
1 jam kemudian Gara dan Dina sudah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Dina saat itu sudah tertidur terlebih dahulu. Berbeda dengan Gara yang matanya belum bisa terpejam. Kejadian malam panasnya dengan Dina terus terngiang di otaknya. Selama ini Gara tidak pernah menggunakan perasaanya saat menjamah wanita. Dan khusus di malam ini, Gara baru merasakan rasa yang sangat bahagia ketika perasaan dan nafsunya menyatu jadi satu
"Aku tidak pernah sebahagia ini saat menjamah wanita. aku bahagia bisa menjamah wanita yang aku cintai. walaupun sebentar, aku tetap bahagia karena aku akhirnya bisa melakukanya dengan istriku. aku tidak menyangka bisa kembali hidup bersama Dina. yah Dina istriku, wanita di masa lalu yang pernah menangis karena aku sakiti. istriku adalah wanita istimewa. andaikan aku bisa lebih sabar di masa lalu, pasti aku bisa menjadi pria pertama untuk istriku" batin Gara
Tak lama kemudian, Gara menatap wajah damai Dina yang sedang tertidur. Gara saat ini sangat takut akan karma yang menimpanya. Di masa lalu, secara tak langsung Gara adalah pebinor dari hubungan Gara dan Dina. Ucapan Luqman yang ingin merebut Dina darinya sungguh membuat Gara frustrasi.
Gara percaya karma? jawabanya adalah iya
Gara mengingat kabar hubungan Fabian dan Vera yang sudah tidak harmonis. Padahal saat menikah, Gara melihat Fabian dan Vera nampak harmonis. Gara menduga karma memang nyata menimpa Fabian dan Vera karena di masa lalu mereka menyakiti Dina.
Saat ini, hubungan Dina dan Gara terlihat mulai harmonis. Gara takut hubunganya yang nampak harmonis, berubah 180 derajat karena karma yang akan datang.
"Bagaimana jika karma itu datang menimpaku. aku secara nggak langsung jadi pebinor hubungan Selly dan Luqman di masa lalu. apalagi saat ini banyak pria yang ingin kembali dengan Dina. aku tahu kalau semua itu takdir, tapi mengapa aku segelisah ini? aku takut kehilangan istriku," batin Gara
Tak lama kemudian, Gara turun dari tempat tidurnya untuk menyegarkan pikiranya di balkon. Saat di balkon, Gara melihat fokus ada dua titik bintang yang bersinar terang dan redup.
"Apakah itu aku dan Dina?" batin Gara
15 menit kemudian, Gara kembali lagi ke kamarnya karena matanya sudah mengantuk. Namun sesampainya di kamar, Gara melihat ponsel Dina berdering karena ada pesan. Gara penasaran dengan pengirim pesan di ponsel Dina. Tanpa berpikir panjang, Gara membuka isi pesan di ponsel Dina.
Isi pesan berasal dari nomer tak dikenal yang mengejutkan Gara.
📩 "Hati hati dengan suamimu. sebaiknya cepat pisah dari suamimu. suamimu adalah pemain wanita yang sering datang di bar. bahkan ada salah satu wanita bersuami yang dijamah oleh suamimu. suamimu telah merebut istri orang sekaligus menghancurkan rumah tangga orang. berpisahlah.....jika kamu butuh aku, aku siap membantumu,"
"Siapa dia? apakah Luqman? kurang ajar," ucap Gara
Gara saat itu berpura para jadi Dina untuk memancing orang yang di duganya Luqman.
📩"Kamu siapa? aku tak percaya denganmu," balas ponsel Dina
📩 "(nomer tak dikenal itu mengirimkan foto vulgarnya dan video singkat adegan ranjangnya dengan Selly)
__ADS_1
Gara yang melihat isi pesananya sangat terkejut. Gara tidak menyangka ada orang selicik itu padanya. Tanpa berpikir panjang, Gara menghapus foto dan video tersebut serta memblokir nomer tak dikenal itu
Gara memang bertekad selalu terbuka kepada Dina. Tetapi untuk hal vulgar yang ada barusan, Gara sengaja sembunyikan karena pasti membuat hubunganya dengan Dina renggang.
"Sebaiknya aku melacak dulu siapa orang yang kirimkan pesan ini, Dina jangan tahu dulu untuk hal ini," batin Gara
++++++++++++++++++
Esok hari, Gara dan Dina sarapan bersama di meja makan. Di sela sarapan, Gara melihat Dina sangat aktif menyuapi Fia makan. Dari cara Dinas menyuapi Fia makan terlihat sekali kalau Dina memang penyanyang. Gara saat itu cukup lama memandangi Dina hingga akhirnya Dina menyadari Gara menatapnya.
"Bang, kok mmenataku terus? abang nggak makan? mau aku suapi juga kaya si Fia?" tanya Dina
Gara hanya mengangguk
"Baik tunggu ya, gantian sama Fia," jawab Dina
Dina kemudian menyuapi Fia dan Gara bergantian. Fia yang melihat Dina menyuapi Gara tertawa.
Fia yang masih 3 tahun saat itu hanya tertawa dan hal itu membuat Dina ikut tertawa. Sementara Gara yang melihat interaksi Dina dan Fia hanya tersenyum saja.
"Bang, masalah kemarin abang bilanh Fia anak Mas Luqman, aku tadi sudah chat Mas Luqman Mas," ucap Dina
"Terus kamu serahkan anak ini ke Luqman?" tanya Gara
"Mas Luqman hari ini ingin ketemu dengan Fia, sebenarnya ingin ketemu aku di kantin, tapi karena tidak memungkinkan jadi Mas Luqman akan ke rumah jam 10 nanti," jawab Dina.
"Lalu anak ini kamu serahkan atau bagaimana?" tanya Gara
"Nanti aku bicarakan masalah itu, abang nggak perlu khawatir. nanti masalah Fia tinggal dimana, aku terserah dan mengikuti keputusanya Mas Luqman saja, lagipula aku nggak ada hak memaksakan kehendaku bisa merawat Fia," jawab Dina.
Dina kemudian menetaskan air matanya lalu segera mengusapnya.
__ADS_1
"Kamu sedih?" tanya Gara
"Nggak Bang, aku nggak apa apa. aku hanya berharap Fia jadi anak yang sholehah dan berbakti pada ayah dan ibunya," jawab Dina
Dina yang tak ingin terlihat sedih seketika mengalihkan perhatian Gara.
"Ayo bang, tinggal beberapa suap lagi. abang makanya cepet, jadi abang duluan aja. karena abang juga akan berangkat kerja. setelah abang selesai makan, aku akan lanjutkan suapi Fia," ucap Dina
Gara saat itu merasa terlalu egois ingin disuapi Dina. Gara sadar kalau Dina belum sesuap pun memakan makannya. Tanpa berpikir panjang, Gara langsung ingin kembali makan sendiri.
"Sebaliknya abang makan sendiri aja, kamu harus makan juga. jangan sampai telat makan," jawab Gara
"Aku di rumah nganggur Bang, aku bisa makan kapan saja. ini aku sudah terlanjur suapi abang. ayo buka mulutnya bang," ucap Dina
"Tapi kamu harus makan, abang nggak mau kamu sakit," jawab Gara
"Iya abang tenang saja," saut Dina
Setelah sarapan Gara saat itu berpamitan berangkat kerja pada Dina.
"Abang berangkat kerja ya, terima kasih kamu sudah melayani abang dengan baik. abang izinkan kamu bertemu dengan Luqman, tapi abang nggak izinkan kamu mengobrol di dalam rumah. harus di teras. teras rumah ini sudah luas dan teduh," ucap Gara
"Kalau di ruang tamu bagaimana Bang? rasanya tidak sopan membiarkan tamu diluar rumah. Mas Luqman hanya ingin ketemu Fia saja. lagian di rumah ini ada cctv," jawab Dina
"Kalau tamu laki laki cukup di teras saja. abang tidak izinkan tamu laki laki jika nggak ada abang bisa masuk rumah. abang juga nggak ingin kamu diajak keluar dengan laki laki. abang harap kamu mengerti," jawab Gara
"Iya aku mengerti," ucap Dina
"Abang berangkat," jawab Gara
"Iya, abang hati hati di jalan," saut Dina
__ADS_1