
1 jam kemudian, Gara dan Dina sudah sampai rumah. Sesampainya di rumah, Gara menceritakan pertikaianya yang terjadi dengan Luqman dan Selly. Dina sangat terkejut mengetahui fakta kalau Luqman dan Selly adalah mantan pasangan suami istri. Dan parahnya, kejadian dimana Dina memergoki Gara selingkuh adalah kehancuran dari hubungan Selly dan Luqman.
"Dina, abang benar benar tidak tahu di masa lalu itu Selly adalah istri Luqman. abang dulu awal mengenal Selly dari klub. dulu masa masa abang masih berada di lingkungan buruk. abang pernah memanfaatkan jasanya untuk memuaskan abang. abang membayarnya dan abang selalu memakai pengaman. apakah menurutmu abang perebut istri orang," ucap Gara
"Apapun alasan abang, yang abang lalukan di masa lalu aku tidak bisa membenarkan. semua itu salah. yang harus abang pikirkan sekarang adalah bagaimana abang saat ini terus lurus berada di jalan kebaikan," jawab Dina
Gara saat itu langsung memeluk Dina dengan erat karena terharu. Gara merasa Dina adalah sosok bidadari yang suci yang belum terjamah. Sangat bertolak belakang dengan Gara yang dulunya playboy. Satu hal masa depan yang ditakuti Gara saat ini adalah kehilangan Dina.
"Din, abang takut kehilanganmu. Luqman berambisi merebutmu dari abang. abang sangat takut kamu akan luluh dengan Luqman," ucap Gara
"Aku mana mungkin bisa meninggalkan abang. kecuali kalau abang sendiri yang ingin meninggalkanku. bagiku selama apa yang saatw ini aku lihat baik ya tidak masalah," jawab Dina
Gara kemudian melepaskan pelukanya lalu menggenggam tangannya kanan Dina
"Din, berjanjilah pada abang kalau kamu tak akan meninggalkan abang," saut Gara
"Mengapa abang sepertinya takut sekali?" tanya Dina
"Abang takut Luqman bisa menjatuhkan abang dengan kisah buruk masa lalu abang,nama perusahaan bisa hancur. dan kamu bisa saja meninggalkan abang jika abang tidak punya apa apa untuk menafkahi dirimu," saat Gara
"Semoga saja ya Bang, yang pasti aku tidak ada niatan meninggalkan abang. namun kita berdua harus menyadari ada satu hal yang membuat kita terpaksa meninggalkan satu sama lain. ada satu hal yang membuatku terpaksa meninggalkan abang," jawab Dina
"Apa itu? cepat katakan, apa satu hal yang membuatmu bisa meninggalkan abang? abang tidak akan membiarkan itu terjadi. kamu mau abang seperti apa abang kabulkan," tanya Gara
Dina hanya tersenyum melihat Gara
"Mengapa kamu senyum senyum? kamu ingin meninggalkan abang? kamu marah sama abang? katakan apa yang ganjal di hatimu. jangan buat abang panik," tanya Gara
"Bang, satu hal yang terpaksa membuatku meninggalkan abang adalah ketika maut datang menjemputku, kita harus sadar jika rezeki, jodoh dan maut itu ditangan tuhann," jawab Dina
"Kalau gitu abang juga sama sepertimu," ucap Gara
Gara kemudian memeluk Dina dengan erat. Dina yang merasakan pelukan Gara terlalu erat, tak sengaja tanganya menyentuh benda keramat yang menjadi senjata kaum adam menghamili kaum hawa.
"Ah..." desah Gara
"Eh, maaf Bang. aku sungguh tak sengaja," jawab Dina
"Nggak apa apa, kamu istri abang, kamu berhak atas apa yang abang miliki," saut Gara
"Bang, kapan terakhir abang menjalani hubungan intim terlarang itu?" tanya Dina
"Satu hari setelah kamu pergoki abang selingkuh. setelah selingkuh sehari besoknya masih main karena pelampiasan abang nggak terima kamu putusin. abang dulu bodoh banget ya, abang benar benar menyesal.. " jawab Gara menetaskan air mata
Dina yang melihat air mata Gara menetes langsung
__ADS_1
"Mengapa air mataya keluar? abang laki laki gak boleh nangis," tanya Dina
"Abang selalu merasa diri abang terlalu kotor untukmu Din," jawab Gara
"Nggak Bang, jangan bicara gitu. abang sudah berubah. aku sudah memaafkan masa lalu abang. aku hari ini melayani abang. aku tidak ingin abang terus menahanya," ucap Dina
"Nggak sayang, abang takut membahayakanmu," jawab Gara
"Kakiku sudah nggak apa apa Bang, tadi aku sempat tanya sama suster rumah sudah boleh. makanya aku kasih tahu abang sekarang,. aku sempat baca goggle juga, jika melihat kondisiku saat ini aman saja," ucap Dina
Tak lama kemudian, Dina menyuruh Gara melepaskan pakaianya.
"Lepaskan pakaianku Bang, lakukan saja," ucap Dina
"Din,kamu serius dengan apa yang kamu lakukan?" tanya Gara
"Serius, asal abang pelan pelan, jangan memberikan beban berlebih pada kakiku yang baru pulih, dan abang saja yang aktif" jawab Dina
"Baiklah, abang mulai ya, bismillah..." saut Gara
Gara kemudian menanggalkan pakaian Dina lalu berlanjut menananggalkan pakaianya. Setelah keadaan sudah tanpa sehelai benang. Gara mulai mengajak Dina pemanaasan dengan permainan ciuman bibir.
"Sayang, jangan canggung. gerakan semua mulutmu," ucap Gara
Dina saat itu mengikuti tuntunan Gara saat bermain mulut. Setelah puas di mulut, Gara mulai membuat Dina mendesah dengan membuat tanda di tubuh Dina. Lalu puncaknya Gara mulai membasahi lembah Dina lalu menyentuhkan senjatanya.ke lembah Dina.
"Bang, apakah muat? apakah ini sakit?" tanya Dina
"Muat sayang, abang akan pelan pelan ya, sakitnya sebentar," jawab Gara
Gara kemudian mulai memasukan senjatanya kedalam lembah Dina. Awalnya Gara merasa kesusahan menembus lembah Dina karena faktor Dina masih perawan.
"Uh, sempit sekali, abang harus berjuang untuk bisa masuk," ucap Gara
"Bang, apakah aku tidak normal?" tanya Dina
"Nggak sayang, ini artinya kamu sangat istimewa," jawab Gara
"Bang, aku pasrah ikut abang saja," ucap Dina
"Iya sayang, abang tuntun kamu ya," jawab Gara
Gara saat itu terus berusaha terus memasukan senjatanya. Hingga beberapa kali percobaan, akhirnya seperempat senjata Gara berhasil menembus keperawanan Dina.
"Aaaaah...." teriak Dina kesakitan
__ADS_1
Gara saat itu langsung mencium mata Dina yang terpejam karena sakit. Ada rasa bersalah Gara membuat Dina kesakitan. Berkali kali kata maaf terus terucap di mulut Gara.
"Maaf sayang, rileks saja. tenanglah, atur nafas pelan pelan. lampiaskan sakitmu ke abang ya? kamu bisa cakar atau jambak saja abang ya? sakitnya akan hilang," jawab Gara
"Bang, apakah sudah selesai?," jawab Dina
"Tenang, rileks ya jangan tegang," saut Gara
Gara kemudian pelan pelan memasukan senjatanya hingga menancap sempurna. Ketika menancap sempurna, Gara merasakan sensasi luar biasa yang tak pernah dirasakan selama ini. Senjata Gara sepert di pijat dalam.
"Aaahhh.....luar biasa....tahan terus sayang, ahhh... kempit terus punya abang. abang suka. aaahh...abang pelan pelan gerakin ya." ucap Gara
"Bang, ini sakit," jawab Dina.
"Iya sayang, sabar ya, abang diam dulu nggak gerak. rasakan hangatnya," ucap Gara
Dina saat itu menjambak rambut Gara karena merasakan rasa sakit tapi memggairahkan
"Abang gerak ya, ah, ah, ah..." ucapan Gara
"Ah....aku mau pipis," jawab Dina
"Gak apa apa sayang, keluarkan saja," saut Gara
"Ini jorok Bang, nanti punya abang kena pipisnya," jawab Dina
"Nggak sayang, abang nggak peduli. terus keluarkan apa yang ingin kamu keluarkan," saut Gara
Dina kemudian mengeluarkan apa yang dirasakan. Sementara Gara semakin terpacu semangat menikmati aksinya malam ini. Gara terus saja menggentak dengan kecepatan sedang supaya tidak membahayakan Dina.
"Sayang, masih sakit?" tanya Gara
"Mulai mendingan, kapan selesainya Bang?" jawab Dina
"Sebentar lagi keluar," saut Gara
"Maaf Bang, aku lelah," jawab Dina
"Gak apa apa, kamu rileks diam saja ya, abang mau tuntas ini," saut Gara
Beberapa menit kemudian, Gara akhirnya mampu menuntaskan hasratnya.
"Aaaaaarhh...." erang Gara
Gara saat itu menumpahkan semua lahar putihnya di lembah Dina. Gara benar benar sangat menikmati permainanya. Walaupun sudah menuntaskan hasratnya, Gara masih saja mempertahankan senjatanya menancap di lembah Dina.
__ADS_1
"Terima kasih Istriku," jawab Gara
.