MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 90 - WANITA NGIDAM


__ADS_3

20 menit kemudian, Gara mulai bersiap mengeluarkan mobil dari garasi. Namun, langkah Gara terhambat karena Dina tiba tiba datang ingin naik motor


"Bang, aku mau naik motor. nggak mau pakai mobil," ucap Dina


"Tapi diluar dingin. kalau hujan nanti gimana? kalau ada begal nanti gimana? kamu nggak takut?" tanya Gara


"Kan ada abang, mengapa aku harus takut. abang kan selalu bilang mau jadi pelindungku," jawab Dina


"Tapi kamu sedang hamil Dina, kamu masih hamil muda. abang nggak berani bawa kamu naik motor jika hamil begini. bulan depan pas periksa kita tanyakan dulu sama dokter," saut Gara


"Tapi aku ingin naik motor, pelan pelan saja nyetir motornya," jawab Dina


"Dina, abang tetap nggak mau, kalau kamu ngeyel terus, abang nggak jadi ajak kamu pergi cari sate padang," gertak Gara


Gara saat itu mengira Dina bakal menurutinya dengan sedikit menggertak. Namun diluar ekspetasi, Dina saat itu justru balik menantang Gara.


"Ya sudah nggak usah ikut antar. abang masuk ke dalam rumah aja sana. aku bisa berangkat sendiri," gertak Dina


Dina saat itu juga balik menggertak Gara. Dina berpikir pasti Gara mencegahnya karena tidak tega dengannya.


"Pasti abang nggak tega dan bakal mau turuti keinginanku," batin Dina


Dina terus menatap Gara yang masih terdiam. Dina pikir Gara akan pasrah menuruti keinginanya. Namun diluar dugaan, Gara justru malah beneran meninggalkan Dina.


"Ya sudah jika itu mau kamu, abang masuk," ucap Gara


Gara tentu saja tidak serius dengan ucapannya. Gara lagi lagi menggertak Dina supaya Dina menuruti perintahnya. Gara tahu jika Dina pasti takut malam malam naik motor. Jadi mustahil, Dina mau naik motor sendirian di malam hari. Dengan wajah pura pura kesal, Gara langsung masuk kedalam rumah.


"Pasti kamu akan merengek dan bakal bujuk aku," batin Gara


Gara saat itu mengamati Dina dari jendela ruang tamu


"Kita lihat saja nanti," batin Gara


Sementara di garasi, Dina saat itu kesal karena Gara ternyata serius dengan ucapanya. Dina tak ingin terus merengek seperti anak kecil minta pemen ke bapaknya. Tanpa berpikir panjang, Dina mengambil kunci motor di laci garasi. Setelah itu berjalan menuju motor beat miliknya yang lama tak dipakai.


"Motor beat ini sudah lama nggak aku pakai semenjak kakiku patah. hanya pelayan yang pakai motor ini untuk belanja," ucap Dina


Dina saat itu juga fokus melihat speedometer bensin masih penuh.

__ADS_1


"Bensinya masih penuh, mengendarai motor sendiri boleh kali ya. yang penting pelan dan nggak jauh jauh. mungkin saja di sekitaran kos ada sate padang dan jus buah naga. lagian Bang Gara serius sudah nggak mau antar aku cari sate padanv. jadi ya sudah aku juga bisa serius mau kendarai motor sendiri," ucap Dina


Tanpa berpikir panjang, pelan pelan Dina mengeluarkan motornya. Tak lupa Dina memakai helm saat berkendara.


"Ok, aku sudah siap, sekarang aku hidupkan motornya dulu," ucap Dina


"Ngrengg..." (suara Dina menghidupkan motornya)


"Helm ku karena lama tak dipakai,"


Baru beberapa detik motor dihidupkan, Dina yang hendak memakai helm terkejut melihat kedatangan Gara. Gara saat itu dengan raut wajah paniknya langsung mencabut kunci motor yang hendak digunakan Dina berkendara.


"Bang, kok di cabut kuncinya sih? aku kan sudah bersiap berangkat," ucap Dina


"Astaga Dina, mengapa kamu sangat nekat seperti ini?kamu mau abang jantungan?" tanya Gara


"Lagian abang yang mendadak tinggalin aku sendirian. terus apa salahnya jika aku berangkat sendiri? sekarang abang marah sama aku bilang aku nekat, aku hanya naik motor bukan bunuh diri," jawab Dina


"Maaf Dina, abang tadi menggertakmu saja biar kamu mengurungkan niatmu pergi pakai motor. abang bukanya malas mengantarmu pakai motor. tapi kamu hamil sekarang," ucap Gara


"Tapi nyatanya abang pergi meninggalkanku sendiri, kalau aku tuntun motornya sampai luar pagar mungkin abang nggak ngehampiri aku seperti ini," saut Dina


"Kaki abang kenapa?" tanya Dina


"Nggak ada apa apa, ayo kita berangkat saja pakai mobil," jawab Gara


"Dina nggak boleh tahu kalau jari kaki jempolku memar dan berdarah karena kebentur pagar pintu, dia pasti khawatir," batin Gara


Gara kemudian memasukan kembali motor Dina di garasi. Namun Dina yang penasaran dengan kaki Gara terus mencoba mencari tahu.


"Bang, kakinya kenapa?" tanya Dina


"Sudah malam Din, kita harus cepat cari sate padangnya," jawab Gara alihkan perhatian


"Tapi, aku tidak mau naik mobil, aku tetap mau pakai motor. aku juga mau tahu kondisi kaki abang," saut Dina


"Kita naik mobil saja ya? abang mohon," jawab Gara


"Nggak, aku tetap ingin naik motor. kan bisa pelan pelan jalanya. prediksi BMKG tidak hujan. jadi abang tak perlu khawatir," ucap Dina

__ADS_1


"BMKG kadang nggak akurat, kita naik mobil saja jaga jaga jika hujan turun," jawab Gara


"Nggak mau, aku mau naik motor," saut Dina


"Dasar wanita...wanita memang selalu benar," batin Gara


Melihat istrinya keras kepala, terpaksa Gara menuruti perintah Dina.


"Baiklah, cukup sekali ini saja abang kabulkan, tapi nanti harus pegangan dan gak boleh banyak tingkah," ucap Gara


"Siap Bang, kaki abang tapi nggak apa apa kan? abang belum jawab tadi," jawab Dina


"Luka kecil aja di jari jempol kaki, tapi nggak apa apa udah nggak sakit," saut Gara


"Kalau gitu aku yang bonceng abang saja. kaki abang luka soalnya. itu kaki abang ada darah pasti sakit," jawab Dina


"Abang nggak setuju, masa abang kamu bonceng?" tanya Gara


"Aku nggak pernah bonceng cowok loh? baru abang ini aku mau bonceng. abang nggak pemasaran? kalau aku penasaran pengin boncengin cowok," jawab Dina


Kata kata pertama di mulut Dina membuat Gara bahagia. Sebenarnya Gara takut membiarkan Dina mengendarai motor malam hari. Tapi karena Dina berjanji akan hati hati, Gara akhirnya menyetujuinya


"Baiklah, tapi kalau jalanan ramai, gantian abang bonceng," ucap Gara


"Baik Bang, aku ambil jaket dulu," jawab Dina


+++++++++++


Dalam perjalanan mencari penjual sate padang, Dina nampak tidak mood karena ujungnya Gara yang membonceng dirinya. Sebenarnya awalnya memang Dina yang bonceng, tapi baru sampai di belokan menuju jalan raya, Gara langsung mengambil alih.


Jadi, Dina tadi hanya mengendarai motor berjarak 500 meter dari rumahnya. Dina yang tidak mood saat itu memilih tidak berpegangan. Hal yang dilakukan Dina tentu membuat Gara bereaksi.


"Dina, ayo lingkaran tanganmu ke perut abang," ucap Gara


"Nggak bakal jatuh, kan jalanya pelan karena aku hamil," jawab Dina


"Dina, jangan bantah abang. ayo pegangan. cepat lingkarkan tanganmu buiar aman," ucap Gara


"Abang sangat membuatku tidak mood..." jawab Dina

__ADS_1


Dina akhirnya terpaksa berpegangan dengan meningkarkan tangannya ke perut Gara


__ADS_2