mengajak Dina jalan jalan ke suatu tempat. Dalam perjalanan, Dina penasaran ingin tahu hasil pemeriksaan psikiater yang dirinya jalani. Semenjak keluar dari ruang psikiater, Gara tidak mengatakan apapun terkait hasil pemeriksaanya dan langsung mengajaknya jalan jalan. Tanpa berpikir panjang, Dina bertanya seputar hasil pemeriksaanya kepada Gara.
"Bang, tadi hasil pemeriksaanku gimana?" tanya Dina
"Normal, kamu hanya stress banyak pikiran saja kata psikiater," jawab Gara
"Tapi mengapa aku dikasih obat dan ada jadwal konsultasi lagi satu bulan kedepan?" tanya Dina
"Hanya vitamin dan obat pusing saja. dan psikiater suruh kamu datang lagi karena ingin lihat perlambanganmu," jawab Gara
"Abang serius aku hanya stress saja?" tanya Dina
"Iya serius, emang ada apa?" tanya balik Gara
"Aku tadi sampai nangis Mas pas diperiksa psikiater. tapi aku agak lega sama wejangan saran psikiaternya. tadi aku ditanya tanya dan dikasih tes, setelah itu aku ketiduran," jawab Dina
"Psikiater sarani kamu gimana?" tanya Gara
"Aku diberi saran agar terus mengingat kebaikan abang, dan yakin dengan abang. sekarang abang mau ajak aku kemana?" tanya Dina
"Nanti kamu tahu sendiri lah, abang penat mau refreshing sejenak bareng kamu," jawab Gara
15 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Gara sudah sampai di taman berbukit. Sesampainya di taman, raut wajah Dina gembira melihat indahnya taman yang dipilih Gara.
"Wah, abang ajak aku disini. tamanya indah, tapi sayang kita datangnya sore, jadi habis ini bunga bunga ini tak nampak dilihat karena hari sudah malam," ucap Dina
"Abang sengaja ajak kamu sore hari, abang ingin kita lihat matahari terbenam di bukit sana," jawab Gara
Dina menoleh ke arah bukit yang di tunjuk Gara.
"Boleh, tapi bukitnya tinggi sekali. itu tulisanya 120m. hampir setinggi monas. aku takutnya nggak kuat naik, aku gak pernah naik bukit" ucap Dina
"Bukitnya nggak curam, ada rute tangganya. kalau kamu nggak kuat bisa abang gendong," jawab Gara
"Tidak tidak, kali ini aku yakin pasti kuat naik," ucap Dina
"Ya sudah ayo, kita tanya punya waktu 30 menit keburu gelap," jawab Gara
20 menit kemudian, Gara dan Dina sudah sampai diatas bukit. Sesampainya diatas bukit Dina langsung terduduk karena lelah. Maklum, Dina tak pernah naik bukit sekalipun bukit yang di naiki Dina tidak curam dan beranak tangga. Sementara Gara sudah tidak di ragukan lagi staminanya. Berbagai gunung mulai dari semeru, bromo, rinjani, dan arjuna sudah pernah di taklukan.
__ADS_1
"Din, pemandanganya indah ya?" tanya Gara
"Iya bang, walaupun aku capek tapi lihat pemandangan dari atas bukit rasanya terbayarkan," jawab Dina
"Kamu tahu alasan abang ajak kamu kesini?" tanya Gara
"Abang ingin refreshing dan lihat pemandangan," jawab Dina.
"Itu alasan umum abang saja, alasan khususnya coba tebak," ucap Gara
Dina hanya menggelengkan kepalanya.
"Alasan abang mengajakmu kesini karena abang ingin mengungkapkan sesuatu yang penting," ucap Gara
Gara kemudian menunjuk sepasang suami istri bersama dua anak di seberangnya. Mereka sekeluarga ikut menikmati pemandangan matahari terbenam di bukit
"Kamu coba lihat mereka, mereka nampak bahagia. abang punya harapan bisa membina rumah tangga seperti mereka," ucap Gara
"Iya mereka nampak bahagia," jawab Dina
Tak lama kemudian, ponsel Gara berdering. Gara saat itu melihat notifikasi pesan dari nomer tak dikenal.
📩 "Mengapa kamu tidak datang? aku menunggumu, aku merindukan permainan ranjangmu," pesan nomer tak dikenal
"Din, ternyata orang yang semalam kirimi aku pesan tidak berhenti mengirimi aku pesan. sepertinya ini orang ini akan terus mengawasi abang," ucap Gara
"Abang coba ingat ingat lagi. jangan jangan itu orang masa lalu abang. pasti orangw itu ada kepentingan. abang coba bisa menemuinya," jawab Dina
"Jujur, semenjak kamu ciduk abang di hotel, abang sudah nggak pernah hubungan sama siapa pun, sebulan pasca kejadian itu, abang di keluarkan dari dunia model," saut Gara
"Bang, Ini maksudnya dia merindukan permainan ranjang apa ya Bang? apakah terkait hubungan suami istri?" tanya Dina
"Din, abang sungguh nggak tahu apa apa tentang orang ini, dulu abang pas masih bejat bejatnya abang pakai pengaman Din," jawab Gara
"Pengaman?" tanya Dina
"Iya, abang selalu memakai pengaman. maaf itu masa kelam abang," saut Gara
"Berarti kalau pakai pengaman nggak bisa hamil maksud abang? aku jadi penasaran mengapa masih aja ada wanita yang mau berhubungan intim dengan pria yang bukan suaminya," jawab Dina
__ADS_1
Gara hanya terdiam dan tersondir
"Mungkin aku lain waktu mau coba, aku akan coba mampir di klub dekat dekat sini. nanti coba tak cari pria yang berpengalaman," ucap Dina memancing
"Din, apa maksudmu? jangan macam macam Din, ingat !!! kamu istri abang," jawab Gara
Dina hanya tersenyum getir lalu mengatakan sesuatu.
"Bang, aku mau tanya sesuatu sama abang," ucap Dina
"Tanya saja," jawab Gara
"Melakukan hubungan intim itu rasanya bagaimana sih bang? karena setiap laki laki berselingkuh kebanyakan selalu atas dasar nafsu," saut Dina
Gara hanya terdiam
"Abang nyaman nggak selama separuh bulan ini bersamaku? abang kan laki laki normal, abang apa betah nggak ngelakuin hubungan intim? abang pernah bilang kan kalau sebab abang berselingkuh dulu karena abang laki laki normal yang harus melakukan penuntasan," ucap Dina
"Din, itu karena abang bodoh Din, itu hanya masa lalu abang," jawab Gara
"Aku tahu abang pasti nggak nyaman sama wanita nggak normal sepertiku. wanita yang takut melihat abang telanjang. sekarang aku ingin abang tidak usah merasa bersalah. aku sudah memaafkan abang. abang tidak sepenuhnya salah, aku juga bersalah di masa lalu itu," ucap Dina
"Kamu tidak bersalah, jangan menyalahkan dirimu, siapa yang bilang kamu nggak normal? trauma kamu perlahan akan hilang," jawab Gara
"Bang, jika wanita di ponsel itu bisa melayani kebutuhan biologis abang, aku akan lepas. abang bisa meninggalkanku dan kejar mimpi abang untuk bahagia seperti mereka. terima kasih untuk semuanya," ucap Dina
Dina kemudian pergi berlari meninggalkan Gara menuruni bukit sendiri. Sementara Gara sontak langsung ikut mengejar Dina yang tiba tiba meninggalkanya. Gara panik saat Dina tiba tiba berlari meninggalkanya. Beruntung stamina Dina sudah terkuras saat naik bukit membuat Gara bisa dengan mudah menangkap Dina
"Mau kemana? mengapa tiba tiba berlari ninggalin abang," tanya Gara panik
Dina hanya diam tidak menjawab
"Jangan lakukan hal konyol ini lagi, kamu salah jika abang tak nyaman denganmu. sudah berapa kali abang bilang kalau abang mencintaimu, abang nyaman bersamamu," ucap Gara
Tanpa berpikir panjang, Gara kemudian menuntun Dina menuruni bukit. Namun ditengah perjalanan, Gara menyuruh Dina naik ke punggungnya.
"Naiklah, abang gendong," ucap Gara
"Tidak, aku masih kuat," jawab Dina
__ADS_1
"Kamu nggak takut nanti ada burung hantu disini? jika semakin malam kamu tak turun turun akan ada burung hantu di pinggiran sana," jawab Gara
Dina yang takut burung hantu mau tidak mau menerima tawaran Gara.