MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 74 - POSESIF YANG TAK BIASA


__ADS_3

Esok hari, Gara saat itu terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ponsel Dina berdering. Gara sontak saja mengecek isi pesan dari ponsel Dina. Namun saat Gara mengecek, Gara lagi lagi dikejutkan dengan kiriman foto dan video panas dirinya dari nomer tak dikenal.


Gara pikir tindakanya memblokir nomor tak dikenal kemarin sudah tidak lagi mendapat pesan yang tak senonoh. Tapi nyatanya ada nomer tak dikenal baru lagi yang mengirim pesan tak senonoh.


"Aku tidak bisa membiarkan Dina tahu ini, tidak bisa. ini akan buat Dina sakit hati ketika melihatnya. aku tidak mau Dina menangis lagi karena hal ini," batin Gara


Gara saat itu pergi ke kamar mandi lalu mencoba menelepon nomer orang yang dikenal itu. Tapi sayangnya nomer tak dikenal itu tak mengangkat teleponnya. Dengan kesal, Gara saat itu kembali memblokir nomer tak dikenal yang menerornya.


"Tidak bisa seperti ini terus. besok dan besoknya terus Dina pasti akan mendapat pesan tak senonoh ini lagi. aku harus bertindak, Dina gak boleh tahu ini," ucap Gara


Gara kemudian keluar dari kamar mandi menuju kamar. Saat di kamar, Gara melihat Dina sedang mengganti popok Fia yang bangun tidur. Gara saat itu hanya terus menatap Dina dan Fia hingga akhirnya Dina menyadarinya.


"Bang, sebaiknya abang mandi dulu. nanti pakaianya aku siapkan," ucap Dina


"Anak itu masih demam? kita bawa ke dokter aja kalau masih demam," jawab Gara


"Iya masih demam, abang sebaiknya fokus kerja saja di kantor. rencananya aku akan bawa Fia ke dokter bersama suster rumah," saut Dina


Setelah Dina memakaikan popok, Dina saat itu mencari ponselnya karena ingin pesan taksi.


"Loh, dimana ponselku?" tanya Dina


"Ini ponselmu," jawab Gara


"Eh, kok abang yang pegang? apa ada sesuatu?" saut Dina


"Tidak ada, abang akan belikan kamu ponsel baru setelah ini," jawab Gara


Gara kemudian memberikan ponsel yang dibawanya pada Dina


"Loh? buat apa? ini ponselku masih bisa digunakan," ucap Dina


"Abang tidak ingin dibantah. abang melarang keras kamu berkomunikasi dengan laki laki lain. termasuk ayah dari anak ini," jawab Gara


"Untuk apa abang lakukan ini? buat apa aku ganti ponsel? kalau abang ingin aku tak komunikasi dengan pria lain, abang cukup hapus saja nomer kontak laki laki di ponselku tanpa harus aku ganti ponsel," saut Dina


"Keputusan abang sudah bulat. abang juga akan mengeluarkan pria itu dari kos serta membatalkan kerja sama kemarin. karena pria itu toxic dalam hubungan kita," jawab Gara


"Tidak, aku tidak mau. abang berlebihan. abang terlalu mengekangku. mengapa abang jadi seperti ini?" tanya Dina


"Dina, abang ingin menjaga keutuhan rumah tangga kita. abang harap kamu mengerti. sekarang banyak orang yang ingin menjatuhkan rumah tangga kita. termasuk ayah dari anak ini," jawab Gara


"Pokoknya aku tidak mau, untuk abang sendiri aja ponselnya, aku tidak mau. aku mau ke dapur bentar buat makanan untuk Fia" saut Dina kesal


Gara saat itu mulai terpancing ketika Dina kukuh menolak. Tanpa berpikir panjang Gara mengambil alih ponsel Dina lalu mengatakan sesuatu.


"Sekarang ponsel kamu abang bawa. abang tetap akan ganti ponselmu," ucap Gara tegas

__ADS_1


"Ada apa dengan Bang Gara? mengapa abang seposesif ini?" batin Dina


+++++++++++++


Sore hari, Gara menepati janjinya membelikan Dina ponsel baru. Dina yang masih kesal hanya diam saja karena tak tertarik dengan ponsel baru dari Gara Dina masih ingin menggunakan ponsel lamanya karena banyak kenangan di ponsel itu.


"Ini ponsel barumu, abang sudah pindahkan fotomu dan orangtuamu diponsel baru ini. jadi jangan khawatir abang akan menghapusnya," ucap Gara


"Terma kasih," jawab Dina singkat


"Kamu tak suka?" tanya Gara


"Aku hanya berpikir mengapa hanya karena masalah sepele seperti ini aku harus disuruh ganti ponsel. tanpa ganti ponsel pun tak masalah sebenarnya," jawab Dina


"Bagi abang tidak ada yang sepele jika menyangkut masa depan rumah tangga kita. abang tidak mau rumah tangga kita goyah karena adanya pihak yang ingin hancurkan rumah tangga kita," saut Gara


Gara kemudian menyenderkan kepalanya di paha Dina. Gara merasa sangat letih setelah hampir 12 jam bekerja di kantor. Sementara Dina yang melihat wajah letih Gara langsung berinisiatif menyiapkan air hangat untuk Gara mandi.


"Bang, aku akan siapkan air hangat untuk abang mandi," ucap Dina


"Kamu sudah mandi?" tanya Gara


"Belum, tadi aku baru saja membuatkan bubur untuk Fia," jawab Dina


"Anak itu sekarang dimana?" tanya Gara


"Abang mau mandi bareng sama kamu, abang sedang kangen," ucap Gara


Gara saat itu memberi kode dengan memegangi celananya. Sementara Dina yang paham kode dari Gara hanya bisa pasrah menyetujuinya.


"Abang ingin melakukan hal itu lagi," ucap Dina


Gara menatap Dina dan mengangguk


"Tapi kemarin bukanya susah dimasukin?" tanya Dina ragu


"Itu karena kamu masih perawan sayang. mungkin sekarang rasanya tak akan sesakit kemarin," jawab Gara


Gara kemudian melepaskan kemejanya lalu mulai mengajak Dina berciuman sebagai pemanasan. Setelah puas berciuman, Gara melepaskan celananya dan menuntun Dina melepaskan semua pakaianya. Sehingga mereka berdua saat ini sudah keadaan tanpa sehelai benang.


"Sayang, abang mulai ya," ucap Gara


Gara saat itu mulai memancing Dina agar lembah Dina basah. Setelah lembah Dina basah, Gara memulai aksinya memasukan pusakanya ke lembah Dina.


"Aaah...," desah Dina


"Masih sakit?" tanya Gara

__ADS_1


"Iya, tapi tidak sesakit kemarin," ucap Dina


"Kamu akan terbiasa sayang, abang sudah masuk semua ini, ini rasanya nikmat sekali," ucap Gara


Gara saat itu merasakan sensasi sempitnya lembah dari Dina. Tanpa menunggu lama, Gara mulai menghentak hentakan pinggulnya dan mengerang keenakan.


"Aaargh....." erang Gara


Sama halnya dengan Gara, Dina saat itu juga merasakan sensasi aktivitas panasnya. ******* Dina saat itu terdengar seksi di telinga Gara.


"Aaaah..." desah Dina


"Terus mendesah sayang, jangan ditahan," ucap Gara


Gara saat itu semakin bersemangat ketika melihat Dina mendesah. Dina yang terhanyut dalam permainan sudah mencapai klimaksnya. Hal itu tentu Gara semakin bergairah dan mempercepat aksinya


""Aaah...Aahh..Ahhh..." desah Gara


"Bang, jangan cepat cepat," ucap Dina


"Iya sayang, maaf abang terlalu bersenangat," jawab Gara


Tak lama kemudian, Gara sudah tak kuasa menahan sesuatu yang akan keluar dari pusakanya. Hingga beberapa menit kemudian, pusaka Gara mengeluarkan banyak cairan putih di rahim Dina.


"Aaaarh..." erang Gara


Gara kemudian menciumi wajah Dina setelah melakukan pelepasan. Sementara Dina yang merasa kelelahan hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Gara.


"Kamu lelah?" tanya Gara


"Aku rasanya seperti berolahraga," jawab Dina


"Kita memang berolah raga sayang," saut Gara


"Bang, apa kita harus seperti ini terus sampai aku hamil? jika aku tidak hamil gimana? abang meninggalkanku?" tanya Dina


"Sayang, abang memang ingin kamu hamil. tapi bukan berarti abang melakukan ini hanya karena ingin kamu hamil. urusan kamu hamil itu sudah tuhan yang atur rezeki kita. abang melakukan hal intim ini padamu karena abang cinta sama kamu. abang ingin pondasi rumah tangga kita kuat dengan melakukan hal intim seperti sekarang ini," jawab Gara


Gara kemudian kembali menciumi wajah Dina lalu mengatakan sesuatu.


"Sayang, abang ingin melakukan lagi, ini mumpung belum abang cabut, abang mau lanjut boleh?" tanya Gara


"Abang nggak lelah? abang habis pulang kerja langsung melakukan ini. badan aku dan abang sama sama bau asem belum mandi," jawab Dina


"Asem asem gini kamu candu kan sama abang? bahasa tubuhmu tak bisa membohongi abang," saut Gara


Gara kemudian melakukan aksinya lagi hingga membuat Dina tepar sore hari ini.

__ADS_1


__ADS_2