
Gara yang panik dengan keadaan Fia saat itu berlari menuju ruang kamarnya. Sesampainya di ruang kamar, Gara langsung mengecek kaki Fia yang luka karena jatuh
"Ya tuhan, kok bisa begini sih, pasti sakit ini," ucap Gara pelan
Gara saat itu meraba pelan pelan perban yang menempel di kaki Fia. Sementata Dina yang berada di belakang Gara langsung mengutarakan pendapatnya terkait penyebab Fia terjatuh.
"Bang, terkait kecelakaan yang menimpa Fia, kejadianya itu....." ucap Dina terpotong
"Sudahlah, nggak usah dibahas. kita fokus ke Fia dulu saja yang penting," jawab Gara
"Bik Sri sudah 25 tahun lebih menjadi bagian dari keluargaku. jadi aku yakin sekali kalau Bik Sri tidak mungkin dusta dalam ucapanya," ucap Dina
"Sama aja, abang juga sudah puluhan tahun bersama bibi, abang juga percaya sama bibi. jadi untuk menengahi kejadian ini, cukup masalah ini jangan di perbesar. abang yakin ini hanya kesalahpahaman saja," jawab Gara
"Tapi firasatku nggak enak sama bibi. aku takut Bang, bahkan tadi pas bibi berdebat sama Bik Sri, pertama kalinya dalam hidup aku mendengar ucapan kotor dari bibi," ucap Dina
"Orang emosi itu wajar, abang juga kalau kelepasan suka ngomong kotor. tapi kamu tenang saja, abang tidak akan kelepasan berkata kotor jika bersamamu. jadi tidak perlu di takutkan," jawab Gara
Dina akhirnya hanya bisa patuh dengan Gara dan tidak akan lagi mengungkit perseteruan Bik Sri dan Bu Hanum.
__ADS_1
++++++++++++
Tengah malam, Gara tiba tiba terbangun dari tidurnya karena kebelet buang air kecil. Namun saat terbangun. Gara melihat tangan Fia ada di dadanya. Tak ingin, Fia terbangun Gara berusaha sepelan mungkin beranjak dari tempat tidur. Selain tak ingin Fia terbangun, Gara juga tak ingin Dina terbangun juga karena pergerakan turun di tempat tidur.
"Pelan....pelan...jangan sampai mereka terbangun," batin Gara
Beberapa detik kemudian, Gara berhasil beranjak di tempat tidur. Setelah beranjak dari tempat tidur, Gara langsung bergegas pergi ke kamar mandi.
"Huh, aku harus cepat ke kamar mandi sebelum terkencing disini," batin Gara
Di dalam kamar mandi, Gara yang sudah tak tahan mau kencing langsung membuka celananya dan kencing ke arah kloset. Namun tanpa Gara sadari, suara pancuran dirinya kencing ke lubang kloset membuat Dina terbangun.
"Oh, Bang Gara lagi di kamar mandi," ucap Dina pelan
"Siapa diluar?" tanya Dina
Dina saat itu keluar dari kamarnya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat pemandangan di sekelilingnya. Awalnya Dina merasa tidak ada apa apa di luar. Namun fokusnya teralihkan ketika melihat pohon bergoyang di belakang gedung.
"Mengapa pohon itu bergoyang? ada apa di pohon belakang gedung?" tanya Dina
__ADS_1
Dina sebenarnya merasa takut dengan sesuatu yang ada dibalik pohon. Namun karena rasa ingin tahunya lebih kuat daripada kekutanya membuat Dina menghampiri pohon yang bergoyang. Pelan pelan Dina melangkahkan kakinya ke arah pohon. Tapi belum saja sampai bilik pohon, Dina dikejutkan dengan Bu Hanim yang keluar dari bilik pohon dan menghampiri.
"Eh Nak Dina, kamu malam malam kok keluar? ada apa?" tanya Bu Hanim
"Maaf Bi, apa yang bibi lakukan dibalik pohon tadi? aku kesini karena lihat dari depan kamarku pohon ini bergoyang," jawab Dina
"Oalah, maaf ya Din, bibi benar benar nggak niat ganggu tidur kamu. tadi itu bibi melempari pohon ini dengan batu biar mangga di pohon jatuh," saut Bu Hanim
"Emang berbuah bi? kata Bang Gara pohon mangga ini belum musimnya berbuah pas aku dulu ngidam mangga muda," jawab Dina
"Ada mangga muda satu Din, rencananya besok bibi mau buatin kamu rujak. sebaiknya kamu kembali sana karena suamimu pasti Nyariin," saut Bu Hanim
"Buahnya sudah jatuh bi?" tanya Dina
"Belum lah, makanya ini bibi masih lempar pakai batu," jawab Bu Hanim
"Di gudang ada gantar bi, aku ambilkan ya?"tanya Dina
"Tidak tidak, sebaiknya kamu kembali saja ke kamarmu," jawab Bu Hanim panik
__ADS_1
"Baik bi," saut Dina curiga
Dina kemudian pergi meninggalkan Bu Hanum dan kembali ke kamarnya